Nature’s Blessing

Nature’s Blessing
View Gallery
7 Photos
Nature’s Blessing

Nature’s Blessing

Nature’s Blessing

Nature’s Blessing

Nature’s Blessing

Nature’s Blessing

Nature’s Blessing

Jika tak ada erupsi gunung berapi 135 juta tahun silam, mungkin kini Shenzhen tak percaya diri mengundang masyarakat dunia untuk mendatanginya. Mungkin juga tak banyak cerita yang bisa dibagi kepada penduduk lokal, terlebih pelancong mancanegara. Satu yang pasti, kota ini tak mungkin serius menggarap sebuah proyek demi mencuri perhatian UNESCO.

Proyek yang dinahkodai LeeMundwiler Architects ini menjadi bukti bahwa tak selamanya bencana alam mematikan kehidupan setempat hingga akhir zaman. Bahkan, di tangan yang tepat, kehancuran di masa lampau justru dapat diubah menjadi kekayaan di masa kini dan masa depan. Seperti itulah pembuktian yang ditunjukkan oleh Geology Museum & Research Center di kawasan Dapeng Peninsula, Shenzhen, Tiongkok. Pembangunan proyek ini berlatar belakang sebuah peristiwa alam. Karenanya, sudah sewajarnya jika banyak pendekatan terhadap alam yang diadopsi dalam setiap guratan sketsa yang dibuat. Para arsitek pun mengakuinya. Mereka terinspirasi sosok bebatuan dan formasi jalan khas pedesaan setempat dalam mendesain bangunan.

Unsur bebatuan berperan utama dalam rupa bangunan. Polesan warna abu muda di seluruh bagian membuat bangunan ini tampak seperti batu raksasa yang berserakan di tengah pegunungan terjal. Penggunaan warna ini juga membuat bangunan terlihat samar saat awan tipis menyelimutinya. Momen inilah yang paling saya suka, sebab keinginan para arsitek untuk mengaburkan batas antara karya manusia dengan ciptaan Tuhan tersampaikan dengan jelas. Formasi jalan yang berliku khas pedesaan juga menginspirasi mereka untuk membuat konstruksi berbentuk zig-zag tak beraturan dan membentuk lekuk tajam di tiap sudutnya.

Bentuk pendekatan terhadap alam yang paling nyata terwujud dalam desain fasad yang dibuat untuk jangka panjang. Mereka mengaplikasikan tekstur kasar pada permukaan bangunan guna memberi ruang bagi vegetasi sekitar untuk berkembang sehingga nantinya berbagai jenis lumut dapat tumbuh menjadi hiasan alami eksterior bangunan. Sejenak meninggalkan kekaguman akan tampilan luar, pengunjung diajak merasakan atmosfer berbeda sejak menapak di lobi utama museum. Lebih jauh melangkah, pengunjung akan memasuki ruang utama dalam bangunan yang dinamai Ruang Pameran. Di ruang ini, pengunjung bisa leluasa menguak berbagai misteri seputar bumi dan isinya. Arsitektur dan desain interior yang terkesan formal dan minimalis menciptakan ketenangan ketika berada di dalamnya.

Hal ini seolah memberi ruang bagi kita untuk sejenak meresapi kekuatan Tuhan dalam menciptakan, mengubah, dan suatu hari akan menghancurkan tempat kita berpijak sekarang. Museum seluas 6.200 meter persegi ini tak berdiri sendiri. Ada sebuah bangunan kecil yang menemaninya. Dengan ukuran yang hanya seluas 2.800 meter persegi, membuat surga bagi para akademisi ini memiliki ruang yang lebih sedikit. Namun, keberadaan sebuah teluk di dekatnya mampu menghadirkan kelapangan bagi pandangan mata. Dua bangunan yang dipisahkan oleh taman tersembunyi tersebut menjadi persembahan Shenzhen untuk menghadirkan taman geologi bertaraf internasional. Di luar prestasi yang mereka kejar, impian sederhana Geology Museum & Research Center adalah untuk menjamin konservasi taman ekologi dan bisa menginspirasi daerah lain di seluruh dunia.

Teks: Erin Widyo Putri / Foto: Dok. Publication-Geology Museum

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON