In the Name of Pain

In the Name of Pain

Violence does not always take a visible form, and not all wounds gush blood.1Q84, Haruki Murakami

Rasanya manusia normal manapun akan tidak setuju dengan balas dendam. Hanya amarah yang menang dalam pembalasan dendam, sementara di saat bersamaan akan meruntuhkan kemanusiaan. Tapi bagaimana jika luka itu menimpa diri, terutama berhubungan dengan orang terkasih. Berbagai cara mungkin dilakukan untuk membalaskan luka yang diderita.

An eye for an eye. Pelaku harus mendapat balasan yang setimpal. Mungkin itu konsep dasar balas dendam. Yang menjadi pembeda adalah cara yang dilakukan untuk menyetimpalkan. Beberapa film tentang balas dendam berikut ini bukanlah sebagai referensi yang dapat dilakukan untuk membalaskan luka (yang mungkin) Anda alami. Dendam dapat berwujud apapun dan dilakukan dengan cara yang tidak diduga-duga, bahkan terkadang hadir dalam bungkus yang penuh kasih. So, be nice, always.

*Imbauan: Anti-spoiler cukup baca sampai di sini.

Oldboy (2003)
Sutradara: Chan-wook Park
Pemain: Min-sik Choi, Ji-tae Yu, Hye-jeong Kang

Ada yang bilang, dalam trilogi, yang terbaik adalah yang kedua. Seri pertama sebagai pembuka (perkenalan), ketiga sebagai penyelesaian, sementara yang kedua merupakan puncak konflik. Tapi, untuk kali ini, dendam mencapai puncak pada yang ketiga. Park Chan-wook menyelesaikan semua dendamnya di sini.

Memenjarakan Oh Dae-su selama 15 tahun, serta menjeratnya dengan skenario sebagai pembunuh sang istri, ternyata tidak cukup untuk memuaskan dendam Lee Woo-jin. Bahkan, ketika Dae-su menghirup udara bebas, rencana balas dendam sebenarnya baru dimulai.

Berpikir bebas setelah keluar dari penjara, hidup yang dijalani Dae-su ternyata sudah diatur oleh Woo-jin. Persiapan yang panjang ditambah bantuan ahli hipnotis, Dae-su diarahkan untuk mewujudkan rencana-memilukan.

Pada akhirnya, Woo-jin memutuskan bunuh diri. Tapi, Dae-su harus menjalani hidup yang memilukan. Dia terpaksa membuat keputusan pahit, rela ‘membunuh’ sebagian dirinya demi hidup bersama Mi-do (anaknya). Bukan dalam hubungan sebagai ayah-anak, tapi sebagai sepasang kekasih.

Revanche (2008)
Sutradara: Götz Spielmann
Pemain: Johannes Krisch, Irina Potapenko, Andreas Lust, Ursula Strauss, Johannes Thanheiser

Dari judulnya saja sudah menasbihkan ini sebagai film tentang balas dendam. Tapi, jangan berpuas dulu. Tidak semudah menebak tema cerita, pelampiasan dendam di film ini dilakukan dalam bentuk yang mungkin membuat Anda terenyuh.

Melarikan diri dari pengejaran polisi, Alex bersembunyi di rumah sang kakek—di sebuah desa yang berada di tengah hutan. Dalam keheningan, dia menyibukkan diri dengan berbagai ‘pekerjaan rumah’, sambil melepas duka kematian kekasihnya—tertembak saat coba melarikan diri dari polisi.

Sebuah kebetulan karena Robert, polisi yang menembak kekasih Alex, juga tinggal di desa yang sama. Rencana balas dendam dibuat, senjata disiapkan, lokasi eksekusi ditentukan. Namun ternyata ada hal di luar perencanaan. Alex terlibat ‘hubungan’ dengan Sussane (istri Robert, wanita yang mengidamkan buah hati tapi harus berbesar hati karena sang suami tak subur untuk membuahi). Di malam hari, saat Robert bertugas, Alex datang berkunjung dan menggantikan peran Robert sebagai suami.

An eye for an eye ternyata tidak berlaku bagi dendam Alex. Alih-alih membalas melenyapkan sebuah kehidupan untuk membalas kematian sang kekasih, Alex malah ‘menyumbang’ kehidupan baru bagi targetnya. Sussane hamil akibat hubungan yang dilakukan dengan Alex. Ketika Sussane mengetahui kisah perampokan Alex, keduanya membuat kesepakatan: hidup dengan rahasia masing-masing. Rahasia yang tidak pernah diketahui Robert.

Confessions (2010)
Sutradara: Tetsuya Nakashima
Pemain: Takako Matsu, Yoshino Kimura, Yukito Nishii, Kaoru Fujiwara

Di hari terakhir mengajar, Yuko Moriguchi bercerita pada para siswa di kelas tentang kepedihan yang dialami. Menikah dengan pengidap HIV, dirinya mendapat berkah ketika anak yang dilahirkan tidak terjangkit virus berbahaya tersebut. Meski sang suami harus hidup terpisah, tapi kehidupan yang dijalani bersama sang buah hati bisa dibilang bahagia. Sampai suatu ketika, tubuh anaknya ditemukan mengapung di kolam renang tempatnya mengajar.

Dengan tenang, Yuko menceritakan analisanya. Tentang dua siswa yang membunuh anaknya. Tentang keputusannya tidak melaporkan ke polisi (siswa SMP tidak akan dikenakan tindak pidana). Juga tentang darah sang suami yang disuntikkan ke kotak susu yang baru saja diminum oleh dua siswa yang membunuh anaknya.

Dia hanya bercerita, tanpa pernah melakukannya. Tidak ada darah penderita HIV di dalam kotak susu. Tapi, cerita Yuko lebih tegas daripada putusan persidangan. Kehidupan beberapa siswa yang terlibat pembunuhan anak Yuko berubah drastis, sekaligus memunculkan sisi gelap orang-orang di sekitarnya. Yang terjadi kemudian, Yuko membagikan rasa kehilangan yang dirasa pada beberapa orang. Ada anak yang kehilangan ibunya, ada ibu yang (juga) kehilangan anaknya, ada pula kekasih yang ditinggal pujaannya—untuk selamanya.

Pieta (2012)
Sutradara: Kim Ki-duk
Pemain: Jo Min-soo, Lee Jung-Jin, Lee Wan-jang

Kebencian tidak selalu berwujud kekerasan. Dalam film ini, dendam itu disampaikan dengan penuh kelembutan, dalam wujud seorang ibu. Wanita yang menawarkan kasih sayang yang tidak pernah dirasakan oleh pelaku kekejaman.

Membalas kematian sang anak yang bunuh diri karena putus asa setelah mengalami cacat, seorang wanita tiba-tiba hadir dalam kehidupan Gang-Do. Mengaku sebagai wanita yang melahirkan Gang-Do dan terpaksa pergi karena tidak siap akan kehadiran seorang anak, sikap penolakan Gang-Do dibalas dengan ketulusan.

Tidak ada yang tidak luluh oleh kelembutan kasih. Gang-Do yang selama 30 tahun tidak mengenal kasih akhirnya luluh oleh perhatian yang diberikan. Hidup si agen asuransi sekaligus debt collector yang sering membuat cacat ‘nasabahnya’ (sebagai ganti atas sejumlah uang yang dipinjam) pun berubah. Sosok kasar, tak kenal ampun menjadi pria yang penuh perhatian.

Dan ketika kasih itu membenam di hati Gang-Do, sang ibu memutuskan untuk menyusul anaknya. Gang-Do pun merasakan kehilangan yang tak pernah terbayangkan. Rasa kehilangan yang mendorongnya melakukan sesuatu yang terlalu pedih untuk disampaikan. Sila tonton sendiri akhir cerita film ini jika memang penasaran, dan jika Anda cukup kuat untuk merasakan sembilunya keputusan yang dilakukan Gang-Do.

Remember (2015)
Sutradara: Atom Egoyan
Pemain: Christopher Plummer, Martin Landau, Jürgen Prochow

Rencana balas dendam yang direncanakan Max boleh dibilang kebalikan dari pepatah lama, air tuba dibalas dengan air susu—yang sudah dicampur arsenik. Tahu bahwa orang yang bertanggung jawab atas penderitaan di masa lalu tinggal satu atap dengannya, dan mengalami demesia, Max menanamkan rasa kehilangan itu pada Zev. Bahwa Zev, seperti halnya Max, adalah orang Yahudi yang berhasil bertahan dari siksaan di Autschitz.

Max lalu menyiapkan sebuah rencana perjalanan bagi Max, untuk menemukan mantan kepala kamp pengungsian, Otto Wallisch atau yang kemudian berganti nama menjadi Rudy Kurlander. Meski kerap diganggu dengan masalah demensia, catatan yang dibuat Max membuat Zev terus melakukan perjalanan dan mencari orang yang dituju.

Satu per satu orang yang bernama Max mengunjungi orang yang bernama Rudy Kurlander. Dan dari setiap pertemuan itu, rasa kebencian terhadap sang mantan kepala kamp pengungsian semakin besar. Sampai pada kunjungan yang terakhir, rasa kebencian itu mencapai puncaknya.

Max memang tidak bertemu dengan orang yang dicari. Yang ditemuinya di kunjungan terakhir adalah mantan rekan kerjanya. Tapi, pertemuan ini mengembalikan ingatan Max pada kejadian 70 tahun sebelumnya. Kebenaran pun terungkap. Kebenaran yang sangat pahit. Sosok Rudy Kurlander yang dicari selama ini tidak lain adalah dirinya. Max memutuskan keadilan untuk dirinya sendiri, atas perbuatan yang dilakukannya di masa lalu.

Teks dan Foto: Agung Suharjanto

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON