New Zealands South Island God’s Amazing Grace

New Zealands South Island God’s Amazing Grace
View Gallery
19 Photos
New Zealands South Island God’s Amazing Grace

New Zealands South Island God’s Amazing Grace

New Zealands South Island God’s Amazing Grace

New Zealands South Island God’s Amazing Grace

New Zealands South Island God’s Amazing Grace

New Zealands South Island God’s Amazing Grace

New Zealands South Island God’s Amazing Grace

New Zealands South Island God’s Amazing Grace

New Zealands South Island God’s Amazing Grace

New Zealands South Island God’s Amazing Grace

New Zealands South Island God’s Amazing Grace

New Zealands South Island God’s Amazing Grace

New Zealands South Island God’s Amazing Grace

New Zealands South Island God’s Amazing Grace

New Zealands South Island God’s Amazing Grace

New Zealands South Island God’s Amazing Grace

New Zealands South Island God’s Amazing Grace

New Zealands South Island God’s Amazing Grace

New Zealands South Island God’s Amazing Grace

Kia Ora! Beberapa bulan telah berlalu sejak kali pertama saya menginjakkan kaki di Selandia Baru. Namun kecantikannya yang memukau seakan enggan beranjak dari ingatan.

Masih teringat jelas bagaimana panorama dramatis South Island menguatkan pandangan saya akan besarnya kuasa Tuhan. Napas saya berhenti sejenak setiap kali menyaksikan kilau glasier di puncak pegunungan The Remakables. Terpaan sinar matahari yang terjatuh di atas birunya Lake Wakatipu terlihat seperti jutaan permata. Daun-daun dari pepohonan rimbun beterbangan seirama dengan embusan angin. Dan siluet burung yang menari di langit juga turut menghiasi. Kesempurnaan visual ini terus menemani langkah yang saya tapaki di South Island. Sungguh panorama yang dengan lantang akan saya katakan ke semua orang sebagai salah satu anugerah Tuhan yang patut disaksikan sebelum napas terakhir berembus.

Perjalanan dimulai ketika saya akhirnya sampai di Christchurch yang merupakan kota terbesar di South Island. Namun, saya masih harus melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat terbang untuk akhirnya sampai ke tujuan utama, yakni Queenstown. Dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk berpindah dari Christchutch ke Queenstown. Itupun tak akan terasa lamanya, berkat pemandangan luar biasa yang terpampang dari jendela pesawat sepanjang penerbangan. Selandia Baru sendiri terbagi menjadi dua pulau besar, yakni North Island (Te Ika-a-M ui) dan South Island (Te Waipounamu). Terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara dua pulau ini. North Island sedikit lebih dinamis dan dihiasi oleh berbagai gedung khas kehidupan masyarakat modern. Sedangkan South Island, lebih menekankan sisi panorama alam yang memukau. Meskipun demikian, keduanya tentu sama-sama memiliki daya tarik tersendiri bagi para turis.

Queenstown merupakan sebuah kota di South Island yang juga menjadi salah satu destinasi favorit para turis. Pegunungan ikonik The Remarkables dan Lake Wakatipu dapat terlihat jelas dari kota ini. Bentangan alam, baik daratan, pegunungan, maupun danaunya memang seakan memiliki kekuatan magis sendiri yang mampu memikat hati. Saya sempat berpikir betapa beruntungnya para warga lokal. Pasalnya, kecantikan lanskap Queenstown yang dramatis benar-benar terlihat seperti karya lukisan Tuhan.

Saya juga sadar betul bahwa susunan kata-kata akan sulit sejajar dengan keindahan panorama yang dimiliki South Island. Tapi masih ada banyak hal lainnya dari Selandia Baru yang membuat saya jatuh hati. Bagi saya pribadi, destinasi sempurna adalah destinasi yang justru tak banyak disesaki dengan tingginya kedinamisan manusia ataupun kepenatan hiruk pikuk metropolitan.

Dan jika sama seperti saya, maka South Island akan menjadi pilihan yang sempurna bagi Anda pula. Dengan populasi hanya sekitar 4 juta manusia di atas daratan seluas area Jepang atau Britania Raya dan sekitar 17.000 di South Island-nya, Selandia Baru menawarkan destinasi yang sepi, tentram, dan tak riuh. Saya bahkan sedikit tersenyum ketika mendengar bahwa konon jumlah hewan ternak di Selandia Baru lebih banyak jumlahnya daripada masyarakat lokalnya.

Di samping itu, tak banyak pula suara yang terdengar. Embusan angin lebih banyak mendominasi getaran yang ditangkap oleh indera pendengaran. Penggabungan dua hal tersebut kemudian membuat suasana di Selandia Baru terkesan intim, tentram, damai, dan hangat. Alam Selandia Baru yang telah lama diakui keindahannya memang merupakan aset terbesar. Tapi menurut saya, tentu bukan satu-satunya. Aset yang dimiliki negeri beribukota Wellington ini juga terdapat pada keramahan para Kiwi, demikian panggilan bagi para penduduk lokal.

Keramahan tersebut menjadi hal yang asing saya temui ketika bepergian ke negara-negara di luar Asia. Bukan tak mungkin seseorang yang tak Anda kenal dan sekadar berpapasan dengan Anda ketika sedang berjalan akan tersenyum kemudian menyapa. Kehangatan ini tentu membuat para pengunjungnya semakin sulit untuk beranjak akibat rasa nyaman yang tumbuh dalam diri. Hal menarik lainnya yang sempat saya amati dari Selandia Baru, khususnya pada South Island adalah tradisi dan budaya Maori yang masih terasa hingga saat ini. Maori merupakan etnis grup lokal Selandia Baru yang pertama kali menapaki pulau tersebut menggunakan kano dari Hawaiki sekitar 1.000 tahun yang lalu.

Baik legenda, mitos, kepercayaan, hingga bahasa Maori masih menyeliputi kehidupan masyarakat lokal.  Di balik suasananya yang damai, Selandia Baru juga menawarkan sisi yang berbeda. Kecantikan alamnya seakan menjadi poin plus tersendiri yang justru menambah pacuan adrenalin bagi berbagai aktivitas ekstrem, mulai dari ski, bungy jumping, skydiving, hot air balloon, perahu jet, berkuda, arung jeram, dan masih banyak lagi.

Saya bahkan sempat melakukan skydiving di Queenstown. Dan pemandangan yang saya saksikan ketika terjun dari ketinggian 15.000 kaki di atas langit merupakan salah satu pemandangan terindah yang pernah dilihat oleh kedua mata saya. Tapi bagi Anda yang tetap menginginkan liburan tentram, tak perlu khawatir, karena tentu berbagai aktivitas pemanjaan diri, seperti spa, shopping, ataupun menikmati berbagai sajian jenis wine produksi Selandia Baru tersedia untuk Anda.

Selain Queenstown, panorama menakjubkan juga terpampang di beberapa kota lainnya di South Island. Glenorchy, misalnya. Jaraknya hanya sekitar 45 menit dari Queenstown. Dan keindahannya juga tak kalah berkat Lake Wakatipu yang masih mengalir di sekitarnya, dan ditambah pula dengan Dart River, menjadikan Glenorchy sebagai destinasi tepat bagi berbagai aktivitas air, seperti jet boating dan kayaking. Alam Glenorchy yang spektakuler juga sempat menjadi lokasi syuting bagi beberapa film Hollywood ternama, seperti The Lord of The Rings dan Narnia.

Terdapat sebuah boadshed legendaris di tepi Lake Wakatipu yang merupakan objek foto para turis. Kota menarik South Island lainnya adalah Arrowtown, yang mengelilingi sungai penghasil emas bernama Arrow River. Di zamannya, Arrowtown memang merupakan lokasi pertamba-ngan emas. Bahkan hingga saat ini Anda masih bisa mencoba keberuntungan mengais emas di Arrow River. Berbagai bangunan tua dan bersejarah masih berdiri kokoh di Arrowtown. Tak hanya itu, terdapat pula sebuah jalan bernama Buckingham Street yang kini menjadi jalan utama pusat berbelanja dan kuliner.

Menelusuri undakan-undakan pegunungan hijau di Arrowtown dijamin menjadi aktivitas yang dapat menyempurnakan lilburan Anda di Selandia Baru. Dengan panorama alam dan kehangatan masyarakat lokalnya, Selandia Baru telah menjadi rumah bagi impian dan angan saya pribadi. Seluruh indera seakan terpuaskan. Keindahannya tak akan pernah pudar di ingatan, memaksa diri untuk kembali menapaki langkah di daratannya. Kecantikan Selandia Baru, saya yakini merupakan sedikit bagian dari rupa Surgawi.

Teks & Foto: Andreas Winfrey

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON