Second Base

Second Base
View Gallery
8 Photos
Second Base

Destinasi kali ini masih berada di Kabupaten Berau, tepatnya di Kecamatan Biduk-Biduk, Kalimantan Timur, dan dapat dicapai dengan perjalanan darat selama delapan jam dari Bandar Udara Berau. Sayangnya, letaknya yang berbeda arah dengan Kepulauan Derawan membuat wilayah ini kerap terlewati oleh para wisatawan.

Second Base

Destinasi kali ini masih berada di Kabupaten Berau, tepatnya di Kecamatan Biduk-Biduk, Kalimantan Timur, dan dapat dicapai dengan perjalanan darat selama delapan jam dari Bandar Udara Berau. Sayangnya, letaknya yang berbeda arah dengan Kepulauan Derawan membuat wilayah ini kerap terlewati oleh para wisatawan.

Second Base

Destinasi kali ini masih berada di Kabupaten Berau, tepatnya di Kecamatan Biduk-Biduk, Kalimantan Timur, dan dapat dicapai dengan perjalanan darat selama delapan jam dari Bandar Udara Berau. Sayangnya, letaknya yang berbeda arah dengan Kepulauan Derawan membuat wilayah ini kerap terlewati oleh para wisatawan.

Second Base

Destinasi kali ini masih berada di Kabupaten Berau, tepatnya di Kecamatan Biduk-Biduk, Kalimantan Timur, dan dapat dicapai dengan perjalanan darat selama delapan jam dari Bandar Udara Berau. Sayangnya, letaknya yang berbeda arah dengan Kepulauan Derawan membuat wilayah ini kerap terlewati oleh para wisatawan.

Second Base

Destinasi kali ini masih berada di Kabupaten Berau, tepatnya di Kecamatan Biduk-Biduk, Kalimantan Timur, dan dapat dicapai dengan perjalanan darat selama delapan jam dari Bandar Udara Berau. Sayangnya, letaknya yang berbeda arah dengan Kepulauan Derawan membuat wilayah ini kerap terlewati oleh para wisatawan.

Second Base

Destinasi kali ini masih berada di Kabupaten Berau, tepatnya di Kecamatan Biduk-Biduk, Kalimantan Timur, dan dapat dicapai dengan perjalanan darat selama delapan jam dari Bandar Udara Berau. Sayangnya, letaknya yang berbeda arah dengan Kepulauan Derawan membuat wilayah ini kerap terlewati oleh para wisatawan.

Second Base

Destinasi kali ini masih berada di Kabupaten Berau, tepatnya di Kecamatan Biduk-Biduk, Kalimantan Timur, dan dapat dicapai dengan perjalanan darat selama delapan jam dari Bandar Udara Berau. Sayangnya, letaknya yang berbeda arah dengan Kepulauan Derawan membuat wilayah ini kerap terlewati oleh para wisatawan.

Second Base

Destinasi kali ini masih berada di Kabupaten Berau, tepatnya di Kecamatan Biduk-Biduk, Kalimantan Timur, dan dapat dicapai dengan perjalanan darat selama delapan jam dari Bandar Udara Berau. Sayangnya, letaknya yang berbeda arah dengan Kepulauan Derawan membuat wilayah ini kerap terlewati oleh para wisatawan.

Saya sudah lama tahu tentang keindahan dari Kalimantan Timur yang terkenal dengan kepulauan Derawan. Pulau Maratua yang memesona, keajaiban stingless jellyfish di Danau Kakaban, hingga kesempatan yang dapat dibilang tidak langka untuk berenang bersama penyu dan pari di pulau Sangalaki. Luar biasa, bukan? Tapi tunggu dulu, ternyata Kalimantan Timur masih memiliki pesona keindahan tersembunyi di ujung Timur lainnya.

Pernah mendengar tentang danau dua rasa dan bening laksana kaca?

Destinasi kali ini masih berada di Kabupaten Berau, tepatnya di Kecamatan Biduk-Biduk, Kalimantan Timur, dan dapat dicapai dengan perjalanan darat selama delapan jam dari Bandar Udara Berau. Sayangnya, letaknya yang berbeda arah dengan Kepulauan Derawan membuat wilayah ini kerap terlewati oleh para wisatawan. “Kak, kemarin saya ke Pulau Derawan, tapi enggak sempat mampir ke Labuan Cermin, karena enggak sempat waktunya,” jelas salah satu follower saya di Instagram. Ya memang, dibutuhkan waktu setidaknya lima hari untuk dapat berkunjung dan menikmati alam Pulau Derawan, juga Labuan Cermin. Saya pun sungguh sangat beruntung dapat mengunjungi kedua primadona Kalimantan Timur tersebut dalam sekali jalan.

Lebih baik berangkat dari Berau pada sore hari untuk perjalanan darat menuju Biduk-Biduk. Durasi perjalanan yang cukup lama tanpa adanya pemandangan yang dapat dilihat akan membuat Anda sedikit jenuh. Perjalanan saya pun tidak terlalu mulus. Ban mobil yang kami tumpangi bocor dan dongkrak yang tersedia tidak berfungsi. “Terdampar” jam 12 malam di tengah perkebunan karet yang gelap tanpa adanya cahaya lampu, kami pun bergotong-royong membuat dongkrak dadakan dengan cara menaikkan satu ban ke atas sebuah balok kayu agar mobil terangkat. Perjalanan akhirnya terhambat selama hampir dua jam, sehingga saya dan teman-teman baru sampai di penginapan jam empat pagi.

Kata warga sekitar, waktu terbaik untuk dapat melihat kejernihan air Danau Labuan Cermin beserta semburat cahaya matahari yang masuk menembus air adalah pukul sepuluh pagi. Kami pun tidak mau melewati kesempatan itu. Tapi apa daya, badan kami terlalu letih untuk dapat bangun di pagi hari setelah melewati perjalanan panjang selama hampir sepuluh jam. Dengan energi yang sudah terisi, akhirnya kami berangkat pukul 13.00 menuju Labuan Cermin. Kami tinggal di rumah warga yang berada di pesisir Pantai Biduk-Biduk, cukup jauh untuk dapat sampai ke danau. Jika berkendara saja dibutuhkan sekitar sepuluh menit, rasanya tidak memungkin-kan untuk berjalan kaki untuk sampai ke tujuan. Sang pemilik rumah akhirnya meminjami kami sebuah motor untuk digunakan menuju Danau Labuan Cermin.

Kami cukup tercengang ketika sampai di dermaga. Airnya terlihat hijau zamrud dan sangat bening. Di depan, terdapat beberapa perahu kayu tertuliskan “Welcome to Labuan Cermin”. Cukup dengan membayar Rp100.000,00 per perahu, kita akan diantar-jemput menuju Danau Labuan Cermin. Tidak lama setelah sepuluh menit menyeberang melewati aliran air dan hutan bakau, kami sampai di lokasi. Hanya satu yang ada di otak saya pada waktu itu: “Langsung loncat dari perahu sebelum perahu merapat ke dermaga”. Rupanya karena kami datang terlalu siang, cahaya matahari yang membuat efek air bak kaca dan perahu seperti melayang tidak terlihat.

Tak pupus harapan, kami kembali lagi ke Danau Labuan Cermin di hari kedua. Kali ini, kami bangun pagi agar dapat melihat fenomena perahu mengambang di atas danau sebening cermin. Pagi di Biduk-Biduk berselimutkan atmosfer damai, jauh dari hiruk-pikuk kesibukan kendaraan bermesin. Hanya ada alunan nyiur melambai, desiran air yang begitu tenang, hamparan gradasi birunya laut yang terbentang di pesisir jalan, dan hewan ternak yang hilir mudik menyeberangi jalan.

Pengalaman ke Danau Labuan Cermin mengingatkan saya pada kalimat yang ada pada kitab suci. “Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (QS. Al-Furqan: 53)

Danau yang berada di tengah hutan dan dikelilingi pepohonan rimbun ini memiliki kedalaman sekitar 10 meter, tapi air asin yang berasal dari air laut yang mengelilingi pesisir Biduk-Biduk sudah dapat dirasakan pada kedalaman minimal dua meter. Secara tekstur yang terlihat oleh mata, dua warna air berbeda tersebut dipisahkan oleh sebuah lapisan buram, sehingga kedua air yang berbeda ini tidak menyatu. Setelah dua meter ke bawah, air berwarna hijau tosca yang berada di permukaan berubah menjadi biru karena rasa asinnya. Hal ini juga berpengaruh pada biota yang ada di dalamnya. Ikan air tawar ditemukan di permukaan, ikan air laut ditemukan di bawahnya.

Tidak butuh penjelasan alamiah, bahkan fenomena ini sudah tertulis semenjak terciptanya bumi ini yang diceritakan di kitab suci. Sebuah keajaiban yang mungkin ketika di didengar sempat membuat bulu kuduk merinding. Bagaimana mungkin bisa terdapat air tawar dan air asin bersatu di dalam satu danau? Saya pun sempat tidak percaya, sampai akhirnya saya menyimpulkan sendiri bahwa, “Yes, God makes too much beautiful things on this earth”.

Teks & Foto: Kadek Arini

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON