GELISAH

Evening. Melancholy, 1891. Oil, pencil and crayon on canvas. 73 × 101 cm. Munch Museum, Oslo

Kegelisahan telah mengajari, kalau pada akhirnya tak semua masalah bisa saya selesaikan dengan kemampuan intelektual saya, kemampuan networking saya ataupun kemampuan finansial semata.Samuel Mulia

Gelisah.

Sebuah perasaan yang jauh dari rasa geli dan basah.

Pernahkah Anda gelisah? Saya tidak sering, tapi mudah diserang rasa gelisah. Dan sekalinya di serang, saya tak bisa tidur. Apa yang membuat saya gelisah? Macam-macam alasannya. Dari diteror klien yang bawel karena mau cari muka, sampai gelisah karena pesan tidak dibalas oleh orang yang saya sukai tapi belum sampai mencintai.

Sering kali saya menyadari, bahwa belum mencintai saja, saya sudah segelisah itu. bagaimana kalau sudah jadian resmi? Kata teman saya yang sudah pernah melewati fase ini, kalau sudah dimiliki, tak akan gelisah. Gelisah itu kalau belum dimiliki. Kalau sudah dimiliki gelisah tidak, tetapi ketakutan ya. Takut diembat orang lain. Katanya lagi, belakangan makin hari makin ganas yang mau ngembat. Gak laki, gak perempuan.

Karena kalau pacaran masih belum ada keterikatan secara hukum, jadi kalau diembat orang lain yaaa…cari lagi. Sementara kalau sudah menikah resikonya besar kalau pasangan diambil orang. Status janda atau duda langsung menjadi predikat selain gelar akademis yang dimiliki.

Tetapi apa sesungguhnya gelisah itu? Dalam kamus bahasa Indonesia, gelisah itu mengandung arti tidak tentram, selalu merasa khawatir, cemas, resah bukan desah. Bisa jadi resah menimbulkan desah. Saya pernah mengikuti latihan meditasi, menghadiri persekutuan doa, bergaul dengan beberapa coach yang mengajari orang untuk percaya diri, untuk menghadapi hidup secara positif di tengah kehidupan yang seperti rollercoaster, yang menimbulkan rasa tidak tentram itu, toh rasa gelisah itu tak bisa hilang. Berkurang saja tidak.

Beberapa bulan lalu, saat saya sedang mengikuti coaching bagaimana berkomunikasi dengan generasi milenial, terjadi gempa bumi yang cukup kencang. Saya langsung gelisah, jantung berdegup kencang. Saya merasa tidak tentram apalagi ketika gempa bumi sudah selesai,  dan kami boleh kembali ke ruangan. Bahkan rasa cemas itu terus berlanjut ketika sampai di tempat tinggal di lantai 15. Saya tak bisa tidur malam dengan nyenyak, sebentar-sebentar terbangun.

Saya mencoba untuk berdoa, satu-satunya jalan untuk menenangkan perasaan cemas itu. Setelah sesi curhat dengan Yang Maha Kuasa yang lumayan panjang untuk memohon jaminan dilindungi dari malapetaka itu, saya lumayan tenang dan dapat tidur sampai pukul 4 pagi. Buat saya itu sudah sangat luar biasa dapat tidur terus dan terbangun sesubuh itu.

Sehari setelah gempa terjadi, saya bangun pagi untuk melanjutkan mengikuti kelas coaching yang saya sebutkan di atas. Entah darimana datangnya, saya bisa berpikir tenang kalau gelisah itu memang tak dapat dihindari, dan kegelisahan yang dirasakan itu agar saya tetap mawas diri terhadap kehidupan duniawi dan spiritual saya.

Jadi perasaan negatif itu kadang menjadi peringatan untuk hidup dalam kebenaran dan dalam kerendahan hati. Karena acap kali saya ini merasa bahwa keberadaan saya sampai sekarang ini semua karena saya, semua karena usaha saya. Kegelisahan telah mengajari, kalau pada akhirnya tak semua masalah bisa saya selesaikan dengan kemampuan intelektual saya, kemampuan networking saya ataupun kemampuan finansial semata.

Kecemasan dan kegelisahan yang dirasakan itu sejatinya bukan untuk membuat saya keder secara spiritual, tetapi membenahi kehidupan duniawi, agar jalan pulang saya nanti bisa lancar seperti tol (yang katanya) bebas hambatan.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON