Lola Amaria: The Man in Her Own World

Perjalanan kami mencari sosok cover yang tepat untuk menjadi narasumber kali ini cukup berliku. Beragam nama dan wajah baru di industri perfilman Tanah Air yang kian menjamur tak sedikitpun mempermudah tugas kami untuk memilih satu di antaranya. Apa mungkin ini yang juga dirasakan oleh kebanyakan para produser dan sutradara Indonesia, sehingga akhirnya selalu berujung menggunakan aktor-aktor yang itu-itu saja? Hingga akhirnya, setelah melalui sebuah diskusi panjang, ingatan kami kembali kepada seutas nama lama. Nama yang tak hanya pernah merasakan manisnya gemerlap hidup selebritas, tapi juga nama yang sempat merasakan pahitnya pendakian menuju puncak keemasan pada masanya. Nama itu Lola Amaria.

Lola Amaria. Seorang pemain film Indonesia yang kemudian menyelinap ke belakang layar perak untuk menjadi seorang sutradara, sekaligus produser film. Kepiawannya dalam berperan telah menghiasi sejumlah film bergengsi, seperti Ca Bau Kan (2002), Minggu Pagi di Victoria Park (2010), dan Kisah 3 Titik (2013). Bunga pemikirannya juga turut menelurkan beberapa film, dengal status sebagai sutradara, yakni Betina (2006), Minggu Pagi di Victoria Park (2010), Sanubari Jakarta (2012), Jingga (2016), dan yang terbaru Labuan Hati (2017). Setiap film yang melibatkan dirinya selalu membahas isu sosial yang ada di masyarakat Tanah Air.

Lantas, pada kesempatan ini, kami turut mengundang seseorang yang juga berada di titik posisi seperti Lola Amaria, yakni di balik lebarnya layar dan beratnya tekanan industri film. Lucky Kuswandi, seorang sutradara, produser, juga penulis naskah film, beberapa di antaranya Galih dan Ratna (2017), Selamat Pagi, Malam (2014), dan Madame X (2010). Lola dan Lucky kali ini bercengkrama mengenai berbagai hal lain di samping keindahan visual gerak yang sering kali hanya kita nilai dan tonton sebelah mata tanpa memikirkan segala macam usaha di baliknya. Dari percakapan dua insan film ini, kami pun semakin tersadarkan, bahwa film, sama seperti industri lainnya, tak hanya berakhir pada kepuasan ‘pembeli’, tetapi juga pada kepuasan sang ‘penjual’.

Perfilman Tanah Air yang terlihat beget berat untuk melangkah mau kerap membuat benak kami bertanya: Apa yang salah? Rantai apa yang begitu membelit kaki para pejuangnya?

Teks: Hanny Iswari
Video: Syifa Fachrunissa
Penata Gaya: Claresta Pitojo
Ast. Penata Gaya: Meta Limesa Bun
Penata Rias & Rambut: Raisha Monianti
Busana: Stella McCartney dan Paul Smith
Lokasi: Andramatin

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON