Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?
View Gallery
25 Photos
Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Peringatan atau Pengingat?

Meski bukan tren yang baik, tidak bisa dipungkiri bahwa poligami sedang ramai diikuti oleh sejumlah pria di Indonesia. Mencari celah atas ketidakmampuan manusia dalam menafsirkan sabda Tuhan membuat para pria merasa berhak untuk memiliki istri lebih dari satu. Lucunya, dalam sebuah epos perwayangan, yang mungkin tercipta jauh sebelum istilah poligami, ada sesosok wanita yang tidak puas hanya memiliki satu pendamping. Sarpakenaka telah memiliki dua suami dan seorang kekasih, tetap ingin bercumbu dengan Rama dan adiknya, Laksmana. Tokoh dari kisah Ramayana inilah yang melatarbelakangi dramatari “Kidung Tresna Sekar Alengka” yang diproduksi oleh Sanggar Surya Kirana.

Saya beruntung, selain memiliki kesempatan untuk melihat para pelakon berlatih, saya pun dapat menonton langsung pagelaran tersebut. Bahkan saya sempat berbincang dengan sang sutradara Ibu Tatik Kartini untuk memahami lebih dalam alasan dipilihnya epos mengenai Sarpakenaka ini untuk “Kidung Tresna Sekar Alengka.”

 

Tatik Kartini

 

Bisa diceritakan terlebih dahulu, kah, sepak terjang Ibu Tatik Kartini di seni panggung?

Saya sudah cukup sering menjadi sutradara pementasan skala kecil, sudah sejak tahun 90-an. Tahun 1997 saya sudah mencoba untuk ikut serta di Festival Mahabharata. Sedangkan untuk pagelaran yang cukup besar dengan pendukung di atas 30 orang, baru saya coba garap di tahun 2013. Semenjak itu, setiap tahun saya terus dipercaya untuk menyutradarainya.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi “Kidung Tresna Sekar Alengka”?

Produksi kali ini termasuk yang paling cepat karena tadinya dramatari ini kami persiapkan untuk ditampilkan di perwayangan. Tetapi karena satu dan lain hal, kami mengurungkan niat tersebut. Untung sekali, tidak lama setelahnya pihak Taman Mini Indonesia Indah menawarkan untuk memasukan produksi ini ke agenda Teater Tradisi. Kami pun menyambut baik ajakan tersebut karena kami otomatis mendapatkan fasilitas tempat pertunjukan, gamelan, sound system, dan lampu. Jadi, kami sangat terbantu banyak secara produksi, saya hanya perlu memikirkan komponen pendukung, seperti bagaimana setiap individu yang terlibat tetap bisa memiliki pemasukan atau cara mereka mencapai tempat latihan.

Untuk dramatari “Kidung Tresna Sekar Alengka” kali ini, siapa yang memilih cerita latarnya? Apa alasannya?

Selalu saya yang memilih cerita yang untuk ditampilkan, begitu juga pada tahun ini. Alasannya karena saya melihat fenomena di mana banyak sekali dekadensi di perempuan. Penurunan moral ini artinya perempuan sudah tidak bisa lagi dianggap perempuan. Mereka hanya wanita. Antara perempuan dan wanita, menurut saya lebih tinggi derajat perempuan. Karena perempuan memiliki segala tingkah laku, budi pekerti, dan sebagainya menyimbolkan seorang perempuan. Sedangkan seorang wanita belum tentu adalah perempuan karena perilaku-perilaku negatif. Apalagi di jaman sekarang saya melihat di sekeliling banyak sekali perempuan yang mapan secara finansial memiliki pasangan dan hidup bersama pasangannya tersebut tanpa ikatan pernikahan. Lucunya apa yang ada di jamannya Sarpakenaka di epos Ramayana ada juga di dunia sekarang. Jadi, kalau saya kaitkan dengan cerita ini, semua perbuatan itu ada imbalannya. Ada penebusannya. Saya ingin menjadikan karya saya kali ini sebagai pengingat. Semoga pesan ini dapat ditangkap oleh para penonton.

 

Teks: Rianti Dwiastuti/ Foto: Melody Amadea (Profil Ibu Tatik Kartini) & Syifa Fachrunissa (Dramatari “Kidung Tressa Sekar Alengka”)

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON