Menikmati Sebesi: Keindahan di Selat Sunda

Menikmati Sebesi: Keindahan di Selat Sunda
View Gallery
10 Photos
Menikmati Sebesi: Keindahan di Selat Sunda

Menikmati Sebesi: Keindahan di Selat Sunda

Menikmati Sebesi: Keindahan di Selat Sunda

Menikmati Sebesi: Keindahan di Selat Sunda

Menikmati Sebesi: Keindahan di Selat Sunda

Menikmati Sebesi: Keindahan di Selat Sunda

Menikmati Sebesi: Keindahan di Selat Sunda

Menikmati Sebesi: Keindahan di Selat Sunda

Menikmati Sebesi: Keindahan di Selat Sunda

Menikmati Sebesi: Keindahan di Selat Sunda

Senyum dan sapaan ramah siap menyambut siapa saja yang mengunjungi Pulau Sebesi. Pulau berpenduduk 2.700 jiwa ini terletak di Selat Sunda, lautan yang memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Setelah menempuh perjalanan Merak–Bakauheni, saya dan rombongan melanjutkan perjalanan dengan angkot carteran ke Pelabuhan Canti. Termasuk wilayah Lampung Selatan, Pulau Sebesi bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu setengah jam dari Pelabuhan Canti di Kalianda. Tenang saja, kita tak akan bosan di kapal karena banyak pemandangan indah pegunungan dan pulau-pulau kecil sepanjang perjalanan. Setelah melewati Pulau Sebuku dan Pulau Umang, dari kejauhan terlihat sebuah gunung di tengah lautan. Itulah Sebesi, satu-satunya pulau berpenghuni dengan jarak paling dekat dengan Anak Krakatau, yakni gunung berapi teraktif di dunia.

“Bertetangga” dengan Anak Krakatau

Matahari nyaris tenggelam ketika kapal yang saya tumpangi merapat di dermaga Pulau Sebesi. Anak-anak kecil berlarian di sekitar kapal menyambut senang para tamu yang baru saja datang. Pulau ini hanya berjarak sekitar lima belas kilometer dari Anak Krakatau. Berdiri dengan ketinggian 813 meter di atas permukaan laut, Gunung Anak Krakatau memiliki suhu yang sangat panas, sehingga hanya sedikit tumbuhan yang bisa bertahan hidup di sana.

Gunung Anak Krakatau muncul sebagai dinding kawah antara tahun 1927 sampai 1929 di antara tiga pulau hasil letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883. Letusannya sangat dahsyat, disertai awan panas dan tsunami. Konon, suara letusannya sampai terdengar ke Australia dan Afrika. Korban jiwa dari letusan Krakatau berjumlah sekitar 36.000 jiwa.

Namun, sejarah Anak Krakatau tersebut tidak menggentarkan penduduk Pulau Sebesi untuk tetap bertahan tinggal di sana. Sebesi adalah rumah mereka. Anak-anak pergi ke sekolah dengan penuh semangat di pagi hari dan bermain riang di sekitar pantai pada sore hari. Sementara para orang tua bekerja sebagai nelayan maupun berkebun. Itulah pemandangan sehari-hari yang saya lihat selama menghabiskan beberapa hari di sana. Salah satu mata pencaharian utama di Pulau Sebesi adalah berkebun kakao. Tahukah Anda, bahwa kakao dari pulau ini diakui bermutu tinggi? Nyatanya tanah di pulau ini cukup subur, karena selain kakao, warga Pulau Sebesi juga menanam padi, jagung, dan pisang.

Mendaki Anak Krakatau

Ketika pagi baru saja menjelang, saya dan rombongan telah disibukkan untuk bersiap menuju kapal. Dalam setengah gelap dan udara yang masih cukup dingin, kapal mulai membelah lautan dengan satu tujuan: Anak Krakatau. Perjalanan dari Sebesi ke Anak Krakatau memakan waktu antara satu setengah hingga dengan dua jam. Begitu sampai di daratan, kami disambut dengan sebuah plang bertuliskan, “Cagar Alam Krakatau”. Dari situlah pendakian dimulai.

Sejenak saya melayangkan pandangan ke sekeliling. Diam. Hanya ada kekaguman yang tak sanggup diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. 

Jalur pendakian pada awalnya terbilang landai. Setelah melewati area cagar alam, pepohonan mulai berkurang bahkan tidak ada sama sekali. Yang terlihat hanyalah hamparan pasir menjulang curam menuju puncak. Pasir inilah yang membuat pendakian lebih berat. Sejauh mata memandang, hanya tampak laut, langit, dan beberapa pulau di sekitar, yang setidaknya mampu menjadi obat lelah.

Puncak di ketinggian 200 meter dpl bukanlah puncak Anak Krakatau yang sebenarnya. Dari sana, masih menjulang sebuah puncak lainnya yang seolah menikmati kesendirian. Puncak yang jaraknya terasa begitu megah. Sayangnya, puncak ini tidak memungkinkan untuk didaki karena untuk mencapainya kita harus melewati kawah vulkanik yang terus mengepulkan asap.

Saatnya Menikmati Kekayaan Bawah Laut

Setelah berkali-kali mengarungi lautan di atas kapal, sudah ada saatnya saya dan teman-teman menceburkan diri ke laut. Dengan peralatan snorkeling yang sudah dipersiapkan sebelumnya, debaran jantung terasa semakin kencang karena tak sabar menikmati keindahan bawah laut di sekitar Pulau Sebuku dan Pulau Umang. Di dalam perjalanan, kapal yang kami tumpangi sempat berhenti di sekitar Krakatau Besar, tak jauh dari Anak Krakatau. Namun arus laut di sana terbilang cukup kuat.

Arus laut di Pulau Sebuku jauh lebih tenang. Pasir putihnya pun terasa begitu menggoda untuk ditelusuri. Bertualang di bawah permukaan lautnya menyajikan warna-warni ikan yang berkeliaran di sana-sini, sungguh sebuah pemandangan yang menyegarkan mata. Meski hari sudah semakin sore, kami menyempatkan diri menuju Pulau Umang juga untuk snorkeling dan kemudian bersantai di pantainya. Di sana kami menaksikan karang-karang yang dengan mesra dibelai ombak. Dan horizon sana, matahari perlahan mulai menghilang dengan anggunnya, mengucapkan sampai jumpa dan berjanji akan menyambut kami di esok hari dengan keindahan yang tiada berujung.

Teks: Maisya Farhati / Foto: Maisya Farhati & Chendra Widyoputra

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON