Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika
View Gallery
28 Photos
Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Safari di Savana Afrika

Cuaca yang cukup terik tak mengurungkan niat saya untuk kembali menjelajah Cape Town. Berbekal tas ransel kecil dan dua botol minum ukuran sedang serta beberapa potong cokelat untuk tambahan energi, saya siap melanjutkan petualangan ke beberapa destinasi alam yang tersebar di sekitaran kota.

Dengan beberapa pejalan lain, kami menyewa mobil sebagai moda transportasi paling nyaman. Maklum, transportasi umum di kota ini belum bagus. Tak banyak trayek angkutan ke banyak destinasi wisata. Hanya taksi yang bisa diandalkan. Hanya saja, jika tak pandai memilih, bisa-bisa terjebak taksi bodong dengan argo selangit. Tak jauh berbeda dengan Jakarta rupanya.

Gunung Berlanskap Datar

Saya masih setia menunggu kereta gantung yang akan mengantar kami ke puncak Table Mountain, sebuah gunung unik dengan lanskap datar yang pernah dinobatkan sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia. Di atas kereta gantung, hati sudah tak sabar sampai ke atas. Coba memandang ke bawah, saya bisa melihat Cape Town dengan pesisir pantainya yang membujur dari timur ke barat.

Karena memang puncaknya cenderung datar, saya dapat menelusuri setiap sisi dengan mudah. Ada jalan batu yang memang dibuat sebagai penuntun arah bagi setiap pengunjung menjelajahi setiap sisi Table Mountain dengan panorama yang luar biasa memesona. Tak hanya lanskap alam, ada banyak flora unik untuk dilihat. Bunga-bunga berwarna-warni dengan bentuk yang khas. Saya menemukan seekor mamalia berbulu cokelat yang saya juga kurang yakin namanya. Ia mengendap-endap dari semak-semak lalu memberanikan diri keluar di tengah keramaian orang-orang dan sekejap langsung menghilang kembali ke dalam.

Melanjutkan perjalanan, saya wajib berhati-hati untuk turun dan naik di sebuah persimpangan. Selain karena sepatu yang licin dan kurang pas untuk mendaki, kontur tapakan batu juga semakin curam. Ternyata cukup melelahkan turun dari Table Mountain tanpa kereta gantung. Walaupun begitu, tak ada rasa sesal dalam hati. Pemandangan cantik alam nan asri dari sisi tebing setia menemani. Cuaca cerah membuat langit biru pekat dengan ornamen awan putih. Angin juga berhembus semilir hingga sinar terik matahari tak terlalu terasa panas.

Rumah Para Satwa

Afrika merupakan rumah bagi banyak sekali satwa. Tapi sejujurnya, penguin tak pernah masuk di pikiran saya. Ya, penguin! Bayangan saya, penguin ini hewan yang identik dengan musim dingin dan memang hidup di kutub. Ternyata, selama ini saya kurang baca dan begitu kaget ketika mendapati mendapati habitat penguin di benua sepanas ini. Di Boulders Bay, saya melihat ratusan, kalau tidak ribuan, penguin dengan postur yang menggemaskan di habitat aslinya. Mereka adalah spesies penguin khas Afrika yang biasa dikenal dengan jackass karena suara ringkikannya yang mirip keledai. Ciri khas penguin ini memiliki sedikit kulit berwarna pink di bawah kelopak mata.

Saya mengambil jalan setapak di jembatan kayu untuk melihat lebih dekat spesies unik ini. Baru beberapa menit melangkah, saya melihat toples-toples kaca yang ditanam di tanah sebagai tempat mereka bertelur. Ada sebuah toples- yang berisi tiga buah telur yang sebentar lagi akan menetas. Sepasang penguin sepertinya tengah memadu kasih disaksikan dua penguin lain. Pemandangan yang mengundang tawa. Entahlah, saya jadi betah sekali berlama-lama memandangi makhluk-makhluk lucu ini. Apalagi cara mereka berjalan di pasir setelah lelah berenang di lautan.

Di destinasi lain, saya merasa sangat beruntung bisa mencicipi pengalaman bersafari di savana Afrika yang punya nama besar di kalangan para petualang. Saya sangat menggemari serial “National Geographic Wild” yang selalu menampilkan kehidupan satwa liar di alam bebas. Kami diangkut dengan kendaraan bergigi empat yang cukup besar hingga bisa memuat dua puluhan orang. Mengarungi savana di cuaca yang cukup terik benar-benar memompa adrenalin.

Satwa pertama yang kami lihat adalah wildebeest. Binatang memamah biak ini seringkali menjadi mangsa bagi para predator buas, terutama singa. Tapi kali itu, mereka dengan tentram menikmati santap siang di padang rumput luas. Kemudian, ada jerapah yang tiba-tiba melintas di depan kendaraan kami. Dengan anggunnya, ia melangkahkan kaki jenjangnya ke arah hutan. Menurut pemandu, tinggi rata-rata manusia pun tak sampai lututnya. Kira-kira jerapah yang kami lihat berusia tiga tahun dengan tinggi lima meter. Wow!

Di bawah sebuah pohon rindang, sepasang badak putih tengah bersantai. Mungkin mereka tahu hari itu hari Minggu, hari yang tepat untuk bermalas-malasan. Sebenarnya badak memang binatang yang pasif. Mereka cenderung tak suka dengan keramaian dan lebih suka menyendiri. Pemandangan langka itu membuat saya tak lepas membidikkan kamera ke arah mereka. Sang pemandu menambahkan bahwa berat satu badak bisa mencapai tiga ton. Bayangkan, tiga ribu kilogram! Di sisi lain savana, saya melihat sekumpulan zebra tengah melintas. Mungkin sebuah keluarga karena ada dua zebra dewasa dan seekor zebra kecil menguntit di belakangnya. Manis sekali.

Menutup perjalanan safari hari itu, seekor cheetah tengah menunggu di atas pohon. Ia sedang santai, mungkin setelah menyantap makan siang. Saya coba mendekat dengan hati-hati untuk mendapatkan foto yang pas. Matanya menyorot saya hingga bulu kuduk berdiri. Menjaga jarak agar tetap aman, sang pemandu justru mengajak kami lebih mendekat. “Kapan lagi bisa sedekat ini dengan cheetah?” pikir saya dalam hati. Akhirnya saya meng-ikuti dirinya dari belakang. Tiba-tiba, saya hanya berjarak delapan langkah dari predator ganas ini! Alamak. Mengambil beberapa foto, saya langsung menyudahinya.

Sayangnya, saya tak mendapati singa di alam liar. Karena terjadi konflik antara dua anak singa jantan dengan bapaknya, sang raja hutan, mereka dikarantina di dua tempat terpisah. Menariknya, akan ada kudeta dari kedua anak ini terhadap titah bapaknya sehingga sang anak tak ragu menyerang bapaknya. Meski tubuhnya kecil, dua singa jantan remaja tetap saja punya peluang mengalahkan si raja hutan. Untuk melestarikan mereka, pengurus safari ini memutuskan mengandangkan tiga ekor singa dengan cerita konflik ala sinetron rimba ini.

Di sudut ruang tunggu bandara yang masih belum ramai, saya terduduk sendiri di sebuah bangku panjang dari besi. Belum juga bisa beralih dari pengalaman mengesankan di tanah Afrika ini, saya kembali melihat foto-foto perjalanan ini di layar kamera. Di seberang bangku, saya mendengar samar seorang lelaki berkata pada temannya, “What an experience, really. Cape Town is perfect.” Perkataan yang ditanggapi dengan anggukan si teman. Dalam hati, saya juga setuju.

Cape Town memang jauh dari gambaran daerah-daerah Afrika kebanyakan. Salah satu kota penyelenggara Piala Dunia 2010 ini memang terus giat berbenah dengan modernitas dan memoles sisi pariwisata. Saya menjadi satu dari banyak orang yang terkesan dengan setiap jejak perjalanan di sini. Meski begitu, ada sedikit harap agar kota ini bisa merangkul setiap penduduknya tanpa terkecuali. Pemukiman kumuh bukan lagi dianggap koreng yang mesti dipisahkan dari kemajuan. Ia seharusnya bisa menjadi bagian tetap dalam kemajuan bersama. Suatu hal yang sulit tapi bukan mustahil dilakukan. Kelak, saya cukup yakin permata di selatan Afrika ini akan semakin berpendar lengkap dengan ornamen sejarah, modernitas, dan keindahan alamnya.

CAPE TOWN part 2: Teks & Foto: Bayu Adi Persada

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON