Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan
View Gallery
20 Photos
Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan

Permata di Afrika Selatan

Saat pertama kali menginjakkan kaki di benua ini, ada perasaan yang sulit terjelaskan. Di satu sisi, senang bukan main, tapi di sisi lain saya datang ke sini tanpa ekspektasi. Meski keindahan dan kemegahan Cape Town, salah satu kota tujuan wisata di Afrika Selatan, sudah mahsyur terdengar ke segala penjuru dunia, tetap saja hati enggan menebak-nebak yang akan dialami. Saya cukup lega mendengar kabar virus ebola tidak perlu menjadi kekhawatiran. Jujur saja, saya sempat berpikir dua kali untuk datang ke sini mendengar endemi virus mematikan itu di Benua Afrika.

Bandara yang amat modern mencerminkan wajah Afrika yang berbeda. Dalam pikiran saya, Afrika itu lekat dengan infrastruktur yang belum matang ataupun tata kota yang tak rapi. Tetapi, beberapa menit sebelum mendarat di Bandara Internasional Cape Town, saya tak melihat itu dari ketinggian. Ada blok-blok rapi yang memisahkan pemukiman, zona hijau, dan pusat kota tempat kantor-kantor dan mal berada. Di kebanyakan kota lain di Afrika, imaji akan belum bagusnya infrastruktur dan segala penopang ekonominya memang kental, tapi gambaran itu agak pudar saat bus mengantarkan saya ke hotel di pusat kota tempat saya akan menginap.

Meski kota ini tampak penuh gairah dengan berbagai pembangunan modern di sana-sini, ternyata dampak pembangunan itu tak sepenuhnya berpihak ke semua penduduk. Menuju pusat kota, ada lokalisasi pemukiman sangat sederhana, bahkan terkesan kumuh. Di sinilah saya melihat cerminan Afrika kebanyakan yang sering diberitakan media. Semakin mendekati pusat kota, pemukiman itu terkesan menguap dan berganti kondomunium dan perumahan mewah dengan bangunan-bangunan tinggi. Bukan rahasia memang kalau jarak antara si kaya dan si miskin di sini terlampau jauh. Tercatat, Cape Town termasuk kota dengan tingkat ketidaksetaraan paling tinggi di dunia. Sebuah permasalahan yang dihadapi banyak kota besar di dunia, termasuk Jakarta.

Kental Sejarah

Pagi yang cukup cerah menyambut saya di dermaga penyebrangan. Hari itu, saya mengunjungi Robben Island, tempat Nelson Mandela dipenjara selama 18 tahun sewaktu rezim apartheid berkuasa. Ia dijadikan tahanan politik karena menentang pemerintah. Mandela, tokoh besar yang dikagumi dunia, menjalani seperlima hidupnya di pulau kecil ini. Jaraknya terpisah sekitar 7 kilometer dari pantai barat Cape Town dan dapat ditempuh oleh kapal cepat selama sekitar satu jam.

Saya menyimak seksama penjelasan seorang pemandu di bus. Hati terenyuh ketika bus berhenti di tempat para pengidap lepra diasingkan lalu dikubur. Dulu, penyakit lepra dianggap wabah yang sulit disembuhkan karena ilmu pengobatan tak semaju sekarang hingga setiap pengidapnya mesti dibuang jauh-jauh dari pemukiman. Ada juga sebuah gereja tua kecil yang dibangun oleh penduduk asli di sini. Saat masa perang dunia, Belanda membangun benteng dan persenjataan di sini. Sisa-sisa senapan dan bangunan militer masih bisa terlihat di sini. Kondisinya pun masih layak dan konon beberapa masih bisa dipakai.

Sang pemandu mengajak kami masuk ke penjara. Di sana, saya disambut seorang mantan tahanan politik yang juga pernah ditahan bersama Mandela. Dia bercerita tentang pengalaman mengerikan saat ditahan di sini. Semuanya dibatasi dan diperhatikan. Meski begitu, buah pikiran mereka tak bisa ditahan. Di sela-sela kesibukan sebagai tahanan, ia menyatakan salah satu hiburan yang paling menyenangkan adalah berbicara tentang politik dengan para tahanan lain. Di situlah ide revolusi yang dikomandoi Mandela berasal.

Saya termenung sejenak di depan sel Mandela. Sangat kecil, kira-kira hanya dua kali dua meter atau mungkin kurang dari itu. Di depan ruangan sel, ada lapangan besar tempat para tahanan dipaksa melakukan pekerjaan tertentu. Jika ada yang melawan, ia mesti siap masuk sel isolasi dengan ruangan yang jauh lebih kecil, atap lebih rendah, dan ruangan gelap. Saya tak bisa membayangkan rasanya. Patrick, nama mantan tahanan politik itu, enggan menceritakan lebih lanjut saking pedih pengalaman pahit itu. Ia selalu berusaha melupakan itu tapi usahanya seperti sia-sia.

Di sisi lain pulau, ada tambang kapur tempat Mandela dan para tahanan lain dipaksa bekerja menambang kapur dengan memecahkan batu. Setiap hari, setiap tahanan harus bekerja berjam-jam di dalam gua yang pengap dan gelap. Tetapi, Mandela dan para tahanan lain menjadikan gua itu sebagai “universitas” tempat ide-ide dan pemikiran akan negara Afrika Selatan yang lebih baik muncul. Pada 2013, Mandela dan para mantan tahanan lain kembali ke tambang itu dan setiap orang mengambil batu lalu menaruhnya di tengah tambang. Membayangkannya saja sudah membuat saya emosional.

(to be continued)

 

 

Teks & Foto: Bayu Adi Persada

 

Read more about what to do in Cape Town inside our Volume XCIII “The Gender Bender Issue”!

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON