One Island & Beyond

One Island & Beyond
View Gallery
37 Photos
One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

One Island & Beyond

Tidak perlu ditampik, Taiwan cukup terkenal berkat kudapannya yang terus menjamur. Bukti nyata dapat dilihat dari barisan panjang di berbagai pusat perbelanjaan, atau misalnya saya yang dengan sungguh niat rela mengantre dari ujung ke ujung hanya untuk mencicipi sebuah hidangan pencuci mulut yang katanya terkenal (dan ya, saya setuju dan mengakui bahwa jerih payah saya terbayarkan). Namun sepertinya, Taiwan perlu dengan berani memperlihatkan ke dunia bahwa “negara-tidak-resmi” ini tidak hanya ahli dalam memanjakan urusan perut, tapi juga memiliki sejuta kekayaan lainnya.

Potongan Mars di YEHLIU GEOPARK

Siang itu saya berada di 20 kilometer arah timur dari Taipei menuju semenanjung Yehliu Geopark. Cuaca mendadak terasa panas dan lembap. Bagi pencinta pantai atau laut, Yehliu merupakan tempat yang wajib dikunjungi ketika berada di Taiwan. Jangan harapkan pantai berpasir putih halus dengan gulungan ombak untuk berselancar layaknya di Filipina, karena keindahan pantai ini justru terletak pada formasi bebatuan unik yang terpampang di sepanjang pantai. Sekilas seperti rombongan jamur yang tidak beranjak untuk memandangi lepas pantai.

Tempat ini mengingatkan saya akan berbagai film fiksi tentang planet Mars, dengan lanskap batu-batu besar yang kokoh, kering, dan berwarna kuning kemerahan. Panas semakin terik, turis-turis banyak yang berdatangan menambah panasnya suasana, khususnya yang tiba-tiba seenaknya berdiri dan duduk-duduk di atas batu terlarang, tapi saya bersyukur hal tersebut tidak mengurangi keindahan formasi bebatuan yang terbentuk oleh erosi laut. Legenda lokal menceritakan bahwa bebatuan tersebut merupakan alas kaki yang tertinggal dari seorang peri ketika turun ke bumi. Sungguh menggelitik, kecerobohan yang sama seperti Cinderella ini untung saja meninggalkan jejak yang terlalu indah di semenanjung utara Taiwan.

JIUFEN Transformasi Kota Tambang menjadi Kota Peristirahatan

Saya termasuk penggemar Hayao Miyazaki, seorang produser, sutradara, animator, dan seniman manga dari Jepang. Karyanya yang berjudul Spirited Away merupakan salah satu pendorong saya untuk berkunjung ke Taiwan. Ya, downtown Jiufen merupakan inspirasi kuat terciptanya lokasi ajaib di film tersebut. Area ini terletak di pegunungan di daerah New Taipei, tepatnya di timur laut Kota Taipei dan tidak terlalu jauh dari Yehliuji.

Dahulu, Jiufen merupakan kampung terisolasi yang hanya dihuni oleh sembilan kepala keluarga, hal ini menjadi alasan daerah ini dinamakan Jiufen (jiu yang berarti “sembilan”, dan fen yang berarti “porsi/bagian”). Tetapi, pamor daerah ini naik berkat adanya penambangan emas, sehingga penduduk terus bertambah. Apalagi dengan adanya kolonisasi Jepang di daerah ini. Sayangnya, usai Perang Dunia II, penambangan emas mulai menurun dan mulai berhenti pada awal ’70-an. Walau begitu, bangunan-bangunan kuno peninggalan kolonial Jepang masih berdiri kokoh terawat, dan sepertinya pemerintah lokal memerhatikan peninggalan bersejarah ini karena nyaris semua bangunan telah direvitalisasi tanpa mengubah bentuk arsitekturnya.

Meskipun berada di pegunungan, lokasi Jiufen yang berbukit-bukit berbatasan langsung dengan Lautan Pasifik. Dari jaringan jalanan yang sempit dan berkelok-kelok, Jiufen menawarkan sensasi bersantai dengan banyak warung teh yang konon dikenal sebagai salah satu yang terbaik di Asia. Tentu saja banyak turis dari belahan dunia lain yang mengunjungi daerah ini, tapi tidak kalah banyak pula turis lokal (terutama dari Taipei) yang mengunjungi Jiufen. Sore itu temperatur cukup sejuk, pemandangan bangunan-bangunan tua Jiufen yang didirikan pada masa kejayaan tambang emas disempurnakan oleh hembusan angin Samudera Pasifik. Banyaknya lampion yang menerangi lorong Jiufen yang berkelok-kelok terlihat manis, harmonis tetapi tenang, dan mengesankan bahwa inilah kota peristirahatan yang indah dan nyaman.

Taiwan tidak berhenti memberikan kejutan di sela-sela sisinya yang familiar. Taiwan pun terlalu luas untuk hanya dilabelkan sebagai surga kafe bertema ataupun pusat kudapan. Taiwan memiliki banyak hal, mulai dari keberagaman penduduk dan suku, alam yang mencengangkan, sampai kecanggihan teknologi yang terkini. Jujur saja, saya bukan pecinta barang-barang imut dan bukan pula pribadi yang gila akan oleh-oleh, tetapi di luar dugaan, saya meninggalkan Taiwan dengan bagasi (dan berat badan) yang lebih berat dari perkiraan.

Taiwan series part 2: Teks & Foto: Jatidiri Ono

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON