Nirvana on Earth

Nirvana on Earth

Udara sejuk di pulau dewata pada bulan Juli lalu membangunkan saya dari tidur yang lelap di Kamandalu Ubud, sebuah tempat penginapan yang menjadi pioner as a Balinese Luxury Resort. Masih terbaring tak berdaya di kasur nan empuk, dengan pemandangan di luar villa yang dipenuhi kehijauan yang rindang, saya seperti merasa sedang beristirahat di surga.

Pemandangan indah nan eksotis itu juga senantiasa hadir di sekeliling area seluas 3,5 hektar itu. Tak hanya di sekitar villa, tetapi juga saat saya menikmati makan pagi bergaya alfresco di halaman terbuka yang berhadapan dengan bukit nan hijau dan sungai Petanu. Bahkan Kamandalu Ubud menyediakan Green programs dimana para tamu bisa berpartisipasi dalam aktivitas penanaman pohon.

Rice-Paddy

Saya hadir di tempat ini untuk melihat hasil peremajaan hunian ini. Dimulai dengan logo dan nama yang baru, Kamandalu Ubud. Dalam bahasa Sansekerta, Kamandalu bermakna bejana yang mengandung air kehidupan. Selain itu, Kamandalu Ubud kini memiliki lobby yang megah hasil rancangan arsitek terkenal, Hendra Hadiprana.
Rancangan keseluruhan komplek hunian, dibangun dengan inspirasi desa Panglipuran, yaitu sebuah desa tertua dan paling tradisional di pulau dewata, tanpa melupakan fasilitas modern bintang lima. Fasilitas itu lah yang membuat saya betah selain semua keindahan alam yang menyelimuti tempat melarikan diri ini.

Dari fasilitas wi-fi di dalam villa yang super kencang, sampai dengan merelaksasikan jiwa dan raga melalui fasilitas spa dan yoganya dengan pemandangan kehijauan yang sungguh tak pernah saya dapati di Jakarta, tempat saya hidup dalam hutan beton.

Maka tak salah kalau saya berpikir, bukan hanya gadget yang perlu direcharge, saya pun sangat membutuhkan melakukan pengisian ulang baterai kehidupan. Nah seperti setiap kali saya bingung mencari stop kontak untuk merecharge gadget saya, maka tempat macam Kamadalu Ubud ini, adalah ‘stop kontak’ paling jitu untuk merecharge jiwa dan raga yang saya perlukan.

Dan yang tak pernah saya lupakan selama menginap di tempat yang super tenang ini, adalah fasilitas pengisi perutnya yang menggoyang lidah. Saya ini tak pernah percaya, bahwa makanan di tempat penginapan itu enak dan nikmat. Bahkan yang katanya penginapan mahal dan berbintang sekali pun. Tetapi kali ini saya menyerah kalah. Apa yang saya pikirkan, ternyata keliru besar.

Di Petulu Restaurant yang menyuguhkan masakan Indonesia dari Sabang sampai Merauke, adalah tempat makan yang saya yakini tak akan mengecewakan. Dengan rancangan menu yang dibuat oleh ahli kuliner William Wongso, mulut dan perut Anda dijamin tak akan mengeluh.

Apalagi, sambil menyantap hidangan, pemandangan rice terraces terbentang di hadapan Anda. Di tempat macam begini lah, Anda bisa mengerti apa yang dimaksud dengan double happiness itu sesungguhnya. Makan kenyang, hati nan senang.

Kalau double happiness masih Anda rasakan kurang, dan Anda baru merasa lengkap kalau itu dibagikan juga dengan pasangan Anda, maka Kamandalu Ubud juga menyediakan tempat untuk Anda mengikat janji kebahagiaan, Wedding at the Alun Alun.

Sejujurnya, saya juga sudah berpikir untuk mewujudkan kebahagiaan itu di tempat ini, hanya saja sekarang saya sedang dalam tahap pencarian pasangan saya. Pasangan yang berani mengikat janji bukan hanya bermulut manis, untuk mewujudkan sebuah perjalanan kehidupan berpasangan yang will last a lifetime.
Sungguh saya tak sedang bermimpi saat menulis ini, ini lah tulisan asli yang dibuat di ‘surga’ sebuah tulisan yang mengalir dari sebuah tempat yang bak bejana, mengandung air kehidupan.

Teks: Samuel Mulia / Foto: Dok. Kamandalu & Samuel Mulia

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON