Merasakan Dinginnya Musim Semi

Kesan “dingin” atau ketidakramahan menjadi kesan pertama begitu kaki menapaki Bandar Udara Internasional Sheremetyevo. Kesan itu pun sirna manakala saya  mengantre untuk mendapatkan permit entrance di imigrasi. Tak  terlihat antrian panjang yang  berarti, seraya menyambut para wisatawan mancanegara dengan “keramahan” khas Rusia, cepat, sigap, dan tak bertele-tele.

Tak banyak dijumpai wisatawan Asia. Mungkin hanya saya dan keluarga satu-satunya grup berperangai “unik”. Selebihnya? Terlihat sosok-sosok tinggi menjulang dan berkulit pucat. Memang, wisatawan yang berkunjung ke Rusia sebagian besar berasal dari negara-negara tetangga. Begitu menapaki exit gate bandara, embusan angin terasa begitu menusuk tulang. Bukankah ini musim semi? Jaket yang sempat saya lepas pun terpaksa harus dikenakan kembali. Letak geografis Rusia menjadikannya beriklim dingin abadi. Jangan coba-coba datang saat winter jika  tak sanggup menghadapi udara di bawah minus derajat celcius. Masa terbaik untuk berpelesir ke Rusia adalah pada saat late spring (April-Juni) dan early autumn bulan (September-Oktober). Kehadiran saya di Senin pagi langsung disambut dengan hiruk-pikuk Moskow. Taksi yang membawa saya  pun terperangkap di tengah lautan kendaraan  bermotor yang  bersiteru  menuju  pusat  kota. “Pemandangan yang lumrah”, begitu ujar sopir taksi saya, Mister Bach.

Moskow: Dingin Sepanjang Tahun

Perjalanan mengelilingi Moskow pun dimulai. Kendala bahasa dan sulitnya menemukan aksara latin di berbagai fasilitas umum membuat saya memutuskan untuk menyewa minivan lengkap dengan supir dan pemandu tur. Sebagian besar  penduduk  lokal memang tidak  mahir berbahasa  Inggris. Mengandalkan bahasa tubuh merupakan cara jitu bagi saya untuk menemukan lokasi restroom.  

City tour dimulai dengan meyambangi Red Square atau Lapangan Merah. Mungkin hanya  inilah lapangan yang amat strategis dan bernilai tinggi di pusat kota, Moskow. Bagaimana tidak? Terdapat banyak bangunan penting dan bersejarah mengelilingi Red Square. Di antaranya ialah Lenin’s Mausoleum, GUM State Department Store, Kremlin, serta Saint Basil’s Cathedral.

Pagi hari merupakan waktu yang tepat untuk menjajal seluruh tempat di sekitaran Red Square. Saya pun memulai dengan Lenin’s Mausoleum, merupakan tempat disemayamkannya jasad tokoh politik Vladimir Putin. Antrean panjang sudah biasa terlihat sejak pukul 08.30 pagi. Antusiasme wisatawan asing terlihat mendominasi antrean. Museum ini sengaja memiliki cahaya yang sangat minim untuk memberi kesan dark and cold sesuai dengan sosok Lenin sehingga harus berjalan ekstra hati-hati. Berbagai  memorabilia saat berkuasanya  Lenin mendominasi isi museum. Namun, hal yang paling menarik perhatian tak lain adalah jasad Lenin yang telah diawetkan dan disimpan dalam museum sesaat setelah kematiannya di tahun 1924.

Gemericik hujan mulai mem-basahi siang itu. Saya pun bergegas memasuki GUM State Department Store (Goom–red), yang letaknya berseberangan dengan Lenin’s Mausoleum. GUM merupakan pusat perbelanjaan elite dengan bangunan bergaya klasik Eropa. Di dalamnya berjejer beragam toko high-­end brand hingga high-­street brand, serta beberapa toko souvenir. Saya pun kagum melihat begitu besar dan indahnya bangunan GUM. Tak terasa seperti berada di dalam mall! Menuju lantai teratas, terdapat berbagai jenis restoran dan food court yang pas untuk mengisi perut di siang hari. Pada era Uni Soviet, lantai teratas GUM dikenal sebagai Section 100  merupakan toko busana rahasia yang hanya diperuntukkan bagi eselon atas Partai Komunis. Sayangnya, renovasi di bagian luar GUM menghalangi saya untuk menikmati keindahan holistik arsitektur bangunan.

Setelah puas berkeliling GUM, State Historical Museum menjadi pemberhentian selanjutnya. Letak museum yang diresmikan oleh Tsar Alexander III ini berada di antara Red Square dan Manege Square. Gedung monumental berwarna merah bata ini menyimpan jutaan memorabilia sejak zaman prahistoris hingga karya seni warisan Dinasti Romanov. Museum ini begitu besar dan tentunya akan memakan banyak waktu jika menjelajah tiap hall yang ada. Ada baiknya cek dulu book of description terpapar hal-hal apa saja yang terdapat di dalam sebuah hall sebelum memasuki hall.

The Cathedral of the Intercession of the Virgin by the Moat atau lebih populer dengan sebutan Saint Basil’s Cathedral di bawahnya terkubur Basil The Blessed, yang meramalkan akan adanya kebakaran besar di Moskow, sebelum akhirnya dibangun katedral. Selesai dibangun di tahun 1560, katedral ini dibangun atas suruhan dari Ivan The Teribble sebagai tanda penangkapan Kazan tentara Mongol di tahun 1552. Konon, Ivan secara sengaja membuat kedua arsiteknya, yakni Barma dan Postnik Yakovlev buta agar mereka tidak membuat bangunan lain yang mengalahi keindahan St. Basil.

Tidak ada bukti nyata perihal hal tersebut sehingga para sejarawan  hanya menganggapnya sebagi urban folklore. Believe it or not. Saya pun kagum dengan keindahan dari keunikan arsitektur St. Basil yang kini bertransformasi menjadi museum. Jangan lewatkan setiap inci tembok yang berlukiskan motif flora dan geometri.

Saat saya mengelilingi bangunan luar St. Bassil’s Cathedral, terlihat sekelompok lansia yang sedang berorasi santai dengan membawa bendera Partai Komunis. Seraya melihat saya terheran-heran, pemandu tur saya pun menjelaskan bahwa sekali dalam seminggu memang masih ada kelompok yang  sebagian besar anggota adalah lansia  yang masih mencintai dan berusaha  mengingatkan kembali generasi muda bahwa Partai Komunis pernah membawa kesejahteraan bagi Rusia. Sungguh pemandangan yang membekas.

Beranjak ke sisi selatan dari Red Square, saya menemukan jejeran booth yang menjual berbagai macam barang. Sebagian besar barang yang dijual memang merupakan souvenir. Anda dapat menemukan kaos, pajangan keramik, hingga boneka kayu khas Rusia, matryoshka. Sebagai penggemar pernak-pernik unik, saya pun kalap membeli sejumlah boneka matryoshka dengan berbagai bentuk dan motif. Moti pada matryoshka ini mencerminkan daerah asal sang pembuatnya, meskipun banyak juga yang sudah menggunakan motif modifikasi modern. Rasanya pas menjadikan matryoshka sebagai buah tangan.

Selain bangunan ikonik, Moskow juga populer dengan wisata seninya. Begitu banyak gedung pertunjukan seni bertebaran di sudut-sudut kota. Tidak seperti New York dengan Broadway, Moskow tidak memiliki distrik khusus dengan deretan gedung pertunjukan. Namun, adanya pusat informasi di berbagai  lokasi  wisata strategis memudahkan wisatawan asing untuk menemukan informasi seputar lokasi gedung, jadwal, dan pembelian tiket pertunjukan. Salah satu yang saya temukan ialah di dalam GUM Department Store.

Bolshoi, Moscow Art Theatre (MAT), dan The Maly Theatre  merupakan tiga gedung pertunjukan seni yang terbilang paling populer di kalangan wisatawan. Menyaksikan pertunjukkan  balet  di Bolshoi merupakan salah satu dari wishlist saya. Sayang, saya ternyata belum berjodoh dengan Bolshoi. Saat saya hendak menanyakan info tentang jadwal pertunjukan di Bolshoi, petugas loket pun dengan tanpa bebannya mengatakan bahwa, “Maaf, Bolshoi sedang dalam tahap renovasi.” Bak disambar  petir, saya pun harus menerima kenyataan tersebut. Akhirnya,  saya dan keluarga harus puas dengan menyaksikan pertunjukkan balet “Swan Lake” di MAT.

Pertunjukkan berdurasi dua jam ini betul-betul menggugah sekali. Para ballerina  berbusana  serba putih melebur dengan putih bersihnya kulit para ballerina yang mayoritas berdarah asli Rusia. Tak terbersit perasaan bosan sepanjang pertunjukkan. Set panggung yang apik, kelincahan ballerina, dan megahnya musik orkestra yang mengiringinya seolah menyebarkan sihir magis. Membius tiap-tiap penonton yang menyaksikannya. Seusai pertunjukan, para penonton pun dapat menyambangi toko souvenir  yang berada di lantai dasar.

Dijual beragam souvenir, mayoritas berwujud “ballerina”, dalam bentuk pajangan keramik, boneka, gantungan kunci, hinggapouch dengan kualitas premium. Bagi penggemar hal-hal yang bernuansa fairy-­tale atau whimsy mungkin akan merogoh kocek cukup dalam. Memang, harga souvenir resmi jauh lebih mahal ketimbang membeli tiruannya yang dijual di kios-kios pinggir jalan.

Jejak Royal di St. Petersburg

Setelah menjelajah Moskow selama tiga hari, kami pun melanjutkan  perjalanan ke St. Petersburg. Kami menumpangi Transaero Airlines dengan lama penerbangan 1 jam 20 menit. Sesaat menjelang ketibaan kami, badai besar mendadak menghadang pesawat kami untuk mendarat di Bandar Udara Pulkovo. Pesawat pun harus berputar-putar di sekitar bandara selama hampir 20 menit hingga akhirnya diizinkan mendarat. Guncangan hebat begitu terasa di kabin pesawat mungil kami. Sepanjang perjalanan menuju tempat menginap, pemandangan menyejukkan mata terhampar di sisi kanan dan kiri jalan. Bagaimana tidak? St. Petersburg memiliki banyak sungai yang begitu indah. Minivan yang membawa saya dan keluarga pun berhenti di Neva River. Penduduk  lokal banyak menghabiskan  waktu sorenya dengan berjalan kaki di sekitaran  sungai  berhiaskan patung-patung ikonik, salah satunya adalah patung Peter the Great menunggang kuda. Cukup lengkapnya fasilitas umum menjadikan bantaran Sungai Neva sebagai tempat yang nyaman. Jejeran kursi, toilet umum, dan kios-kios makanan dapat dengan mudah ditemukan. Terlihat juga penduduk lokal yang tengah memancing. Selain itu, terdapat pula kapal-kapal yang membawa penumpangnya menyusuri indahnya gemericik air sungai. Pemandangan panoramik bak gambar pada kartu pos mengepung Sungai Neva. Menjadikan sungai ini sebagai must-­visit spot saat mengunjungi St. Petersburg.

Keesokan harinya, kami mengunjungi Distrik Peterhof yang merupakan sebuah wilayah yang dikeli-lingi banyak istana dan taman yang terbelah oleh sungai dengan luas berhektar-hektar yang dijuluki sebagai “The Russian Versailles”. Begitu memasuki area istana, pengunjung akan disambut dengan escort yang berkostum ala bangsawan lengkap dengan wig serta rias wajah. Pengunjung diperbolehkan untuk berfoto, baik menggunakan kamera sendiri  maupun memakai jasa juru foto instan istana. Kami pun mengunjungi salah satu istana, yakni The Winter Palace. Bangunan istana berwarna kuning dan putih ini ditempati untuk terakhir kalinya oleh keluarga besar Tsar Nicholas II sebelum akhirnya mereka sekeluarga dibantai musuh pada masa Perang Dunia I. Waktu 2 hingga 3 jam dirasa cukup untuk mengelilingi isi dalam dan luar istana, berjalan di taman, serta berfoto di air mancur yang hanya menyala pada musim semi dan panas.

Jangan lewatkan pula State Hermitage Museum yang berisikan  furnitur asli peninggalan keluarga royal serta koleksi  seni  bernilai jutaan euro. Jangan khawatir jika perut terasa lapar saat mengelilingi istana. Masih di sekitaran kompleks istana tersedia kafetaria yang menjual makanan dan minuman dengan beragam pilihan menu, mulai dari Italian food hingga American food tersaji. Anda diharuskan memilih sendiri makanan serta minuman, kemudian langsung membayarnya setelah selesai memilih. Harganya pun terbilang bersahabat untuk sebuah diner yang berlokasi di dalam tempat wisata. Namun, area makan yang tidak begitu luas menyebabkan antrean yang cukup panjang.

Usai menikmati keindahan royal di Peterhof, pemandu wisata kami membawa kami mengunjungi berbagai peninggalan religius. Gereja atau katedral bergaya arsitektur Ortodoks menjadi highlight penjelajahan kami selanjutnya. Pemberhentian pertama kami adalah Katedral St. Isaac. Bangunan eksterior gereja didominasi dengan patung-patung dan pilar-pilar granit. Sedangkan interior gereja dihiasi lukisan dan pilar-pilar berbahan perunggu dan batu lapis lazuli. Kini, dalam kesehariannya, gereja hanya diperuntukkan sebagai museum. Kebaktian di gereja St. Isaac hanya berlangsung pada hari-hari besar keagamaan saja.

Selanjutnya, kami pun menyambangi the Church of Our Savior on the Spilled Blood. Lokasi di mana gereja ini berdiri merupakan lokasi dibunuhnya Emperor Alexander II di bulan Maret, 1881. Gereja bergaya arsitektur Rusia ini meskipun arsiteknya, A. Parland bukan kelahiran Rusia sempat ditutup saat Bolshevik berkuasa  hingga akhirnya dibuka kembali pada tahun 1997 setelah  menga-lami restorasi selama lebih dari 30 tahun.

Salam Perpisahan

Perjalanan menuju Moskow pun kembali kami tempuh dengan pesawat. Singkatnya  waktu  yang kami miliki menjadikan pesawat sebagai moda transportasi yang paling pas. Jika ada waktu lebih, tak ada salahnya untuk mencoba metro atau kereta yang menghubungkan berbagai kota di Rusia. Lima hari pun telah berlalu. Sungguh waktu yang amat singkat untuk mengelilingi Moskow dan St. Petersburg. Do svidaniya, Russia!

Teks & Foto: Clarina Andreny

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON