Madonna of The Ruins

Madonna of  The Ruins
View Gallery
15 Photos
Madonna of The Ruins

Madonna of The Ruins

Madonna of The Ruins

Madonna of The Ruins

Madonna of The Ruins

Madonna of The Ruins

Madonna of The Ruins

Madonna of The Ruins

Madonna of The Ruins

Madonna of The Ruins

Madonna of The Ruins

Madonna of The Ruins

Madonna of The Ruins

Madonna of The Ruins

Madonna of The Ruins

Koln atau sering kali disebut “Colonge”, merupakan kota terbesar keempat di Negara Jerman setelah Berlin, Hamburg, dan Munich. Sungai Rhine membelah kota ini menjadi dua bagian. Di kota ini terdapat sebuah museum seni bernama Kolumba yang telah berdiri sejak tahun 1853 dan didirikan oleh keuskupan agung Koln. Hingga tahun 2007, Kolumba berlokasi dekat dengan Koln Cathedral, setelah itu museum dipindahkan ke lokasi reruntuhan gereja St Kolumba yang hancur karena perang dunia kedua.

Pada tahun 1950, seorang arsitek Jerman bernama Gottfried Böhm membuat chapel pada lokasi reruntuhan itu dan dijuluki “Madonna of The Ruins” karena patung kayu Madonna yang selamat dari pemboman masa perang. Kini sang Madonna disandingkan dengan Museum Kolumba oleh seorang arsitek asal Swiss bernama Peter Zumthor. Sebagian besar karya Zumthor merupakan hasil elaborasi buah pikir atas aspek indra manusia dalam merasakan sebuah bangunan atau ruangan arsitektur yang didesain sedemikian rupa untuk dapat menarik perhatian semua indra. Bagi Zumthor, fisik dari sebuah material yang digunakan pada setiap desainnya dapat melibatkan individu dengan dunia, membangkitkan pengalaman dan mengembangkan sebuah horizon melalui memori.

“Perpaduan antara material dan bentuk bangunan baru, dinding gereja lama dan karya serra membuat saya seperti di dalam lukisan dengan tiga lapisan dimensi. “

Setelah sekian lama membaca perjalanan karier seorang Peter Zumthor, akhirnya pada musim gugur dua tahun lalu saya melakukan kunjungan perdana saya ke Koln dan mengunjungi Kolumba Museum. Sengaja saya memilih tempat tinggal yang dekat dengan lokasi. Tetapi tetap salah jalan. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh selama tujuh menit membuat saya menghabiskan waktu  perjalanan sebanyak dua puluh menit. Namun saya tak lagi bisa menahan senyum dan sesuatu yang menggelitik di perut saya muncul ketika melihatnya di ujung jalan. Lupa sudah dengan kelelahan saya saat itu. Sebagian besar bangunan didominasi oleh material batu bata abu-abu yang pada beberapa bagian dibuatnya berongga. Batu berwarna abu kecokelatan itu dibuat memanjang tipis dengan tekstur yang kasar dan tertata sangat rapi, meski dibuat berbagai macam ukuran.

Sisa peninggalan dinding bangunan gereja St. Columba masih bisa terlihat dan kini menyatu dengan dinding batu bata keabuan yang disusun secara acak. Bata ini desainnya dikembangkan dan diproduksi di Denmark, dibakar secara khusus dengan menggunakan arang untuk memberikan efek warna hangat pada batu bata  Kini batu bata itu disebut dengan kolumba’s brick oleh penduduk sekitar. Setelah cukup lama mengamati tampak depan bangunan, saya berjalan masuk menuju sisi bagian belakang bangunan dan menjumpai beberapa ruangan open air yang tidak bisa diakses dari tempat saya berdiri. Perpaduan bangunan lama yang telah dicangkokkan dengan material baru milik Zumthor semakin jelas terlihat di area ini.

Nampak di bagian paling belakang seperti courtyard garden yang hanya bisa di dinikmati dari dalam. Saya kemudian memasuki bangunan megah ini melalui Kolumba strasse, mendapati ruangan yang dipenuhi rak-rak kayu berisi koleksi buku tua dan baru mengenai Kolumba, serta seorang resepsionis yang menyapa ramah. Courtyard tersebut hening dengan pohon honey locust yang disebar membagi ruang. Batang pohon-pohon tersebut terbenam di antara batu-batu pebble putih sebagai ground cover. Bangku-bangku besi diletakkan di beberapa sisi taman.

Courtyard ini tidak dibuat untuk dijadikan ekstensi dari area museum tapi  sebagai area yang dapat digunakan oleh pengunjung untuk  area relaksasi, seperti zen garden. Di salah satu sudutnya terdapat bench panjang dengan patung karya Hans Josephsohn berbaring di atasnya. Selanjutnya saya menuju ruangan utama dalam bangunan ini. Inilah ruangan yang paling membuat saya penasaran. Memasuki ruangan ini harus melalui sebuah jalan yang ditutupi tirai tebal terbuat dari kulit berwarna cokelat. Sedikit cahaya menemani saya berjalan yang kemudian terlihat susunan kaca patri berwarna hijau biru di sebelah kanan saya yang menjadi bagian dari chapel berbentuk segi delapan.

Hanya samar-samar terlihat bagian dalam chapel dari ruangan ini. Di ruangan yang memiliki cahaya minimal itu tidak ada lantai yang terlihat, hanya ada pathway berwarna merah yang terbuat dari kayu seperti melayang berbentuk zig zag menuju kegelapan. Di bawah ini terhampar reruntuhan batu  tersusun tak beraturan, sisa kubah dan pondasi tua yang menghilang di kegelapan dan kedalaman. Terdapat jendela berawarna hitam dan arch peninggalan gereja yang bergaya gothic dan kini menyatu dengan dinding batu bata abu membentuk lubang seperti honeycomb. Lubang-lubang itu terlihat seperti sekumpulan bintang-bintang yang memancarkan sinar dari luar bangunan. Dinding berlubang itu nyaris tak membuat suara lalu lintas yang berada di luar masuk ke dalam, hanya terdengar kicauan  suara burung-burung merpati dan kepakan sayapnya. Waktu tampak berhenti di ruangan yang megah ini.

Seperti sejarah ribuan tahun dapat disaksikan dalam satu waktu. Suara indah tersebut  merupakan instalasi suara oleh Bill Fontana, sebagai ghost memory akan burung-burung yang pernah bermukim di antara reruntuhan gereja St. Columba. Setiap elemen di dalam ruangan membuat ruangan ini begitu dramatis seperti  theatre  yang telah diatur sedemikian rupa. Setelah puas memperhatikan tiap detail ruangan ini lalu saya berjalan mengikuti arah jalan setapak berwarna merah. Di ujung jalan terdapat ruangan menuju luar bangunan. Ternyata merupakan ruangan outdoor kecil tanpa atap yang tadi saya lewati dari sisi luar. Di tengah bagian area ini terdapat patung karya Richard Serra. Area ini dikelilingi oleh dinding tua dengan susunan batu bata merah peninggalan gereja St. Columba.

Perpaduan antara material dan bentuk bangunan baru, dinding gereja lama dan karya serra membuat saya seperti di dalam lukisan dengan tiga lapisan dimensi. Indah sekali!  Area pameran tiga lantai ini dipenuhi dengan koleksi yang umurnya berabad-abad lamanya maupun yang baru dan semua koleksi merupakan koleksi yang bertemakan religius. Material batu bata, terrazzo, Jura limestone yang digunakan memperkaya bangunan serta cahaya yang di atur sedemikian rupa berhasil membuat suasana tenang dan meditasi, mengilhami para pengunjung dengan suasana spiritual jauh dari hiruk pikuk duniawi kota. Sebelum saya keluar dari bangunan, saya menyempatkan diri kembali ke taman tengah. Mengambil salah satu bangku, menempatkannya di bawah pohon dan perlahan menyaksikan pantulan matahari yang mulai kemerahan.

Teks: Milla Pili / Foto: Dok. Kolumba Museum/Peter Zumthar

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON