Just Thriving or Really Starving?

Just Thriving or Really Starving?

Ketika seorang individu tumbuh dewasa, akan datang masanya dimana dia dituntut untuk bekerja dan hidup mandiri. Idealnya, sang individu akan dapat beradaptasi dengan penghasilan yang dibuatnya. Dia akan hidup berhemat jika upahnya kini lebih rendah dari standar hidup yang dipupuk oleh keluarganya dan tentunya bebas untuk menjalani hidup yang lebih sejahtera jika mendapatkan upah yang mendukung. Namun, sayangnya sudah dari dulu semua individu rela diperbudak oleh rasa gengsi. Karena siapa yang rela untuk terlihat lebih terpuruk dari masa lalunya? Apa kata orang?

Makanya banyak orang yang berlomba-lomba untuk menenggelamkan dirinya dalam kemewahan yang sesaat. Bergonta-ganti gadget adalah contoh paling kekinian, saya rasa banyak yang setiap tahun rela mengeluarkan uang puluhan juta hanya untuk membeli smartphone yang terbaru agar terlihat paling keren di antara teman-temannya atau hanya sekadar agar bisa meng-upload foto terbagus di akun media sosialnya. Namun, sebetulnya hal tersebut bukanlah sesuatu yang baru karena revolusi industri fashion yang telah berpuluh-puluh tahun berjalan adalah otak dari sistem konsumerisme ini.

Setiap tahun, setidaknya seorang desainer meluncurkan dua koleksi yang berbeda. Minimal dua. Semakin besar namanya, semakin sering sang desainer akan mengeluarkan koleksi, semakin besar pula dampaknya kepada setiap penggemarnya. All that fashion people mau menjadi yang pertama untuk melihat koleksi terbaru idolanya. Click! Click! Click! Semua ingin mengabadikan pengalamannya hadir di fashion week dan tentunya ingin juga dibidik oleh street photographer untuk menaikkan pamornya. Tidak heran satu minggu lalu satu titik di Jakarta sempat penuh sesak dipadati oleh para pemburu mode like it’s the end of the world.

Dari satu fenomena fashion ke fenomena lainnya. Saya baru saja dikirimi foto ratusan orang yang mengantri mengular di salah satu pusat perbelanjaan ternama di Jakarta hanya untuk mendapatkan affordable piece dari seorang desainer internasional. Nahkan, memang industri fashion mendukung para individu untuk hanyut dalam ketidakwarasan, sengaja “mempermudah” para penggila fashion untuk hanyut dalam kecanduannya. Karena meski dilabeli sebagai koleksi yang berharga terjangkau, toh ­top pieces­-nya tetap bernilai jutaan rupiah juga dan belum tentu bisa dipakai dalam periode yang panjang. No, I don’t blame everything on fashion karena pada akhirnya manusialah yang memiliki akal dan yang seharusnya mampu berpikir, tetapi sayangnya tetap rela untuk dibutakan oleh label berukuran tidak lebih dari 2×6 cm.

Teks & Foto: Rianti Dwiastuti

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON