Mengalir dalam Logika

Mengalir dalam Logika

Tiket dibeli, proyeksi gambar terpampang di layar lebar, dan, setelah selesai, ada hasrat yang menuntut untuk dikemukakan. Tidak bermaksud menghakimi, tapi memanfaatkan hak sebagai penonton agar tontonan menjadi lebih baik.

Demi menjaga keamanannya, Bu Mirna meminta tas yang disandang Sari. Setelah mengeluarkan dan memeriksa seluruh isi tas, wanita bertubuh gempal tersebut tidak menemukan benda yang dianggap mencurigakan. Yang tidak diketahui Bu Mirna, Sari sebenarnya mengambil sebuah cakram digital dari deretan kotak koleksi film. Cakram tersebut diselipkan di rok, di bagian belakang tubuh. Yang tidak diketahui Sari, isi cakram tersebut bukanlah film yang digemarinya, melainkan rekaman perbincangan “aksi” Bu Mirna.

Sekilas, tidak ada yang aneh dengan adegan di film A Copy of My Mind tersebut. Hanya saja, saat mengambil tas, Sari yang membelakangi Bu Mirna sempat membungkuk. Sementara, pakaian yang dikenakan wanita ini pun terbilang ketat. Jadi, menurut saya, keberadaan cakram digital yang diselipkan di dalam rok tentulah disadari oleh Bu Mirna. Kecuali mungkin jika pakaian yang dikenakan Sari lebih longgar, yang akan menyamarkan penampakan cakram tersebut. Tapi dalam film ini, tidak seperti itu.

Yang disayangkan dari kejadian itu adalah sikap yang agak “mengalahkan” logika demi membangun cerita. Bicara mengenai kehidupan sehari-hari, setiap orang tentunya tidak lepas dari kesalahan, kealpaan, kekhilafan, dan semacamnya. Memang, sangat mungkin seseorang luput memperhatikan bagian-bagian tertentu. Tapi dalam cerita itu, Bu Mirna ditampilkan sebagai sosok yang sangat berhati-hati dalam menjaga keamanannya (dia meminta dan memeriksa tas Sari). Orang seperti itu, menurut saya, akan memperhatikan segala aspek yang memiliki potensi untuk dicurigai. Sialnya, potensi tersebut terpapar di depannya, secara gamblang, tapi luput dalam penglihatan. Sikap kehati-hatian Bu Mirna dalam menjaga keamanannya pun seperti hancur.

Adegan tersebut menempati posisi penting dalam keseluruhan cerita, karena perilaku Sari yang mengambil cakram milik Bu Mirna lah yang membuat dia dihantui ketakutan dan menyebabkan kekasihnya, Alek, harus meregang nyawa. Tanpa adegan ini, jalannya cerita pun akan berubah. Yang menjadi pertanyaan, apakah demi membangun cerita logika harus (meski sedikit) dikalahkan? Apakah tidak ada cara lain agar cakram tersebut tetap keluar dari sel Bu Mirna dan cerita tetap berkembang seperti yang direncanakan?


Di tengah keheningan malam, suara sayup peluit menjadi penanda keberadaan Keller Dover. Meski samar, suara itu cukup kuat untuk sampai di telinga Detective Loki.

Tidak ada yang mencurigai Keller Dover berada di sekitar tempat kejadian. Tidak ada yang tahu bahwa ayah yang sedang mencari anaknya ini juga turut menjadi korban penculikan. Tapi, sayup suara peluit itulah yang menimbulkan kecurigaan adanya korban lain yang disekap di lokasi tersebut. Lalu, apa kehadiran suara peluit di akhir film ini mencurigakan? Sayangnya, tidak.

Keberuntungan memang sangat mungkin terjadi dalam kehidupan. Tentunya tidak sesering yang dialami MacGyver. Tapi dalam film Prisoners, keberuntungan itu tidaklah terjadi dengan tiba-tiba. Peluit ini sudah dimunculkan sejak awal film, dan menjadi salah satu ciri Anna Dover (yang kemudian diculik). Pergi ke manapun, Anna selalu mengalungkan sebuah peluit – termasuk ketika kemudian dia diculik dan dimasukkan ke dalam sebuah luang. Ketika kemudian sang penculik memindahkan Anna dari lubang dan peluit itu tertinggal lalu lubang tersebut berganti diisi oleh tubuh sang ayah (yang alih-alih berusaha membebaskan sang anak, tapi malah termasuk dalam daftar korban penculikan), logika pun terbangun dengan mulus. Tidak ada yang terkesan janggal atau dipaksakan. Ada persiapan yang terencana dari awal hingga akhir.

Elle datang ke peluncuran buku James Miller. Di tengah acara, karena anaknya kelaparan dan merengek dibelikan makan, Elle harus pergi dari acara tersebut. Tapi, sebelum pergi, Elle menitipkan secarik kertas bertuliskan pesan untuk disampaikan kepada sang penulis.

Keesokan harinya, James mendatangi galeri milik Elle. Mengobrol sesaat, keduanya lalu masuk ke dalam mobil dan melakukan perjalanan ke sebuah desa. Tidak ada yang istimewa. Yang ada justru kecurigaan. Bagaimana mungkin seorang penulis terkenal asal Inggris yang sedang meluncurkan bukunya di Italia mendatangi galeri milik wanita asal Prancis hanya karena pesan yang ditulis di secarik kertas? Tapi kemudian, sedikit demi sedikit rahasia mulai terungkap. James dan Elle menikah 15 tahun yang lalu. Tapi kemudian, keduanya memutuskan hidup berpisah. James mengejar ambisi menjadi penulis di negara kelahirannya, sementara Elle bertahan di negara yang penuh dengan kenangan romantis baginya.

Copie Conforme (Certified Copy) bukanlah film yang sejak awal memaparkan permasalahan atau latar belakang tokoh-tokohnya. Yang menarik dalam film ini adalah cara membangun cerita. Beberapa kali menonton film arahan Abbas Kiarostami, sepertinya sudah menjadi kekhasan sutradara asal Iran ini mengajak para penontonnya untuk bersabar. Jangan terburu-buru berasumsi bahwa ceritanya akan seperti ini, itu, akhirnya akan seperti itu, seperti ini. Jadilah penonton yang baik. Duduk manis dan nikmati tontonan yang disajikan. Toh, pada akhirnya, semua akan terpaparkan. Begitu kira-kira.

Secara perlahan, seiring jalannya cerita, satu demi satu pun dikemukakan. Permasalahan di antara pasangan ini, kesetiaan seorang istri yang menanti suaminya, perjuangan seorang wanita bertahan di negara asing yang menurutnya penuh dengan kenangan, dan sebagainya. Kesan “dingin” antara James dan Elle pun menjadi logis karena keduanya hidup berpisah selama sekian tahun dan komunikasi di antara mereka tidak terjalin dengan baik.

Usaha Elle untuk “menormalkan” pernikahannya pun dilakukan dengan perlahan-lahan. Dalam film ini, Elle merupakan sosok wanita yang sangat sabar. Bayangkan seorang wanita yang bertahun-tahun tidak bertemu dengan kekasihnya, dan ketika kesempatan itu datang, ada “gangguan” yang merengek untuk segera pergi dari kesempatan tersebut. Apa yang terjadi? Elle memilih menanggapinya dengan tetap tersenyum. Itu pula yang dilakukannya ketika menghadapi James. Komunikasi yang tidak berjalan baik harus dibangun perlahan-lahan. Meski harus berlaku layaknya orang asing yang kemudian berkenalan dengan orang asing lainnya mulai saling mengenal, Elle menjalaninya dengan tetap tersenyum. Sabar, sekaligus cerdas. Elle telah mengatur rencana perjalanan tersebut. Luciagno merupakan desa kecil yang penuh kenangan bagi Elle dan James, dan kenangan-kenangan itu yang dimanfaatkan Ella untuk “menormalkan” pernikahan mereka.

Pada akhirnya, semua itu terbayar. James dan Elle melakukan second honey moon di hotel, bahkan kamar yang sama, dengan tempat mereka merayakan honey moon 15 tahun sebelumnya. Begitu pula dengan kesabaran penonton yang mengikuti jalannya cerita. Pada akhirnya, hubungan yang terasa janggal pun terjawab alasannya.

Sebagai salah satu petinju sukses, hidup Billy Hope dikelilingi kemewahan. Rumah besar di lingkungan eksklusif, mobil-mobil terbaru dari merek premium, bahkan jam tangan mahal untuk sekadar hadiah kepada para kru. Tapi di balik itu, ternyata dia memiliki masa kecil yang suram. Yatim-piatu yang harus tinggal di panti asuhan.

Yang menarik adalah cara yang dilakukan untuk menyampaikan kisah kelam tersebut. Alih-alih membuat adegan flashback, seperti yang biasa dilakukan, yang dilakukan di Southpaw sangatlah menarik, setidaknya menurut saya karena saya sangat menyenangi cara penyampaian ini. Kekelaman tersebut disampaikan melalui beberapa cara. Berulang kali memang, tapi jauh dari kesan memaksa, dibuat-buat, atau membosankan. Kurt Sutter sebagai penulis naskah memanfaatkan peluang-peluang kecil yang tersedia untuk menyampaikan informasi tersebut. Alur tetap berjalan maju, sementara penggambaran masa lalu Billy Hope pun tersaji dengan lengkap.

Pernahkah memperhatikan ucapan seorang komentator pertandingan? Ketika memandu sebuah pertandingan, seorang komentator tidak hanya membahas kejadian yang terjadi di arena pertandingan, tapi juga berbagai hal yang terkait dengan para atlet yang sedang bertanding – termasuk masa lalunya. Tentulah tidak aneh untuk menyampaikan masa lalu sang petinju. Terlebih jika petinju tersebut memiliki masa lalu yang kelam. Bukankah kisah anak jalanan yang berhasil meraih kesuksesan selalu menjadi materi inspiratif yang menarik? Lagipula, fragmen ini penting disampaikan karena juga mendukung penggambaran sikap Billy secara utuh (pemarah, kurang pandai dalam membuat keputusan, dan tidak segan untuk menjalani hidup di sasana yang suram).

Peluang kecil lainnya yang dimanfaatkan untuk mengungkap masa lalu Billy adalah ketika dia merasa malas datang ke acara amal. Sang istri, Maureen, memotivasi suaminya untuk tetap melakukan kegiatan sosial. Caranya? Mengingatkan sang suami mengenai masa lalu yang pernah dijalani dan memanfaatkan kesuksesan yang diraih untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung. Bukankah salah satu tugas pasangan adalah mengingatkan untuk berbuat kebaikan? Dan, bukankah kacang tidak boleh lupa dari induknya?

Selain tiga contoh tadi, saya yakin masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk membangun cerita. Cara-cara yang tentunya terus berkembang dari waktu ke waktu. Namanya juga dunia kreatif, pastinya kreativitas menjadi “darah yang mengalir” di dalam tubuh orang-orang yang terlibat di dalamnya. Tentulah bukan hal yang sulit bagi orang-orang tersebut, terutama penulis naskah dan sutradara, untuk menyajikan cerita yang menarik, disampaikan secara mengalir seperti sungai di musim hujan, dan tentunya logis.

 

Teks: Agung Suharjanto / Foto: Laurent Thurin Nal

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON