Ketika Sang Waktu Berhenti di Kota Lasem

Ketika Sang Waktu Berhenti di Kota Lasem
View Gallery
11 Photos
Ketika Sang Waktu Berhenti di Kota Lasem

Proses pewarnaan pada kain batik. Keseluruhan proses produksi batik tradisional Lasem dilakukan secara manual oleh tenaga buruh wanita dari daerah sekitar.

Ketika Sang Waktu Berhenti di Kota Lasem

Seorang buruh wanita mencanting dengan cairan lilin di atas kain putih yang sudah digambari dengan motif. Ada pembauran pada setiap helai batik Lasem, di mana motif Tionghoa bertemu dengan motif Jawa.

Ketika Sang Waktu Berhenti di Kota Lasem

Meja altar pemujaan Pandji Margono, satu-satunya figur leluhur pribumi yang dihormati oleh masyarakat keturunan Tionghoa di Kota Lasem.

Ketika Sang Waktu Berhenti di Kota Lasem

Meja altar pemujaan bagi dewa penunggu dapur. Di kalangan masyarakat Tionghoa peranakan di Jawa, dewa ini dikenal dengan sebutan Kongcho Pawon.

Ketika Sang Waktu Berhenti di Kota Lasem

Nisan batu (bong) kuno milik Han Siong Kong. Dari makam inilah konon kutukan yang melarang marga Han untuk tinggal menetap di Lasem berasal.

Ketika Sang Waktu Berhenti di Kota Lasem

Suatu pagi di kawasan pecinan Babagan. Seorang pengendara sepeda onthel melintas di antara rumah-rumah berarsitektur khas pecinan dengan tembok tingginya yang berusia ratusan tahun.

Ketika Sang Waktu Berhenti di Kota Lasem

Kwik Tjian Siang, pengurus Klenteng Po An Bio, bercerita tentang kisah Sam Kok. Sebuah cerita kuno tentang tiga negara yang visualisasinya tergambar di dinding klenteng tertua kedua di Lasem ini.

Ketika Sang Waktu Berhenti di Kota Lasem

Ruang utama Klenteng Gie Yong Bio. Didirikan pada tahun 1780, klenteng ini dibangun sebagai penghormatan terhadap tiga tokoh pahlawan Lasem.

Ketika Sang Waktu Berhenti di Kota Lasem

Gerbang utama Klenteng Cu An Kiong, klenteng tertua di Kota Lasem dengan dewa laut Thian Siang Sing Bo sebagai tuan rumah.

Ketika Sang Waktu Berhenti di Kota Lasem

Meja altar pemujaan bagi para leluhur, lengkap dengan foto-foto dan sesajian. Meja seperti ini umum ditemukan di area masuk setiap rumah pecinan kuno.

Ketika Sang Waktu Berhenti di Kota Lasem

Selama puluhan tahun Nyonya Ong Kroeng Nio menjalani profesi sebagai pengurus Klenteng Gie Yong Bio. Bersama putrinya, ia melayani siapa saja yang ingin diramal nasib dan peruntungannya.

Dari semua kota kuno di Jawa yang pernah saya singgahi, Kota Lasem adalah salah satu yang paling berkesan. Bukan hanya karena batiknya yang pernah tersohor di masa  lampau, atau arsitektur kuno pecinannya yang menyimpan kisah kelam di masa silam yang membuat saya ingin kembali ke sana, tapi juga jejak para leluhur kaum Tionghoa peranakan yang menarik untuk ditelusuri.

Berpetualang menjelajahi kota kecil di Kabupaten Rembang, pesisir utara Jawa ini serasa memasuki lorong waktu yang membawa saya jauh ke masa lampau. Suatu masa di mana arwah Han Siong Kong, orang bermarga Han pertama di Jawa, mengutuk dan melarang keturunannya untuk tinggal di Kota Lasem. Karena kutukannya, kota ini terlarang bagi marga Han.

Cerita di Balik Tembok Tinggi Pecinan

Suatu sore di kawasan pecinan Babagan, delman tradisional yang saya tumpangi berjalan perlahan menyusuri lorong sempit di antara tembok-tembok tinggi berusia ratusan tahun.  Di depan sebuah gapura kuno bergaya Tionghoa, delman berhenti. Sang pemilik rumah keluar dari balik tembok untuk menyambut kedatangan saya.

“Selamat datang di rumah saya. Silahkan dipakai sepatunya, ndak usah dilepas. Ini bukan di surau.” Canda Pak Sigit Witjaksono, tokoh sesepuh Lasem, saat menyambut kedatangan saya di halaman depan rumahnya yang asri. Saya pun dipersilahkan duduk di teras depan yang dindingnya dipenuhi dengan foto-foto para leluhur dan anggota keluarga lainnya.

“Silahkan iris tangan saya, maka Anda akan menemukan ‘Jawa’ dalam darah daging saya.” Tantang Pak Sigit saat kami berbicara soal pembauran etnik. Terlahir dengan nama Njo Tjoen Hian 83 tahun silam, Pak Sigit adalah satu dari segelintir generasi tua peranakan yang masih menetap di Lasem. Menurutnya, pembauran di kalangan Tionghoa peranakan sudah mendarah daging selama berabad-abad.

Saat ini Pak Sigit meneruskan usaha pembuatan batik Lasem milik mendiang sang ayah. Sayapun diizinkan melihat dari dekat proses pembuatan batik di halaman belakang rumah. Mulai dari penggambaran motif di atas kain putih hingga proses pencelupan dan pengeringan. Seluruh proses pengerjaan dikerjakan secara manual oleh beberapa buruh wanita dari daerah sekitar. Di masa keemasannya, mendiang ayah Pak Sigit mengekspor ratusan helai kain batik Lasem hingga menembus pasar Malaysia dan Singapura.

Tiba tiba saya teringat dengan tulisan Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya yang berjudul “Jalan Daendels,” dimana ia bercerita tentang eksploitasi dan penindasan yang dilakukan para saudagar batik terhadap para buruh perempuan di masa silam. Kisah kelam mereka tersimpan rapat di balik tembok-tembok tinggi rumah pecinan. Zaman telah banyak berubah. Kini tidak ada lagi kisah suram di balik tembok pecinan Lasem.

Jejak Para Leluhur

Aroma hio merebak saat saya memasuki sebuah ruangan kecil bercahayakan lilin di sudut Klenteng Gie Yong Bio. Sebuah patung pria berbusana Jawa diletakan di atas altar pemujaan, lengkap dengan sesajian sebagai persembahan. Bagi saya, ini adalah pemandangan yang tidak biasa. Belum pernah sebelumnya saya menemukan figur pria Jawa diletakan di atas altar pemujaan sebuah klenteng.

Pria Jawa tersebut adalah Raden Pandji Margono, satu dari tiga tokoh pahlawan Kota Lasem. Bersama dua rekannya, Oey Ing Kiat (Raden Ngabehi Widyadiningrat) – tokoh masyarakat Lasem, dan Tan Kee Wie – seorang pendekar kungfu yang juga seorang saudagar, ia gugur dalam Perang Kuning, sebuah perang terbuka antara golongan Tionghoa dengan kongsi dagang VOC milik Belanda pada tahun 1740.

Klenteng Gie Yong Bio sendiri didirikan oleh masyarakat Lasem pada tahun 1780 untuk menghormati jasa dan pengorbanan mereka. Saya beruntung sore itu bisa bercengkrama dengan Nyonya Ong Kroeng Nio, sang penjaga klenteng. Bersama putrinya, Nyonya Ong melayani siapa saja yang ingin diramal nasib dan peruntungannya.

Selain Klenteng Gie Yong Bio, Kota Lasem juga memiliki dua klenteng kuno lainnya. Yang tertua adalah Cu An Kiong, terletak tidak jauh dari tepi Sungai Lasem. Hal ini tidak terlepas dari kebiasaan para leluhur yang seringkali mendirikan klenteng di tempat mereka mendarat. Di klenteng ini, dewa laut Thian Siang Sing Bo menjadi tuan rumah.

Sementara di klenteng Po An Bio, klenteng kedua yang tertua di Lasem, saya menemukan lukisan dinding tentang kisah tiga negara yang terkenal dengan nama Sam Kok, dimana tokohnya bernama Liu Bei, Kwan Kong dan Zhang Fe.

Selain mengunjungi klenteng-klenteng kuno, saya mencoba menelusuri jejak leluhur dengan mendatangi sebuah makam kuno yang terletak di tengah persawahan milik penduduk di Desa Babagan. Di makam inilah jasad Han Siong Kong dimakamkan. Dan dari makam ini pula legenda kutukan marga Han berawal.

Berlayar dari Provinsi Fujian, Tiongkok pada abad ke-18, Han Siong Kong bermaksud mengadu nasib di Pulau Jawa. Ia menikah dengan wanita pribumi dan dikaruniai tiga putra yang menjadi generasi awal kaum peranakan di Jawa.

Gagal mengadu nasib, Han Siong Kong  wafat dalam keadaan miskin di tahun 1743. Konon arwahnya murka karena jenazahnya diterlantarkan di tengah tanah lapang oleh anak-anaknya yang gemar berjudi dan menghabiskan harta orang tuanya. Sang arwah pun bersumpah bahwa siapapun marga Han yang berani tinggal menetap di Kota Lasem akan bernasib buruk. Di tanah lapang itu secara ajaib berdiri sebuah bong (makam) yang bisa kita jumpai hingga saat ini.

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, muncul pertanyaan di benak saya. Mungkinkah suatu saat nanti kutukan Han Siong Kong terhadap marga Han akan berakhir? Konon, sudah ada beberapa marga Han yang datang untuk memohon pengampunan ke pusara Han Siong Kong, namun kutukan itu belum kunjung berakhir hingga sekarang. Atau mungkin sang waktu kah yang akan menjawab? Entahlah, buat saya, waktu seakan berhenti di Kota Lasem.

Teks & Foto: Wibowo Wibisono

1 Comment
  1. tulisan yg sangat menarik
    jika ada kesempatan berkunjung je lasem kembali, boleh kiranya saya ikut serta

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON