Harap-Harap Cemas

Photo by Reza Bustami

Tentu akan selalu ada yang pertama dalam hidup ini, sekalipun Anda mungkin menjalani roda kehidupan sudah lebih dari dua atau tiga atau bahkan lebih dari lima dekade. Sebagai contohnya adalah ketika kita mengawali tahun 2018 ini, selain excited akan hal-hal baru yang akan kita lalui, namun di sisi lain ada juga kecemasan yang menghantui. Apakah akan berjalan lancar, dengan harapan kita dijauhkan dari segala kendala dan kesulitan?

Sesuatu yang baru pasti membawa perasaan cemas, kalut, dan pikiran negatif. Saya sangat ingat sekali ketika pertama pertama kali saya masuk sekolah taman kanak-kanak. Suatu lingkungan yang baru dan harus bertemu dengan orang-orang baru, tanpa dapat memprediksi apa yang akan terjadi nanti. Bagi saya hal tersebut sangatlah menakutkan. Begitu pula ketika tahun ajaran berakhir dan naik kelas dan mendapati guru baru, dalam ingatan saya saat itu, apakah guru baru tersebut orang yang baik atau galak? Maka rasa kecemasan itu pun kembali berulang setiap kali naik kelas dan mendapatkan guru baru. Ditambah lagi dengan kecemasan-kecemasan harian mengenai tugas PR, hingga ujian setiap mata pelajaran.

Selepas menyelesaikan tugas saya sebagai pelajar, rasa kecemasan itu pun kembali melanda, ketika saya menapaki dunia pekerjaan. Yang menghantui pikiran saya saat itu apakah saya akan mendapatkan atasan yang pengertian, baik, dan cocok dengan saya? Hal itulah yang selalu menjadi kecemasan saya setiap kali pindah ke kantor baru.

Namun kecemasan itu rupanya tak berhenti ketika saya merasa nyaman dengan para pemimpin perusahaan, tim kerja, dan lingkungan kantor semata. Karena ternyata rasa cemas itu akan terus berjalan berdampingan dengan saya ketika menemui calon klien baru, deadline majalah terbit, hingga target tahunan yang akan dievaluasi di penghujung tahun. Apakah kinerja selama satu tahun terakhir baik dan berprestasi bagus, atau jusrtu sebaliknya.

Disisi lain rasa cemas itu tak hanya berkutat seputar urusan sekolah dan kantor saja. Karena di kotak kehidupan lainnya, tentu saya memiliki kecemasan-kecemasan lainnya, mulai dari masalah finansial, keluarga, pertemanan, dan banyak hal lainnya. Sampai pada akhirnya rasa cemas itu saya anggap sebagai vitamin tambahan, selain vitamin A,B, dan C. Bagaimana tidak, karena berkat rasa cemas itulah manusia pada akhirnya dapat mempelajari suatu keadaan, dapat lebih kuat untuk beragam permasalahan yang hadir. Ibarat suatu persoalan ujian, maka soal ujian ini akan hadir setiap hari, atau bisa juga hadir disetiap detik, dan setiap kali kita menghembus napas.

Apabila rasa cemas mengenai kehidupan ini bisa dikurangi dengan prosesi tawar-menawar, mungkin saya akan menggantinya dengan memberikan uang lebih, atau hal apapun yang dapat mengurangi bobotnya. Sayangnya rasa cemas adalah sebuah paket kesatuan yang terbungkus dalam balutan emosi. Maka kita tidak dapat melepaskannya atau mencampakkan begitu saja. Apa yang kita peroleh hanya bisa disyukuri saja, dan mengaturnya bagaimana perasaan itu bisa membawa dampak positif bagi kita. Seperti halnya bagaimana kita selalu ingat kepada Sang Pencipta untuk mengangkat semua masalah dan kesulitan kita, dan menjadikan rasa cemas tersebut terkikis dan berubah menjadi perasaan bahagia. Karena sesungguhnya hidup ini akan jauh lebih berwarna jika kita berhasil melalui segala kepelikan hidup.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON