More than a Winner

More than a Winner

Delapan puluh enam tahun, 2.947 piala bagi para pemenang. Tapi, apakah mereka “pemenang” yang sebenarnya? Atau mungkin, siapakah “pemenang” sebenarnya?

Hari Minggu nanti (28 Feb 2016), perhelatan Oscar akan kembali diadakan untuk yang ke-87. Acara penghargaan kepada insan perfilman kelas dunia ini terhitung sudah memberikan total 2.947 piala sejak awal penyelenggaraannya pada tahun 1929. Angka 2.947 ini bisa dianggap mewakili jumlah “pemenang” (baik untuk perorangan maupun tim) yang didapat sepanjang 86 tahun. Melihat kurun waktu penyelenggaraan ajang ini, jumlah itu bukanlah sesuatu yang wah. Tetapi, coba lihat dari sisi lain, dari sisi para “loser”. Pihak-pihak yang tidak sempat mencicipi kebanggaan berdiri di atas panggung, disaksikan ratusan kalau bukan ribuan pasang mata saingan maupun koleganya – belum termasuk pemirsa televisi yang berbeda waktu dan tempat. Mereka tidak pernah merasakan “diganjar” dengan sepatutnya, sebagai suatu penghargaan atas kerja keras demi sebuah piala bersepuh emas yang konon murni 24 karat.

Pernahkah kita menghitung seberapa banyak orang yang menjadi “bukan pemenang” ini? Seberapa banyak nominee, baik perseorangan maupun tim, yang pulang ke rumah dengan membawa kekecewaan karena kalah? But, wait a minute, benarkah mereka kalah? Anda mungkin bilang, tentu saja. Mereka, kan, tidak menang, tidak dapat piala, jadi mereka orang-orang yang kalah, dong. Apa betul seperti itu? Apakah menang-kalah hanya sebatas satu dari sekian banyak orang yang mendapat piala? Bukankah seni itu adalah masalah perasaan. Sejauh mana orang yang melihat bisa menghargai dan memberi nilai pada seni tersebutlah yang membuat sebuah seni berharga. Bernilai atau tidak?

Katakanlah demikian adanya, apakah Anda yakin dengan tolak ukur, atau standar penilaian yang digunakan oleh para juri AMPAS (yang menurut sebuah artikel online berjumlah 6.261 orang)? Anda mungkin berkata, mau bagaimanapun, itulah standarnya. Mereka, kan, yang dianggap dapat mewakili pemirsa, penikmat film di seluruh dunia ini. Pertanyaan saya, apakah Anda sungguh merasa terwakili dengan para juri tersebut?

Sungguh, lets think about it. Seni bukanlah sebuah harga mati. Bukan sesuatu yang dapat dengan mudah dinilai harganya. It connects with out heart, our feeling. Film dalam hal ini, sangat berkaitan dengan persepsi maupun emosi setiap penontonnya. Suatu film yang sangat dekat dengan pola pemikiran kita, dekat dengan level imajinasi, maupun latar belakang history kita, sudah pasti membuat kita menyukainya, tidak peduli apa kata orang tentangnya. Benar atau benar?

Kalau saja setiap orang dan juri bisa berpikir demikian, apa dasarnya kita bisa berkata bahwa kita percaya pada penilaian mereka.

Saya bukan ingin membahas mengenai juri maupun standar penilaian mereka. Tentu saja mereka dipilih karena rekam jejak dan kelihaian, dan yang terpenting kapabilitas mereka dalam bidangnya. Yang ingin saya katakan adalah, setiap orang, setiap tim, yang sudah sampai pada tahap nominee, menurut saya sudah meraih “kemenangan” tersendiri.

Anda pasti tahu Leonardo Dicaprio. Dialah alasan saya membuat tulisan ini. Banyak orang, kalau bukan semua, yang membayangkan sekaligus mengaharapkan kemenangannya dalam ajang Oscar kali ini.

Berbekal akting “berani mati”, total komitmen untuk perannya, serta pengorbanan-pengorbanan kecil maupun besar yang dilakukan selama proses pembuatan film The Revenant, membuat Leo digadang-gadang menggapai Piala Oscar pertamanya seumur hidup. Saya sendiri merupakan pendukung Leo. Bukan hanya karena sudah menyaksikan spektakulernya film karya Iñárritu tersebut, tetapi karena melihat track record film-film Leo selama ini, yang sarat dengan kualitas mumpuni seorang aktor Hollywood kelas satu (tentu saja ada berbagai kelas di Hollywood, mungkin rating dalam situs IMDB cukup untuk memberi gambaran untuk mengukur kelas-kelas ini).

Sebegitu “hebohnya” perjuangan Leo kali ini bahkan sampai memancing sebuah situs, The Line, untuk membuat game. Game sederhana ini menggambarkan betapa sengitnya usaha Leo menggapai his first one ever Oscar statue. Sempat memainkannya sebentar, it turns out game ini lebih bagus dari anggapan awal saya saat membaca berita tentangnya. Sembari melihat menariknya kemasan visual game ini, saya teringat kembali peristiwa sesudah acara Oscar tahun lalu (2015) – saat Leo yang diperkirakan menang ternyata kembali pulang dengan tangan hampa. Saat itulah, di berbagai situs sosial, muncul beragam meme maupun tanggapan, baik yang mendukung  (fans, maupun orang-orang yang menghargai hasil usaha dan karyanya) maupun yang sinis, terhadap so called “kegagalan”-nya.

Namun, dengan semakin besarnya “dukungan” publik yang timbul, yang berharap Leo tahun ini bisa menang, saya menjadi ragu, apakah hal ini ikut memberi andil kepada para juri untuk secara langsung atau tidak langsung terpengaruh memuluskan perjuangannya? Di luar masalah juri dan penilaian, apakah faktor “tidak adanya saingan yang sepadan” bisa berarti otomatis Piala Oscar sudah berada dalam genggaman Leo sejak The Revenant masuk nominasi? Inilah yang menurut saya menjadi faktor “kurang adil”-nya penilaian untuk Oscar tahun ini. Lalu, kalau berandai-andai, Leo dalam “ketidakberuntungannya” gagal menang (lagi), apakah ini berarti aktingnya/kerja kerasnya tidak cukup membawa karyanya setara dengan karya “pemenang-pemenang” dari tahun sebelumnya? Is Oscar is all about win or lose semata?

Di saat seorang aktor telah mengeluarkan segenap upaya, apapun yang dia punya, baik intelektual maupun emosi, dalam berkarya, bukankah dia bisa dianggap sebagai pemenang? I once told by someone, “Kalau seseorang mengajakmu berjalan sejauh 1 mil, berjalanlah dengannya sejauh 2 mil.” Artinya, doing extra miles dalam apapun yang kita kerjakan. Buat saya, itu berarti usaha atau perjuangan melawan diri sendiri. Apapun yang kita kerjakan, berjuanglah seolah-olah kita harus dapat melebihi yang sudah kita kerjakan. Pada akhirnya, hasil usaha kita tidak akan lagi menimbulkan penyesalan, karena tidak ada ruang tersisa yang memungkinkan kita menyempilkan kekecewaaan itu. We’ve already give all that we’ve got. We give it all out. For me that means you are more than a winner.

Jadi, kalaupun tidak “dihargai” oleh sekelompok orang, hal ini sama sekali tidak menyisakan kekecewaan, kepedihan, ataupun perasaan negatif lainnya. Kita tahu, deep down inside, we are the winner. Maybe not in the sight of others, but in our mind and heart and of course in front of God, our Maker, we know we are the winner. That’s what matter the most.

As for me, dengan atau tanpa Piala Oscar, Leo is the winner for this year, for The Revenant movie. Anda atau fans lainnya pun mungkin mengharapkan hal yang sama. Ingat dengan yang terjadi pada Valentino Rossi ketika tahun lalu “gagal” menjadi juara dunia (dengan berbagai kontroversi yang menyertainya). Ia tetap disoraki dan diterima, bahkan diperlakukan sebagai seorang pemenang oleh para fans maupun oleh orang-orang yang menghargai hasil kerja keras dan perjuangannya. He is the people’s winner.

Now the new problem in my mind is, is Leo more than a winner? Setelah “menang” pada hari Minggu nanti, apakah dia tetap memiliki semangat/dorongan sedemikian panas membaranya untuk mengejar kesempurnaan berkarya? Atau, malah menurun setelah tercapainya tujuan yang selama ini baru sebatas nominasi? Is he a winner or more than a winner? Are you a winner or more than a winner?

 Join us to see the Oscar live. : ) Tabik.

 

Teks: Martin Dima / Foto: Dok. Spesial

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON