How To Be A Kid Again, in My Version!

I remember it clearly when my 7-year old niece suddenly said to me, “Auntie, I can’t wait to be an adult, I can do anything I want to do, I can wear anything I want to wear.” Oh, kid, you clearly don’t know what you wish for.

Sesungguhnya, itu pula yang diharapkan ketika saya berada di umur tersebut. Berharap untuk segera dewasa, memiliki kebebasan, tidak merasa terkekang. Kini, di umur saya yang beranjak ke angka 22, entah mengapa, saya merasa harapan itu sungguh konyol. As a kid, people might say no to you, but they will never judge you. As an adult, people can say anything they want behind your back or even right in front of your face. Dan, kabar lebih buruknya, Anda tidak dapat menangis seperti anak kecil, karena justru hanya akan menambah cibiran.

Memang, kita tidak akan pernah bisa memutarbalikan waktu. The clock is ticking, however, here is the list of 5 things that might help you to feel like a kid again!

Bertemu teman lama

via GIPHY

Maksud saya bukan reuni akbar yang mengumpulkan seluruh angkatan ya. Namun, teman-teman dekat yang memang sudah agak kurang terjangkau karena kesibukan masing-masing. Meeting your old friends and talking about some good old memories can actually make you feel like traveling back in time.

Menonton film zaman dahulu

via GIPHY

Akhir-akhir ini di televisi kantor sedang sering diputar film ‘Si Doel Anak Betawi’. Melihat para pemain yang masih muda, saya merasa seolah turut kembali ke masa itu. Sebenarnya tidak hanya film jaman dulu, setiap kali saya menemani keponakan menonton film kartun, entah mengapa saya mampu merasa seperti anak kecil dan turut menikmati setiap detiknya.

Tidur siang

via GIPHY

Memang sesuatu yang mustahil dilakukan di hari kerja. Namun, setiap akhir pekan, saya seringkali meluangkan waktu untuk tidur siang. Bangun lebih awal, melakukan aktivitas santai, lalu tidur sekitar dua hingga tiga jam. Ah, mengapa dulu saya harus merengek ketika disuruh tidur siang?

Jajanan tempo dulu

via GIPHY

Jajanan favorit saya adalah es tong-tong, es dengan bahan dasar santan. Ada rasa kelapa, dan disertai biji kacang hijau. Bisa disantap dengan cone atau roti tawar. Memang, si penjual es ini masih keliling komplek perumahan saya, namun di jam-jam kantor. Sama saja bohong kan? Tidak bisa dinikmati juga. Harus bolos kerja demi es tong-tong?

Cuti dari Media Sosial

via GIPHY

Entah mengapa, cukup dengan scrolling di media sosial, saya merasa seperti mendapat tuntutan dari segala pihak. Harus memiliki tubuh seperti A, sukses seperti B, hubungan idaman seperti C, dan sebagainya. Hal ini tentu berdampak pada psikologis saya yang cenderung membandingkan diri saya dengan mereka. Saya ingat sekali semasa kecil dulu, rasanya hidup tidak sesulit itu.

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON