Pototano to Kenawa

Pototano to Kenawa
View Gallery
18 Photos
Pototano to Kenawa

Pototano to Kenawa

Pototano to Kenawa

Pototano to Kenawa

Pototano to Kenawa

Pototano to Kenawa

Pototano to Kenawa

Pototano to Kenawa

Pototano to Kenawa

Pototano to Kenawa

Pototano to Kenawa

Pototano to Kenawa

Pototano to Kenawa

Pototano to Kenawa

Pototano to Kenawa

Pototano to Kenawa

Pototano to Kenawa

Pototano to Kenawa

Turis yang menyeberang dari Pelabuhan Kayangan di timur Pulau Lombok menggunakan kapal feri selama 1 ½ jam akan tiba di sebuah pelabuhan sekaligus desa nelayan bernama Pototano. Jika setelahnya mereka ingin beranjak menuju pulau-pulau satelit yang menawarkan keindahan eksotis sepi pengunjung, seperti Pulau Paserang, Kenawa, dan Pulau Kambing,  maka mereka sudah tidak jauh lagi dari tujuan.

Diiming-imingi pantai berpasir putih dan halus yang mengelilingi Pulau Kenawa, saya menghampiri desa nelayan terdekat untuk menanyakan ketersediaan perahu yang dapat sesegera mungkin mengantar kami selagi matahari belum tinggi.

Penduduk yang ramah menyambut kami dan menunjukkan beberapa keluarga yang menyediakan jasa yang kami butuhkan. Kebetulan kami bertemu Pak Manajay, seorang nelayan yang menyediakan perahu, penyewaan alat snorkeling, dan juga bahan makanan. Setelah sampai pada satu kesepakatan harga, setelah berhasil juga membeli ikan segar untuk makan malam, serta setelah bikini dan tanning oil melekat pada kulit, saya melompat bersemangat ke atas perahu, lalu tambatan tambang pun diurai!

Hanya butuh sekitar 15 menit dari Pelabuhan Pototano dan saya sudah melihat dermaga yang ditemani oleh gazebo-gazebo teduh melingkari pesisir pulau sedang melambai-lambai, meminta perahu sederhana ini untuk singgah. Tentu dengan senang hati kaki ini menapakkan jejak di teras mereka yang sangat asri.

Berhubung hari itu adalah hari Minggu, semua gazebo dipenuhi oleh sekelompok anak-anak muda yang tidak tampak seperti turis, sepertinya mereka adalah penghuni pulau sekitar yang ingin menikmati pantai di hari libur. Sungguh nikmat membayangkan jika di Jakarta hal seperti ini juga bisa terjadi, sekedip mata dan kita bisa melepas penat di alam yang dipenuhi warna biru seperti disini.

Pulau Kenawa dikelilingi pantai landai berbalut air turquoise yang sudah menunggu untuk diselami, but save the dessert for later, shall we? Pertama, saya sibuk terpukau oleh rumput-rumput tinggi dan pohon randu yang memenuhi bagian tengah pulau, seperti savana. Savana ini tumbuh lebat mengelilingi satu bukit yang sudah saya niatkan akan menjadi spot sore hari nanti kala melihat matahari terbenam. Saat itu musim hujan, karenanya warna savana ini sedang hijau-hijaunya, dan bukan coklat kekuningan. But it’s still sooo instagramable, as epic as it can be! Percayalah, ini tempat yang sangat tepat untuk membuat teman-teman sosial media Anda iri.

Tak terasa saya menghabiskan sekitar dua jam untuk berfoto dan menari-nari di Savana Kenawa, dan ketika itu para penghuni gazebo pun pulang satu demi satu. Ternyata tidak ada yang berencana untuk berkemah dan bermalam di pulau ini seperti kami! That means, this beauty is all ours! Tak butuh waktu lama, saya melucuti kaus tipis di badan dan segera melompat ke lautan air garam. Segarnya luar biasa! Ombak yang lembut memijat punggung saya yang kelelahan selama di perjalanan, warna biru langit dan putih matahari membuat saya berkeringat bahagia, saya ada di pinggir pulau dan dikelilingi pulau, dan tidak ada yang bisa mengganggu saya. Beberapa teman berjemur santai dengan kacamata hitam, serasa memiliki private villa, silahkan tak berbusana karena tidak akan ada pandangan menghakimi disini. Satu-satunya yang bisa membuat saya berhenti bersenang-senang adalah rasa lapar. Well, lapar pun berarti membakar ikan ditemani suara laut, itu masih bersenang-senang sejauh pengertian saya.

Warna langit sudah mulai menjadi jingga.Dikarenakan tidak adanya penerangan, maka kami sesegera mungkin berganti baju kering. Setelahnya kami mendirikan tenda agar ketika kantuk tiba dan sebelum rasa malas datang, kami bisa segera bergelung dan terlelap di dalamnya.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 17.30 WITA, kami menuju bukit yang berkuasa di tengah pulau, mendaki tubuhnya yang ternyata cukup terjal, hingga tiba di puncak kepalanya. Dari atas sana terlihat perbatasan langit berwarna emas dan ungu, melebur dengan samudra yang mulai berkilau kehitaman. 360 derajat adalah luasnya akses mata saya, semua savana dan pantai dan pulau yang saya lihat sedari siang kini tampak begitu kecil dalam tangkupan samudera dan angkasa. Sementara saya hanyut sampai terasa pusing dikelilingi keindahantersebut.

Dentuman perut sudah mulai terdengar hingga belakang telinga, waktunya turun dari singgasana ini dan makan. Cahaya sudah semakin minim, diterangi head lamp dan senter, kami menguliti sisik ikan, meramu kecap, bawang, dan cabai untuk sausnya. Kemudiankami mulai membuat bara. Ikan yang sangat segar itu hanya kami olesi dengan mentega, namun begitu bersentuhan dengan api, aromanya sudah membuat liur menetes. Kami makan seperti manusia gua, berjongkok di pasir, menjamah daging panas dengan tangan kosong dan memasukannya ke mulut seperti kesetanan.

Selagi bara api masih memiliki sisa nyala, sementara misting telah licin, kami membentangkan fly sheet tepat di tepian pantai yang tidak terkena air pasang. Punggung menekan tekstur pasir yang empuk, sementara wajah menatap langit bertabur bintang. Apa yang bisa keluar dari sekelompok manusia ini selain desahan kagum tanpa perlawanan?

Banyaknya cahaya di angkasa yang bisa dilihat dengan mata telanjang ini tidak kalah dengan pemandangan dari atas gunung 3000 m. Mereka berkedip, mereka bergerak, mereka memiliki kedalaman yang menelan saya, indah, sangat indah. Kenawa menawarkan jamuan dahsyat untuk tamu-tamunya, padahal ia sendiri tak bertuan. Seorang teman beranjak sejenak dari pembaringan, mengaduk carrier, dan  menyodorkan sebotol cointreau yang disambut meriah oleh kami semua. Timing yang tepat. Seteguk, dua teguk, tiga teguk, rongga perut dan dada menghangat, kepala terasa ringan melayang. Saya melayang menuju bintang-bintang.

Teks: Astri Primasari / Foto: Aditya Arnoldi

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON