Mendaki Gunung Semeru, Mengunjungi Puncak Para Dewa

Mendaki Gunung Semeru, Mengunjungi Puncak Para Dewa
View Gallery
16 Photos
Mendaki Gunung Semeru, Mengunjungi Puncak Para Dewa

Mendaki Gunung Semeru, Mengunjungi Puncak Para Dewa

Mendaki Gunung Semeru, Mengunjungi Puncak Para Dewa

Mendaki Gunung Semeru, Mengunjungi Puncak Para Dewa

Mendaki Gunung Semeru, Mengunjungi Puncak Para Dewa

Mendaki Gunung Semeru, Mengunjungi Puncak Para Dewa

Mendaki Gunung Semeru, Mengunjungi Puncak Para Dewa

Mendaki Gunung Semeru, Mengunjungi Puncak Para Dewa

Mendaki Gunung Semeru, Mengunjungi Puncak Para Dewa

Mendaki Gunung Semeru, Mengunjungi Puncak Para Dewa

Mendaki Gunung Semeru, Mengunjungi Puncak Para Dewa

Mendaki Gunung Semeru, Mengunjungi Puncak Para Dewa

Mendaki Gunung Semeru, Mengunjungi Puncak Para Dewa

Mendaki Gunung Semeru, Mengunjungi Puncak Para Dewa

Mendaki Gunung Semeru, Mengunjungi Puncak Para Dewa

Mendaki Gunung Semeru, Mengunjungi Puncak Para Dewa

Mendaki bukan hanya perkara perjalanan alam, jauh lebih dari itu, mendaki adalah perjalanan spiritual, perjalanan yang menyatukan jiwa-jiwa manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Jika kita ingin sedikit lebih bijak, kepingan pengalaman-pengalaman tak terduga mungkin akan menjadi pengalaman paling berharga dalam hidup. Mendaki gunung sudah seperti sekolah bagi saya. Ilmu yang gunung berikan terlalu banyak.

Mendaki Gunung Semeru adalah kepuasan tersendiri dan menjadi salah satu pendakian yang sangat berkesan bagi saya pribadi. Perjalanan puluhan kilometer membelah hutan, menelusuri urat-urat perbukitan, merasakan teriknya padang savana dan menusuknya udara dingin khas gunung pun terbayarkan dengan pesona Gunung Semeru.Masih tercetak jelas dalam ingatan, bagaimana saya yang waktu itu bukan seorang pendaki, bermimpi keras ingin menjejakkan kaki diatap pulau Jawa tersebut. Setelah cukup malang melintang di Gunung-gunung Indonesia lainnya, akhirnya mimpi itu pun terwujud.

Pertama kalisaya mendaki Gunung Semeru ketika setelah musim hujan.Hijau dimana-mana, anggrek liar bermekaran, pinus-pinus menebarkan aroma basah, dan yang paling teringat adalah lavender keunguan membentang luas di Oro-oro Ombo. Dan pendakian kedua ketika musim kemarau, tak ayal suasana berbeda saya rasakan. Oro-oro Ombo yang sebelumnya terhampar manis bak karpet ungu sekarang berubah eksotis menjadi kuning kecokelatan.Bulan September menjadi waktu yang pas untuk mencicipi bagaimana Semeru ketika musim Kemarau. Dingin menusuk hingga suhunya jatuh ke -17 derajat celcius. Ini sensasi yang sulit saya dapatkan di gunung-gunung lainnya.

Gunung ini memiliki  ketinggian 3676 mdpl, menjadikannya gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia. Beragam legenda lahir disini. Beragam puisi dan sastra klasik mengabadikan kisah tentang kemasyuran Mahameru, Puncak abadi para dewa. Salah satu legendanya yang paling populer adalah kisah tentang penciptaan Gunung ini, dimana dalam kitabTantu Panggelaran yang berbahasa Jawa Tengah dituangkan dalam bentuk prosa menceritakan tentang tanah Jawa yang pada saat itu masih belum stabil atau tidak seimbang, kemudian Batara Guru memberikan titah kepada para Dewa untuk memenggal puncak Gunung Mahameru yang terletak di Tanah Bharatawarsa, di India, untuk dipindakan ke Pulau Jawa. Kemudian para Dewa turun ke bumi dan melaksanakan titah tersebut.

Puncak Gunung Mahameru akhirnya di pindahkan ke Pulau Jawa. Legenda mengenai gunung Semeru ini memberikan banyak gambaran mengenai bagaimana penyebaran ajaran Hindu paham Siwaistis dari tanah Indie ke Nusantara, khususnya yang terpusatkan di Tanah Jawa. Dan hingga saat ini pengaruh besar pemahaman tersebut masih melekat dalam kepercayaan dan kebudayaan suku Tengger (suku yang mendiami wilayah sekitar Gunung Semeru).

Secara geografis, letak Gunung Semeru berada di dua wilayah administratif, yaitu wilayah Kabupaten Malang dan Lumajang. Akses terdekat dan paling populer berasal dari Malang. Sebelum mendaki gunung Semeru, para pendaki akan berhenti dulu di desa Tumpang, disini mereka akan menyewa truk atau jeep untuk menuju desa Ranu Pane, basecamp pendaki sebelum melakukan pendakian.

Sembari menunggu jeep ataupun truk yang akan mengangkut mereka menuju desa Ranu Pane, pendaki dapat mengisi logistik perbekalan selama pendakian. Beragam sayur segar dan bahan lainnya cocok untuk menjadi perbekalan selama pendakian beberapa hari ke depan. Dan yang paling menarik dan membuat saya jatuh cinta dengan desa ini adalah keramahan warganya. Empat kali mengunjungi desa ini saya selalu dibuat jatuh cinta dengan keramahan disini. Untuk itu, pendakian yang terakhir saya merelakan waktu saya menginap satu malam di rumah salah satu pemilik truk rental yang sering mengantarkan pendaki ke desa Ranu Pane. Pak Rus namanya. Keramahan mereka sudah terkenal di kalangan para pendaki yang pernah berkunjung kesini.

Untuk mendaki Gunung Semeru diperlukan persiapan yang cukup, dimulai dari tenaga yang prima. Olahraga minimal dua minggu sebelum melakukan pendakian wajib hukumnya bagi pendaki yang belum memiliki pengalaman yang cukup. Umumnya pendakian memerlukan waktu tiga hari dua malam perjalanan.

Aroma petualangan sudah mulai tercium ketika menjejakkan kaki di Tumpang. Tas carrier besar yang menempel di punggung seolah menjadi simbol persaudaraan tanpa ikatan darah diantara pendaki. Sesampainya di gerbang Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, kita sudah dapat menyaksikan rapatnya pepohonan hijau yang menghampar luas di perbukitan ini. Jurang di kiri-kanan yang menganga lebar menciptakan panorama tersendiri. Tak lama kami menjumpai perkebunan-perkebunan di desa Ngadas. Kontur tanah yang berbukit dengan kecuraman cukup ekstrem menjadikan perkebunan disini sebagai suguhan lansekap alam yang unik.

Tiba di desa Ranupane,udara dingin menyambut, tak jarang kabut pun sesekali menyapa. Ada hal yang sedikit menggelitik, ketika melihat anak-anak kecil yang bermain di pekarangan rumah dengan jaket tebal dan pipi yang memerah. Perjalanan dari basecamp Ranu Pane menuju camp pertama memakan waktu sekitar empat jam. Treknya tidak terlalu menanjak, namun cukup panjang, sekitar 9,5 km. Ketika melakukan pendakian pada bulan April sampai Mei, pendaki dapat melihat anggrek liar yang tumbuh. Lapisan hutan lebat, tanah basah bercampur aroma pinus, anggrek liar yang sedang bermekaran, dan pohon paku berukuran raksasa menambah pesona dan bumbu perjalanan menuju Ranu Kumbolo.

Tak kurang seperempat jam, tibalah kami di Ranu Kumbolo. Kabut tipis mulai datang perlahan. Angin dingin mulai masuk ke dalam jaket. Peralatan camping dikeluarkan satu persatu, kami berbagi tugas. Ada yang mendirikan tenda, memasak makanan, dan yang lainnya mencari kayu bakar. Setelah tenda didirikan, tiba waktunya menyantap makanan. Kornet, sop seadanya, sarden, dan sosis menjadi pelengkap makan sore itu.

Api unggun dibuat, kami berjejer mengelilingi api. Kopi hitam menambah keakraban. Ketika teman-teman lainnya masuk kedalam tenda satu persatu, saya memilih tetap duduk diluar ditemani bara api unggun yang semakin mengecil. iPod memainkan lagu favorit, petikan gitar menambah syahdu malam. Damai, haru, tenang dan entahlah kata-kata apalagi yang pantas menjabarkan suasana saat itu. Bintang malam itu bak mahkota yang dengan cantiknya memayungi Ranu Kumbolo. Dua bukit diujung sana samar-samar menegaskan siluetnya. Tak lupa hamparan air danau didepan berpadu apik dengan cahaya headlamp pendaki diujung sana.

Paginya, kami terbangun dalam samar guratan garis jingga yang jatuh dipelupuk dua bukit diujung sana. Berkali-kali pujian kepada sang pencipta saya lontarkan. Panorama yang berbulan-bulan ini hanya mampu dilihat dari foto internet kini terpapar jelas didepan mata. Uap-uap dingin air danau didepan kami menambah dinginnya pagi itu.

Setelah momen sunrise usai, kami bergegas merapikan peralatan untuk melanjutkan perjalanan menuju Kalimati. Tanjakan Cinta merupakan trek pertama yang harus dilalui. Cukup menguras tenaga rasanya melewati Tanjakan Cinta ini. Hamparan tumbuhan berbunga unguberpadu syahdu dengan bukit-bukit disisinya membuat bibir ini tak henti berdecak kagum. Dan juga, puncak Mahameru yang sedikit menyembul dibalik bukit-bukit memacu semangat.

Perjalanan dilanjutkan menuju Cemoro Kandang. Jalanan yang tadinya datar kini mulai sedikit menanjak. Rerumputan ilalang tumbuh setinggi dada, karena waktu itu vegetasi yang berada di Semeru masih subur setelah ditutup hampir empat bulan lamanya guna memulihkan ekosistem, siklus tahunan. Tak lama sekitar satu jam dari Cemoro Kandang akhirnya kami tiba di padang luas nan gersang, Kalimati. Sebuah kerucut yang teramat raksasa berdiri tegak dihadapan kami. Sesekali ujungnya mengeluarkan asap. Dari sini batas vegetasi antara Arcopodo dan Kelik sangat jelas terlihat. Merinding! Satu kata yang menggambarkan perasaan saya pada saat itu. Malam ini kami akan berjuang menuju puncaknya, puncak impian.

Selepas dari Kalimati, kami beristirahat. Memulihkan tenaga untuk pendakian sesungguhnya nanti malam. Sulit rasanya memejamkan mata sore itu, padahal tubuh cukup didera lelah. Semangat yang memuncah adalah salah satu penyebabnya. Membayangkan malam ini berjalan menembuh hutan Arcopodo, kemudian menginjakkan kaki di kelik dan merangkak-rangkak ditengah kegelapan malam menuju puncak Mahameru.

Pukul sebelas malam kami terbangun karena bunyi alarm yang hampir bersamaan. Satu persatu kami keluar tenda. Ternyata dinginnya luar biasa. Ujung-ujung jari terasa beku. Saya masuk kembali kedalam tenda. Memakai baju berlapis, sarung tangan double. Namun dingin masih sangat terasa ketika keluar.

Langkah kaki makin melemah. Tenaga benar-benar habis. Kira-kira 50 meter sebelum puncak kami berhenti. Meminum air sisa terakhir. Itupun masih kurang rasanya. Dalam perjalanan terakhir menuju puncak, akhirnya saya meminta air minum kepada pendaki lain yang saya temui, tak tahan lagi rasanya menahan haus tenggorokan kering ini.

Tepat pukul 05.45 kami berhasil menginjakan kaki diatap pulau Jawa. Haru dan bahagia menyeruak, sedikit air mata menetes, saya melakukan sujud di puncak Mahameru. Kami berhamburan berpelukan mengucapkan selamat. Perjuangan kami akhirnya berhasil.  Perjuangan dua hari ini terbayar sudah dengan menjejakan kaki di puncak impian.

Terima kasih, Gunung Semeru. Pendakian kali itu cukup luar biasa. Banyak hal berharga yang bisa dipetik. Perjalanan panjang 42 km berjalan kaki menembus hutan belantara bolak-balik mungkin takkan pernah terlupakan dan menjadi satu dari sekian petualangan yang menarik.

Jika ada hal di dunia ini yang menakjubkan selain cinta, mungkin adalah naik gunung. Bersama-sama menjelajahi urat-urat bukit, menyusuri lika-liku hutan, setapak demi setapak menapaki tebing, hingga berpelukan erat bersama sahabat ketika menggapai puncak.  Begitupun pelajaran dan pengalaman yang kita dapatkan dari tempat seperti ini, tempat yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Karena mendaki bagi saya bukan hanya sebagai ajang senang-senang, tapi mendaki itu bagian dari mencari pelajaran dan pengalaman dalam hidup. Satu pelajaran hidup yang saya dapat dari pengalaman mendaki gunung adalah: “Tunduk ketika mendaki, dan tetap tegak ketika turun”

Teks & Foto: Aris Suhendra

3 Comments
  1. Bagus banget ceritanya. Izin copas yah buat bahan ffku.Clara Magazine aku cantumin kog. Terima kasih sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON