Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna
View Gallery
35 Photos
Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Nepal: Belaian Matahari untuk Puncak Annapurna

Beberapa hari gelisah setelah menonton film The Secret Life of Walter Mitty, saya terbangun dari tidur dan mendadak ingin pergi ke suatu tempat yang baru, jauh, dan indah untuk “mengisi” hidup saya. Namun setelah melihat rekening, sepertinya isi dompet juga dalam status perlu diisi oleh lembaran merah dan biru.

Tidak menyerah karena sudah beberapa kali travelling dalam situasi serupa, saya tetap membuka beberapa situs maskapai penerbangan. Variabel pencariannya mudah saja, cari negara yang tidak butuh mengurus visa, serta negara paling jauh yang dapat dicapai oleh si airline dan si isi dompet. Akhirnya pilihan jatuh ke Nepal, sebuah negara kecil berpopulasi 27 juta orang yang terkenal dengan pegunungan Himalaya dan tempat bersemayamnya Gunung Everest.

Berangkat dari Jakarta yang panas, transit di Kuala Lumpur yang juga panas, saya akhirnya sampai di Kathmandu yang suhu udaranya mencekam. Angin dingin langsung menyapa ketika saya melangkahkan kaki keluar dari pesawat. Luar biasa, saya meriset tentang mata uang, sejarah singkat, tempat tinggal, hingga objek wisata, tapi saya lupa untuk meriset tentang iklim di Nepal. Satu-satunya baju hangat yang saya bawa adalah sweater hitam yang menempel di badan saat itu. Selesai mengurus visa-on-arrival seharga $25, saya bergegas keluar dan mencari Kumar, seorang Nepali yang telah saya hubungi dari Jakarta untuk mengantar saya menuju hotel di daerah Thamel, pusat wisata Kathmandu.

Setelah selesai menaruh tas di kamar yang dingin dan kecil, saya lalu berjalan keluar hotel. Suhu 16 derajat celcius di siang hari terasa begitu menusuk tulang. Saya menghabiskan hari pertama dengan berjalan kaki di sekitar Thamel dan Durbar Square. Toko suvenir, hotel backpacker, toko peralatan hiking, restoran, hingga money changer bertebaran. Secara umum, tingkat kriminalitas di Kathmandu rendah, tapi yang harus diwaspadai adalah banyaknya warga yang akan mengajak bicara seraya ikut berjalan dan memandu tanpa kita minta, dan akhirnya meminta bayaran. Saya sendiri sempat mengalami kejadian ini. Namun setelah memutar otak mencari akal agar tetap dapat dipandu tanpa harus membayar 8000 rupee, saya mengaku baru saja ditipu dan tidak memiliki uang banyak. Alhasil, ia pun bersedia dibayar 2000 rupee untuk dua jam. Lumayan dapat mengelilingi kota seraya dijelaskan sejarahnya, termasuk tentang The temple of Annapurna Ajim, Dewi Kecukupan Makanan yang sangat dihormati oleh Nepali.

Saya juga menikmati makanan Nepal pertama saya bernama Momo, yang adalah sejenis pangsit dengan isi yang dapat dipilih antara daging yak atau ayam. Gigitan pertama sangat melegakan, karena salah satu kekhawatiran saya adalah lidah saya yang tidak cocok dengan cita rasa makanan Nepal. Aroma rempah khas makanan Nepal–India sangat terasa di mulut, namun tidak berlebihan. Saya juga memesan Chai Tea, minuman favorit orang Nepal yang merupakan campuran teh herbal dan susu segar. Luar biasa, baru beberapa saat menyi-sihkan teh tersebut, di atasnya sudah terbentuk lapisan lemak susu tebal yang kenikmatan rasanya membuat ketagihan! Setelah kenyang, saya memutuskan kembali ke hotel untuk istirahat karena suasana pesawat yang ramainya seperti pasar membuat saya tidak mampu tidur selama 4,5 jam penerbangan.

Keesokan harinya, pada pukul 5.30 pagi yang indah dan ditemani oleh suhu minus dua derajat yang tidak indah, saya bangun dan bergegas berjalan kaki ke bus yang siap membawa saya ke Pokhara. Ada dua pilihan jika ingin berangkat ke Pokhara, pertama naik pesawat dengan harga tiket kurang lebih 10000 rupee (sekitar USD$100) atau menggunakan bus dengan harga tiket sekitar 500 rupee. Pada bulan Februari, lalu lintas jalan yang juga menjadi rute truk komoditas dari dan ke Nepal cukup tinggi, sehingga perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh 5–6 jam alhasil menjadi 8 jam. Suasananya di Pokhara sangat jauh berbeda dibandingkan suasana perkotaan Kathmandu.

Hari berganti, dan saya siap menuju Nayapul. Tiba di sana, perjalanan dengan alat transportasi sudah selesai bagi saya dan trekking menuju Poon Hill pun dimulai. Pendakian pada hari pertama memakan waktu selama 4 jam sampai ke Hile, semacam pos atau desa wisata dengan hotel sangat sederhana di dalamnya, tapi cukup untuk melindungi fisik dan mental dari rasa dingin yang semakin menusuk saat malam. Pada saat saya di situ, malam hari tidak ada listrik karena pembangkit listrik sedang mengalami gangguan sehingga saya akhirnya berjalan hanya menggunakan senter seraya menyaksikan keindahan bintang-bintang di langit. Untuk menggambarkan keramahan Nepali, saat saya sedang duduk kedinginan di depan hotel lain, saya disapa dan diajak masuk ke dalam rumah sang pemilik hotel mereka yang sangat sederhana untuk bermain kartu. Waktu yang semakin malam pun mengharuskan saya untuk pamit menyiapkan tenaga untuk petualangan keesokan harinya.

Hari ke-4 di Nepal saya siap untuk melanjutkan proses trekking. Seiring perjalanan, medan pun semakin sulit. Saya hampir tidak menemui jalanan rata dan yang paling menguji mental saat, di satu titik saya harus berpijak pada tangga dan batu-batu yang ditanam seadanya melewati beberapa bukit batu selama empat jam. Sedikit kehilangan konsentrasi maka saya akan dengan anggunnya langsung jatuh ke jurang di kanan kiri. Saat sudah lelah, mudah sekali merasa rindu dengan hangatnya Indonesia. Refleks saya meraih HP saya dan menyalakan lagu Bengawan Solo.

Sambil istirahat, guide saya menunjuk  ke arah seberang, ternyata ada puncak gunung salju Annapurna yang mencuat di balik lembah. Pemandangan yang luar biasa diiringi lagu kampung halaman memberi tenaga ekstra untuk melanjutkan perjalanan. Pada sore hari menuju Ghorepani, sebuah desa yang  akan menjadi pos terakhir saya, udara terasa semakin kering dan rerumputan juga terlihat layu. Sekelebat di arah hutan saya melihat salju! Ternyata saya sudah berada di ketinggian 9000 kaki setelah trekking selama delapan jam. Saya teruskan berjalan sekitar 15 menit memasuki desa Ghorepani dan langsung menuju hotel untuk istirahat. Setelah trekking selama delapan jam, pemandangan Pegunungan Himalaya dan Puncak Annapurna sungguh tidak sia-sia untuk diperjuangkan.

Ghorepani sendiri adalah sebuah desa wisata yang bersebelahan dengan letak ketinggian sekitar 9500 kaki di pusat Nepal. Nama Ghorepani berasal saat para pedagang menemukan air (pani) untuk kuda (ghora) milik mereka pada zaman perdagangan lampau. Setelah makan Dhal Bat, makanan berat khas Nepali yang terdiri dari nasi, potongan daging dengan kuah kari serta kerupuk, saya duduk di perapian ruang tamu. Ada sebuah tungku kayu bakar besar dengan sofa-sofa yang disesaki oleh turis, maupun porter untuk menghangatkan diri. Suasana kekeluargaan sangat terasa dan kami saling bertukar cerita perjalanan selama berjalan dari awal hingga ke Ghorepani.

Pukul 4 subuh saya bangun dan menyi-apkan diri untuk trekking ke tujuan akhir, Poon Hill yaitu sebuah bukit di sebelah desa Ghorepani. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Beberapa kali saya harus ekstra hati-hati karena jalan yang kami lalui sudah menjadi es yang luar biasa licin. Saya tiba di puncak sesaat sebelum matahari terbit. Kami dengan sabar menanti terpaan matahari menyiram puncak Annapurna, yang merupakan puncak tertinggi kesepuluh di dunia. Pengalaman menyaksikan pegunungan Himalaya yang terbentang di depan mata memberikan sentuhan spiritual yang mendalam, hingga tidak terasa air mata pun menetes melihat keindahan ini.

Menghabiskan sisa hari di Nepal, saya menuju Gupteshwar Cave, sebuah gua batu kapur yang terbagi menjadi dua area. Area pertama disakralkan sebagai tempat penyembahan Dewa Shiva. Sedangkan area satunya lagi merupakan area yang dapat dijamah turis, tempat sebuah air terjun berhiaskan cahaya matahari sore. Hari ke delapan pun tiba dan saya harus mengucapkan selamat tinggal ke teman-teman di Pokhara. Dengan menumpang bis pagi saya kembali ke Kathmandu untuk bermalam sehari sebelum melanjutkan penerbangan kembali ke Jakarta. Bersiap pulang, keramahan Nepali membuat saya ingin tinggal lebih lama. Nepal, saya akan kembali!

Teks & Foto: Mario Putra

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON