FOOD FOR THE SOUL

(Foto: Tpgimages.com)

Ternyata memberi makan jiwa itu sama pentingnya untuk keberlangsungan hidup, hanya saja tidak semudah memberi makan raga.

Cuaca Ibukota akhir-akhir ini begitu fluktuatif. Matahari yang begitu terik bisa secara instan tertutup oleh awan hitam. Begitupula dengan kondisi emosi saya dan beberapa orang di sekitar. Apakah Anda juga merasa demikian? Selama hampir 30 tahun hidup, tahun ini merupakan tahun di mana saya merasa bahwa emosi saya begitu mudah bermain seenaknya. Amarah cukup menghampiri setiap harinya, baik akibat stress pekerjaan, masalah keluarga dan romantisme, hingga hal-hal kecil seperti meja kantor yang selalu berantakan atau kemacetan Jakarta yang kian menggila. Semuanya berhasil membuat saya menekuk muka. Dalam perjalanan ke kantor, sekitar 15 menit sebelum saya menulis artikel ini, saya berpikiran bahwa bersantap adalah salah satu cara termudah bagi saya untuk menghapus segala emosi negatif, tapi batin saya kemudian bertanya, “Kapan terakhir kali jiwa kamu juga diberi makanan enak?”.

Sebelum perjalanan, saya sempat menarik uang di ATM. Betapa kagetnya saya ketika tahu bahwa saldo tabungan sudah berkurang drastis, padahal gajian belum lama ditransfer oleh staf keuangan CLARA. Akhir-akhir ini saya cukup berfoya-foya, khususnya dalam hal makan-makan. Saya tahu kenapa, karena setiap hari saya menjadikan acara bersantap enak sebagai obat penawar stress dan penat. Meski tidak saya sadari sebelumnya, mungkin cara itulah yang alam bawah sadar saya pilih untuk membuat mood saya menjadi lebih baik. Tapi ternyata tidak cukup.

Memberi makan jiwa ternyata jauh lebih ribet daripada memberi makan fisik saya yang sudah kian menggendut. Tidak banyak yang saya lakukan akhir-akhir ini untuk membuat pikiran saya juga sama menggendutnya. Masalahnya, memang membuat jiwa senang itu kebanyakan harus menggunakan cara mahal. Traveling, misalnya. Kabur sejenak dari pekerjaan untuk berlibur beberapa hari saja membutuhkan biaya yang lebih besar daripada sisa saldo tabungan. Maka cara yang satu itu harus saya sisihkan seraya menabung terlebih dahulu.

Katanya, berolah raga juga dapat menjadi salah satu cara. Nyatanya, setiap bulan saya hanya menjadi donatur studio kebugaran. Masih harus memaksa diri berkeringat sepulang kantor malah membuat saya lebih lelah. Mendengarkan musik, menonton film, atau bertemu dengan kawan-kawan tidak lagi membuat saya excited. Dan membuka media sosial dengan harapan dapat mendistraksi pikiran adalah sebuah pilihan salah, yang ada saya semakin merasa muak dengan situasi sekitar.

Cara lainnya adalah beribadah. Tak sedikit yang menyarankan saya untuk mengeluh kepada Yang Maha Kuasa, setidaknya memohon petunjuk agar mendapatkan segelintir kebahagiaan yang mampu Tuhan berikan. Sudah lama sekali saya tidak pergi ke rumah ibadah.  Sudah lama juga saya tidak berdoa sebelum tidur, apalagi setelah bangun di pagi hari (karena selalu bangun telat dan harus buru-buru ke kantor, hingga kegiatan itu saya enyahkan dalam kehidupan).

 

Belajar berpasrah
Setelah memutar otak, saya tertegun dengan sebuah ide yang menghampiri tiba-tiba. Berbagai macam cara raga saya paksa lakukan untuk membuat jiwa saya bahagia, hampir semuanya saya tolak sendiri. Tanpa saya sadari bahwa berpasrah mungkin adalah cara paling tepat untuk mengenyangkan jiwa. Menjadi bahagia adalah impian semua orang. Tapi tidak semua orang rela berpasrah dengan kehidupan yang sudah ditakdirkan. Nyatanya, terkadang cara menjadi bahagia adalah dengan tidak melakukan cara apapun. Saya harus mulai berambisi untuk tidak memiliki ambisi. Terdengar sangat bodoh, memang, tapi saya rasa cukup efektif untuk menjadi tegas dengan diri sendiri, bahwa tidak selalu kenyataan harus sesuai dengan keinginan.

Saya ingin belajar berpasrah lebih lagi, menjalani kehidupan apa adanya, dengan tidak membuat jiwa saya semakin lapar dengan ekspektasi standar bahagia yang terlalu tinggi. Karena itu hanya akan membuat jiwa saya mengidamkan sesuatu yang belum tentu akan saya dapatkan. Jadi saya tidak perlu menyiksa jiwa dengan rasa lapar akan ini itu.

Mengenyangkan jiwa dan menjadi bahagia hanya dapat dilakukan ketika Anda mampu merasa cukup dan bersyukur. Mari kita belajar untuk puas dengan merasa cukup.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON