Karina Who, Karina What

Karina Who, Karina What
View Gallery
4 Photos
Karina Who, Karina What
Karina Suwandi wears Lanvin

Photographer: Rizki Mashudi

Stylist: Perkasa Kusumah Putra

Make-up Artist & Hairstylist: Bubah Alfian

Karina Who, Karina What
Karina Suwandi wears Lanvin

Photographer: Rizki Mashudi

Stylist: Perkasa Kusumah Putra

Make-up Artist & Hairstylist: Bubah Alfian

Karina Who, Karina What
Karina Suwandi wears stylist's own

Photographer: Rizki Mashudi

Stylist: Perkasa Kusumah Putra

Make-up Artist & Hairstylist: Bubah Alfian

Karina Who, Karina What
Karina Suwandi wears Hermès

Photographer: Rizki Mashudi

Stylist: Perkasa Kusumah Putra

Make-up Artist & Hairstylist: Bubah Alfian

Think like a man! Act like a man! Look like a man! But love like a lady.

Kaum kuat bukanlah kaum yang mampu menunjukkan kehebatannya dibandingkan kaum lainnya, melainkan yang mampu menyejajarkan semua kaum pada dataran yang sama. Dari sekian banyak hal mengenai takdir manusia, menjadi pria ataupun menjadi perempuan adalah salah satu hukum kehidupan paling tabu untuk dipertanyakan. Padahal, satu hal yang menurut saya paling manusiawi adalah naluri ingin menjadi. Apapun konteksnya. Menjadi hebat, menjadi sempurna, ataupun menjadi yang dicintai. Maka jika dipikir lebih dalam, tentu musuh terbesar manusia tak lain adalah takdirnya sendiri. Takdir yang membagi keinginan dan kodrat ke dalam dua kotak berbeda. Karina Suwandi isn’t the kind of woman that you see everyday. She is another type of jewel. Ia lebih gemar menyingsing lengan kemeja daripada merapikan lipatan gaun. Ia lebih suka berkelana dalam celana daripada tampil seronok dalam rok. Ia lebih memilih berlari dengan pantofel daripada melangkah dengan heels. Does that make her different? No. That makes her special. Toh seutas garis tipis yang mengontraskan kaum hawa dan kaum adam kini kian buram di telan idealisme modern, bukan? Karina Suwandi merupakan seorang perempuan sederhana yang tak gemar berkelana bersama mimpi di langit fantasi. Ia lebih senang berada di sini, bermain-main di tengah realita hidup pilihannya sendiri. Ia menggandengkan takdir dan keinginannya di ruas jalan seadanya. Karina kali ini membantu saya menemukan satu hal untuk dipelajari, yakni bahwa manusia bahagia adalah manusia yang merasa tak perlu memiliki mimpi-mimpi menjulang tinggi.

Percakapan ringan selama satu jam ini mampu menenangkan hati saya bahwa ternyata masih ada primadona layar kaca yang merasa tidak perlu hidup bergelimang binar-binar materi. Berbincang dengannya membuat saya berpikir, not only does she dress like men, she also thinks as sharp as men. But above of all, she loves like a lady. Bertahun-tahun mengasingkan diri di “dunia awam”, kini parasnya kembali di dunia sandiwara. Tak perlu resah, karena namanya pun sudah terlalu besar di dunia hiburan Tanah Air untuk diperkenalkan kembali.

She’s the man. And she’s truly yours to see. Always.

 

CLARA : How are you today?

Ow, very good!

Where have you been?

Actually, ten years ago aku masih ada Event Organizer ketika aku tinggal di Bali tahun 1991 sampai 1997, lalu aku balik ke sini [Jakarta –red] karena ada syuting WarKop, setelah itu ada Event Management juga. We specialized in fashion event and theme party. Plus kita pegang mass party, invite DJ, mereka datang, terus mereka play. Lama-kelamaan capek juga. Sampai akhirnya aku kerja di Grand Indonesia. Kemudian kerja six years di Electronic City. Makanya cukup lama nggak kedengeran. Sampai akhir bulan Juli kemarin. Aku punya anak berumur tiga tahun, I was thinking it’s his golden age, it’s better if I work mobile so I can spend more time with him, and I already had plan not doing something yang everyday, jadi aku punya banyak waktu sama dia. Buat aku itu penting, it’s his golden age. So I am just enjoying my time not working everyday. Baru dua belas hari… Hahahaha… Sekarang aku masih syuting dan mulai mengembangkan hal-hal lain.

Hal-hal lain apa?

Karena aku ada lahan di Bandung, so I’m gonna make a little village, mau bikin semacam limasan rumah Jawa di bukit gitu. Ayahku bergerak di bidang landscape pertanian dan perikanan, my mom teknik sipil. My mom kebetulan suka gardening, dari kecil kita juga gardening karena rumah kita kebunnya besar, jadi ya why not? I’m not a really organic person but I’m sure one day kita juga pasti akan mengarah ke sana. Maksudnya, sustainability dan lainnya, maybe water’s gonna be hard to get and all that. So I’m gonna train my son to understand it. Dan kita juga mau develop masyarakat sekitar untuk lebih lagi. Karena komoditas selalu diperlukan. Supermarket saja sudah ratusan. Orang butuh makan. Terus kalau lahannya habis bagaimana? Saya sih dari dulu memang ingin punya restoran, jadi kalau punya restoran di Bandung tuh inginnya yang organik dan non-organik. Maksudnya, aku tuh juga bukan organic person, kita juga sudah biasa kok sama yang di supermarket. Tapi mau mengajak masyarakat sekitar untuk lebih punya awareness, misalnya ayam dan kambing, mereka bisa pelihara dan kita bisa beli atau bantu mengembangkan itu. Jadi it’s a big plan, maybe in two years.

Berarti sudah berapa lama keluar dari dunia hiburan?

Kalau di antara fashion society, terakhir di tahun 2008, biasanya masih suka attend acara-acara, tapi setelah 2008 sudah nggak. Terakhir syuting tahun 2002. Dan syuting lagi sekali tahun 2008 di Jakarta untuk program televisi Malaysia.

Mana yang lebih enak, kerja di dunia hiburan atau kantoran?

Hahaha… Kalau aku sih prinsipnya, in every work that I do, aku enjoy. Karena toh juga yang kita kerjakan nggak mungkin yang kita nggak suka. Nobody asks you untuk masuk ke got terus lo masuk ke dalem kan? Kantor is different. Shooting is different. So much different environment and community. Tapi I had so much fun juga di kantor.

What did you learn from both worlds?

Satu yang paling aku pelajari adalah, karena ini juga berhubungan dengan apa yang aku jalankan, you have to have a dream. At least we have to have an intention. Jadi sebelum kerja kantoran, it crossed my mind waktu aku di Bali tahun 1997, “Kayaknya enak juga ya kalau kerja di Sudirman. Temen-temen kantor. Enak kali ya?”. And it happened. Tahun 2008 aku kerja di tengah kota. Itu yang aku pelajari, nggak boleh berhenti bermimpi.

Kedua, kalau di kantor aku belajar tentang leadership. You have you earn it dengan jam terbang pasti. Pengalaman. Kita juga harus mempelajari flow management seperti apa, harus mengerti bagaimana mendekati si A dan si B dengan cara yang mungkin berbeda. Kalau di tempat syuting, kita di-lead. Ada director-nya yang memimpin. Jadi it’s a totally different. Tapi fun-nya buat aku sama. Karena kalau everyday shooting kayak kamu gini kan coba…

Aduh, deadline terus kalau kayak saya gini…

Nah, ya kan. Challenge-nya ada kan?Every second you have to think.

Banget.

Hahaha… Kalau syuting, aku ikutin saja, karena ada pemimpinnya. Saya terus terang, nggak bisa berhenti berpikir di kantor. So when I’m at work, even Path juga nggak dipegang. Hahahaha… Sudah fokus. Walau punya team banyak harus perhatiin semua, we have to understand them, karakternya seperti apa.

You mentioned earlier. You do what you love. Really, you always do what you love?

Actually, that’s a good question. Kalau sekarang iya, I always do what I love. Kita terkadang bisa diceburin ke sesuatu yang belum kita terlalu suka, tapi lama-lama kita suka kalau kita memang [rasa suka –red] ada, tapi belum terkorek. Dulu, jadi model sebenarnya bukan keinginan aku. I was like what, 14 tahun?! Terus pertama kali ditanya mau jadi model atau nggak itu pada saat my mom lagi di ICU, aku ketemu Hengky Tandayu di lift. Aku lagi pulang tengokin mama. Dia tanya, “Halo. Kamu namanya siapa? Umurnya berapa? Mau jadi model? Nanti dikontek ya!”. Aku senyum-senyum dan he’eh he’eh saja. Setelah itu, ada casting untuk Lupus, yang casting itu Mas Dono WarKop. Akhirnya aku main film, itupun malas. Aku pun nggak suka tampil. Bukan keinginan aku awalnya. 14 tahun, it wasn’t in my picture. Aku maunya jadi atlet, aku suka olahraga.

Apakah sulit kembali ke dunia yang sudah lama ditinggalkan, lalu banyak pendatang baru, and you have to start all over again?

I can say I’m blessed. I feel blessed dan beruntung banget karena aku sudah lama nggak main [peran –red], seperti yang kamu bilang. Tapi WarKop diulang-ulang di televisi. Jadi sebuah keberuntungan. Dan akupun ketika balik lagi [ke dunia entertainment –red] juga masih kerja. Aku jadi double agent, pusing. Hahaha… Pulang kantor harus syuting lagi, untungnya ada anakku, aku fokus ke anak aku, jadi semuanya terbentuk ke arah sana. Pelan-pelan keinginannya tercapai.

Let’s talk about your son. You love him so much, pasti. Sudah tiga tahun umurnya, apa saja yang dilakukannya sekarang?

Sekarang dia pre-school. Kalau tiga tahun orang bilang lagi lucu-lucunya.

Saya lihat fotonya di Instagram, lucu dan gemas sekali.

Oh ya… Hahaha…

What’s his name?

Daniel Alexander.

But not so many people know about your family and the story behind it? Would you mind sharing?

Aku biasanya like to let people to know. Tapi nggak yang ke infotainment cerita aku begini-begitu. Karena I also have to protect my son juga. At least di Instagram aku buka, okay I have a son, I have a loving son. Aku nggak mau harus cerita ini cerita itu. He’s a gift from God, so I have to take care of him. Jadi kalau aku tell story, ya aku baru bisa ceritanya seperti itu saja. I wanna build his character. I have him benar-benar at the right time. Mungkin 10 tahun yang lalu aku belum ke arah sana. So I guess it’s the right time to have him.

Dan itu yang terpenting, sepertinya ya? Protecting your son and loving him.

Ya, maksudnya, it’s okay if he knows aku siapa. Aku lihat dia suka dengar lagu, aku sudah terbayang, oh ya maybe he can be like Frank Sinatra, singing and playing piano. Haha… Maksudnya diamau jadi apapun, I will support him.

You always happen to be in the right place atthe right time. But I am sure pasti ada struggle dalam menjalani kehidupan. How do you usually handle the struggle?

Struggle that I have usually when I’m shifting. Seperti ketika aku memutuskan untuk tidak bekerja secara rutin, itu kan nggak mudah. Sama kebalikannya juga. Tapi the biggest struggle that I had of course ketika aku harus memutuskan I want to take care of my son, I wanna spend more time with him. Which is I had to prepare everything sama dia dan keluarga.

Jadi sekarang Anda berperan sebagai seorang ibu dan ayah sekaligus?

Boleh dibilang begitu, awalnya dulu saya masih sendiri mengurus Daniel, tapi sekarang ada sih seseorang yang lebih membantu aku. Hahahaha…

(to be continued)

 

Teks: Andreas Winfrey / Foto: Rizki Mashudi

 

Read more about Karina Suwandi inside our Volume XCIII “The Gender Bender Issue”!

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON