Let’s Talk About Yayoi Kusama, So We Can Feel A Little Smart

Yayoi Kusama (Foto: Dok. Museum MACAN)

Sejak 7 Mei lalu, warga Ibukota seketika berubah menjadi pecinta seni, dan kebanyakan di antaranya dengan bangga mengunggah foto selfie berhiaskan aksen polkadot warna-warni. Pameran solo karya seniman ternama asal Jepang, Yayoi Kusama, yang berlangsung di Museum MACAN, memang terbilang sukses menggebrak Jakarta dan social media (yes!), meski baru beberapa hari -bahkan dalam hitungan jam- dibuka. But, little did we realize, her dots are way darker and deeper than decoration for selfies.

Saya pun turut diundang ke acara malam pembukaan pameran. Sungguh saya tak menyangka antusiasme para warga Jakarta yang luar biasa dalam menyambut karya-karya Yayoi Kusama di sini. Hingga akhirnya malam itu saya menyerah dan mengundurkan diri dari antrean pameran. Saya hanya sanggup mengantre dan masuk ke area interaksi seni di lantai dua, di mana para pengunjung berkesempatan menempel stiker polkadot warna-warni sesuka hati. Cukup senang, tapi belum puas karena itu bukanlah karya Yayoi. Itu karya kita bersama. Setelahnya, saya pulang. Dalam perjalanan, saya bergumam dalam hati, “It’s good people in Jakarta are now so into art. I’ve seen Yayoi’s artworks so many times on many occasions. I am sure so does every art lover and collector. But never have I seen such exploding and sudden enthusiasm like this.”

Pameran di Museum MACAN
First thing first. Pameran di Museum MACAN ini bertajuk “YAYOI KUSAMA: LIFE IS THE HEART OF A RAINBOW” dan dapat Anda kunjungi hingga 9 September 2018 mendatang. Itulah sebabnya mengapa saya rela tidak mengantre panjang untuk masuk ke area pameran di malam pembukaan. Masih panjang waktu untuk mengunjungi Museum MACAN. Dan saya yakin, pengalaman saya menikmati karya-karya Yayoi yang ditampilkan akan lebih nikmat jika tidak perlu berdesakan dan berebutan tempat dengan orang-orang yang hendak berfoto ria.

Terdapat lebih dari 130 karya seni Yayoi Kusama di Museum MACAN, yang diciptakan dalam jangka waktu 70 tahun Yayoi berkarya. Dan pameran ini menjadi persinggahan terakhir untuk tur karya seni Yayoi Kusama, setelah sebelumnya sempat dipamerkan di National Gallery Singapore dan Queensland Art Gallery | Gallery of Modern Art di Australia. Karya Yayoi di Museum MACAN sungguh beragam, mulai dari seni lukis, pahat, goresan di kertas, juga lima instalasi, termasuk yang diakuisisi oleh Museum MACAN: I Want to Love on the Festival Night, 2017 dan juga karya yang tidak dipertunjukkan pada pameran-pameran sebelumnya: Flower, 1953 dan Untitled (Child Mannequin), 1966.

Yayoi Kusama

“I don’t like sex. I had an obsession with sex. When I was a child, my father had lovers and I experienced seeing him. My mother sent me to spy on him. I didn’t want to have sex with anyone for years… The sexual obsession and fear of sex sit side by side in me.”Yayoi Kusama for Financial Times: 'The world according to Yayoi Kusama'


Yayoi Kusama lahir di Matsumoto pada tahun 1929. Aksen dots yang menjadi ciri khas karyanya sudah dipakai Yayoi pada lukisan yang ia buat pada umur 10 tahun, yaitu gambar perempuan Jepang dalam kimono, yang disinyalir merupakan gambar Ibunya. Jika Anda bertanya dari mana Yayoi mendapat inspirasi dots untuk karya-karyanya, tak lain adalah dari halusinasinya yang terus muncul. Untuk menanggulangi mimpi buruknya tentang polkadot tersebut, Yayoi akhirnya menenangkan diri dengan mengekspresikan polkadot ke dalam lukisan. Infinity Nest menjadi karya series pertamanya dalam skala besar, yaitu kanvas sepanjang 30 kaki, berisi totol-totol dari ekspresi halusinasi Yayoi.

Dalam sebuah wawancara, Yayoi bercerita akan masa kecilnya yang kelam, mulai dari ibu yang abusive, hingga ayah yang memiliki hubungan lain. Tak hanya itu, masa kecil hingga remajanya juga dilewati selama masa peperangan.

Perjalanan karier Yayoi banyak diisi oleh kontroversi. Seperti misalnya karya “Narcissus Garden”, 1966 di Venice Biennale ke-33, yang menjadi kali pertama karya Yayoi dipamerkan pada acara bergengsi tersebut. Yayoi menjual bola cermin karyanya seharga $2, hingga berujung pada larangan keras dari pihak Biennale.

Pada tahun 60-an, ia banyak berekspresi pada art performances, salah satu di antaranya meliputi adegan Yayoi melukis polkadot pada tubuh performers yang telanjang bulat. Aksi tersebut beberapa dijadikannya sebagai ekspresi protes akan Perang Vietnam. Ia juga sempat menulis surat terbuka kepada Richard Nixon, menawarkan Nixon bersetubuh dengannya jika ia menghentikan Perang Vietnam.

Pada tahun 1969, Daily News memuat berita berjudul “But Is It Art?” mengenai art performance Yayoi “Grand Orgy to Awaken the Dead” di depan Museum of Modern Art, yang mempertunjukkan beberapa performers di bawah arahan Yayoi, melepas busana, berjalan menuju air mancur, dan berpose mengikuti gaya patung Picasso, Giacometti, dan Maillol. Ia juga bahkan sempat menerbitkan koran erotis berjudul “Kusama Orgy”.

Setelah berkarya beberapa tahun di Amerika Serikat, pada tahun 1973, Yayoi kembali ke Jepang dikarenakan alasan kesehatan. Pada tahun itu, ia mulai menulis novel, cerita pendek, dan puisi. Ia juga sempat mengecek kesehatan mentalnya pada tahun 1977, dan akhirnya memutuskan untuk tinggal di sana. Beberapa kali Yayoi berkata, “If it were not for art, I would have killed myself a long time ago.”

Yayoi Kusama Kini
Sebagai salah satu seniman legendaris asal Jepang, kehebatannya bukan hanya pada ketekunan membuat titik-titik dots, tapi lebih pada kesetiaannya untuk terus berpaku pada karakternya tersebut.

“A polka-dot has the form of the sun, which is a symbol of the energy of the whole world and our living life, and also the form of the moon, which is calm. Round, soft, colorful, senseless and unknowing. Polkadots become movement… Polkadots are a way to infinity,” kutipan dari Yayoi Kusama di Manhattan Suicide Addict, 1978.

Halusinasi, ketakutan, sekaligus keberaniannya untuk membuat karya-karya penuh kontroversi, menjadi dasar kebesaran nama Yayoi. As I said in the beginning of this writing, her dots are way darker than they seem. Now you know a little bit about her, you should go visit Museum MACAN to enjoy her artworks!

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON