Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja
View Gallery
31 Photos
Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Haluan Menuju Tanah Para Raja

Perjalanan kami mulai dari Mamuju, ibukota dari provinsi muda Sulawesi Barat. Selama tiga jam kami menempuh perjalanan menuju pesisir kota nelayan, Majene. Setiap tahunnya, sekitar bulan Agustus sampai Oktober, terdapat acara Sandeq Race yang merupakan ajang balap perahu tradisional Mandar.

Beruntung, saat saya beristirahat di kota ini, perahu-perahu sandeq tersusun rapi di tepi pantai untuk memulai pencarian ikan pada malam. Urusan makanan khas, Majene memiliki ikan terbang asap dan mereka menyebutnya dengan nama ikan tuing-tuing.

Meskipun tiap hari di ibukota sering dicekoki oleh kemacetan, serta kelakuan raja jalanan, kali ini saya harus menenggak obat antimabuk yang cukup banyak untuk menghadapi medan perjalanan menuju Tana Toraja yang termasuk dalam hitungan kelas berat. Beruntung cuaca yang bersahabat selama perjalanan turut melengkapi lanskap Pegunungan Bambapuang. Di poros menuju arah Kalosi, terdapat gunung unik yang bernama Buttu Kabobong, atau lebih dikenal dengan nama Gunung Nona. Dinamakan demikian oleh masyarakat setempat karena menyerupai bentuk alat reproduksi wanita, dan dipastikan hanya satu-satunya di Indonesia.

Berlokasi di utara Sulawesi bagian selatan, suasana Tana Toraja terasa berbeda dibanding daerah lainnya meskipun yang berada di provinsi yang sama. Menempati kawasan dataran tinggi dan terkesan terisolir, masyarakat Toraja tetap memiliki peradaban dan kebudayaan yang kaya tanpa harus dikalahkan oleh Suku Bugis di selatan sebagai salah satu suku terbesar di timur Indonesia. Asal nama tana toraja sendiri memiliki banyak versi dari berbagai suku, tapi yang paling terkenal berasal dari bahasa Bugis to riaja yang berarti “orang yang berdiam di negeri atas”.

Berada di Tana Toraja seperti terperosok ke lembah yang hilang, tersembunyi di balik dinding curam pegunungan. Sawah yang berundak-undak layaknya di Bali menjadi pemandangan yang umum di sini. Tetapi, terdapat suatu bangunan yang sepertinya selalu ada dalam hitungan jarak ratusan meter. Mereka menyebutnya tongkonan, rumah adat Toraja yang secara mewah diukir dan dipoles dengan warna merah, jingga, dan hitam dengan pola yang rumit. Atap melengkung tongkonan melambung ke langit, seperti haluan kapal yang mengantarkan leluhur ke angkasa. Deretan tanduk kerbau merupakan suatu simbol status sosial keluarga yang berasal dari tradisi turun-temurun. Tanduk-tanduk tersebut menjadi suatu hal yang bergengsi dan membanggakan.

Saya bertemu teman lama bernama Jimmy, seorang asli Toraja yang kemudian menetap di Makassar. Mendengar cerita Jimmy, kematian memainkan peran sentral dalam budaya Toraja. Ritual “pesta” pemakaman Toraja dibagi menjadi dua bagian, yaitu rambu solo sebagai upacara kematian dan rambu tuka yang menjadi upacara penghiburan. Pelaksanaan upacara-upacara ini tergolong mahal, karena memerlukan kurban sembelih yang bernama tedong bonga, kerbau albino yang dipastikan tidak berjumlah banyak. Ditambah lagi, saya harus mengernyitkan dahi begitu tahu bahwa diperlukan jumlah uang yang tidak sedikit untuk mengumpulkan mereka dalam kuantitas yang banyak. Dari kerbau-kerbau inilah kemudian diperoleh tanduk yang akan digunakan sebagai simbol status sosial yang akan digantung di tongkonan.

 

(to be continued)

 

Teks & Foto: Jatidiri Ono

 

Read more about the holy ritual in Tana Toraja inside our Volume XCIII “The Gender Bender Issue”!

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON