Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint
View Gallery
28 Photos
Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Gibraltar, Mediteranian Checkpoint

Lafalnya terdengar seperti penyebutan nama dari daerah gurun pasir di Timur Tengah, juga sedikit mengingatkan saya akan penyair Kahlil Gibran yang lahir bertetangga dengan wilayah tersebut. Ternyata nama Gibraltar memang diambil dari bahasa Arab yang berarti “Pegunungan Tariq”.

Tariq ibn-Ziyad adalah seorang jenderal pertama yang memimpin serbuan ke Semenanjung Iberia, di mana Gibraltar termasuk dalam bagiannya. Nyatanya dalam peta dunia, wilayah yang sangat kecil ini tampak menjadi bagian dari Spanyol di Eropa dan berhadapan dengan Maroko di Afrika yang hanya terpisah oleh laut. Fakta di atas kertas putih, Gibraltar bukan bagian dari kedaulatan Spanyol, tetapi masih menjadi bagian dari pemerintahan Britania Raya atau negara Inggris. Maka tidak aneh bahasa resmi negara ini adalah bahasa Inggris dan mereka memiliki British Passport sebagai bagian dari negara Inggris yang terletak jauh dari induknya.

Tidak jauh halnya dengan negara-negara sekitar Laut Mediterania, warna yang mendominasi Gibraltar adalah warna-warna tanah eksotis dan juga warna putih gading. Cukup selfie di depan papan petunjuk di jalan-jalan kecil, and the result will be something you’d happy to share, while someone will ask in envy about where the heck you were.

Saya mengunjungi beberapa tempat yang merupakan highlight points dalam kunjungan-kunjungan ke Gibraltar. Salah satunya adalah Trafalgar Cemetery. Walaupun namanya membuat kita ingat akan Pertempuran Trafalgar, sesungguhnya hanya dua kesatria yang gugur dari pertempuran tersebut lalu dimakamkan di sini, kebanyakan sisanya disemayamkan di laut lepas. Pemakaman ini jauh dari kesan menyeramkan, justru terasa seperti taman yang menenangkan sebagai salah satu alternatif berjalan santai dan bersembunyi dari terik matahari. Jalan setapak dan pepohonan rindang yang ada di dalam kawasan ini sangat terawat, hanya saja yang mendekorasi pemandangan adalah batu-batu nisan. Tempat ini dibuka bagi pengunjung mulai dari matahari terbit hingga terbenam.

Berikutnya yang tidak kalah hijau dan rindang adalah The Alameda, Gibraltar Botanic Gardens. Salah satu pilihan favorit bagi keluarga untuk berakhir pekan. Tanah berpasir yang agak merah menjadi alas hidup bagi pepohonan dan bunga-bunga di sini. Semua jenis botani unik berwarna mencolok yang hanya saya pernah lihat di buku itu diberi label nama satu persatu. Sejujurnya saya tidak lagi ingat nama-nama ilmiah yang tertulis di sana, karena yang berkesan bagi saya adalah kesenyapannya. Kebun raksasa ini terletak tepat di pinggir jalan utama, dekat dengan perhentian cable car. Di luar sana hingar bingar, tapi begitu saya masuk beberapa langkah ke dalam The Alameda, rasanya ada koneksi yang terputus dengan perkotaan. Saya lupa bahwa saya ada di wilayah turis dalam periode peak season.

Melanjutkan lebih jauh ke ujung selatan Gibraltar, saya tiba di Europa Point. Landmark dari titik ini adalah adanya mercusuar bergaris merah yang berdiri di bibir pantai, juga Masjid Ibrahim Al Ibrahim, masjid paling selatan dari benua Eropa. Ketika saya mengatakan paling selatan, Europa Point benar-benar ada di atas tebing yang berbatasan langsung dengan Selat Gibraltar.

Saya membeli es krim dan duduk di salah satu kursi kayu panjang yang cukup banyak tersedia. Angin berembus cukup kencang tapi cuaca sangat cerah. Di hari beruntung seperti ini, saya bisa melihat Benua Afrika dengan mata telanjang di seberang lautan sana. Terasa bisa diseberangi dengan kapal ferry dalam waktu singkat walau sebenarnya sangat jauh. Saya mengulum es krim saya lagi. This is a place to fully admire the view. If I’m a local, maybe this is the best spot to clear a wandering mind.

Tujuan selanjutnya yang wajib saya kunjungi adalah Rock of Gibraltar, tempat yang cukup fenomenal dari segi geografis maupun dari segi historis dan tujuan utama dari Gibraltar. Rock of Gibraltar adalah gunung kapur besar setinggi 426 meter yang menjadi area perbatasan dengan Spanyol. Di masa perang, tempat ini memegang peranan yang sangat penting, karena gunung ini menyimpan lorong bawah tanah di bawahnya untuk kepentingan arus berita dan strategi perang. Kini lorong yang dikenal dengan Great Siege Tunnel menjadi galeri dan museum yang menarik banyak sekali wisatawan setiap tahunnya.

Sementara di bawah batuan tersimpan peninggalan perang, di atas batuan hidup ratusan Barbary macaque, kera batu yang tidak mau kalah untuk menarik pengunjung. Rock of Gibraltar juga disebut-sebut sebagai satu dari dua Pillars Of Hercules. Menurut mitos, Hercules dengan kekuatan supernya menghancurkan daratan yang membatasi Samudera Atlantis dan Laut Mediterania, sehingga terbentuklah dua pilar batu tinggi yang menjadi gerbang masuk ke Laut Mediterania melalui Selat Gibraltar.

Saya menuju puncak Rock of Gibraltar menggunakan cable car. Sesampainya disana,
wah, pemandangannya sungguh luar biasa! Very refreshing! Saya seperti merangkum satu hari saya dari ketinggian. Bangunan-bangunan bersejarah, kuil-kuil tua, apartemen putih bertingkat, rumah bukit warna-warni, kapal-kapal pesiar, hingga laut biru sepanjang pesisir semuanya menghantam retina saya bersamaan. Bak seorang raja yang baru saja menyatakan kedaulatannya akan perluasan daerah kekuasaan, saya berdiri tersenyum didampingi monyet-monyet nakal dan burung-burung camar yang bertengger.

Teks & Foto: Aditya Arnoldi

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON