Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam
View Gallery
31 Photos
Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam
IMG_4191

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Festive, Festive, Endless Festive Amsterdam

Yang paling saya benci dari diri sendiri ketika bepergian ke luar negeri adalah kebiasaan membanding-bandingkan destinasi tujuan dengan kampung halaman. Apalagi ketika saya menapakkan kaki di Amsterdam. Setiap sudut kota yang terus mengingatkan saya akan betapa eratnya hubungan antara Belanda dan Indonesia, membuat saya ingin menganggap kota ini sebagai ‘kakak’ dari Jakarta atau kota-kota lainnya di Indonesia, yang seharusnya memiliki rupa tidak jauh berbeda. Tapi apa mau dikata, pada kenyataannya Amsterdam yang rupawan hingga saat ini masih tetap menjadi sebuah better version semata.

Kunjungan singkat 3 hari 2 malam di Amsterdam rasanya sudah cukup memberikan saya cadangan kata-kata untuk menggambarkan ibukota Belanda ini. Perjalanan saya dimulai dari sebuah undangan Garuda Indonesia untuk merasakan rute penerbangan langsung (direct flight) tanpa transit dari Jakarta ke Amsterdam. Penerbangan pada 29 Mei tersebut merupakan penerbangan inaugural, sehingga membuat saya bangga dapat menjadi salah satu dari penumpang di dalam pesawat pertama yang terbang dari Soekano-Hatta International Airport dan langsung mendarat di Schiphol Amsterdam Airport. Dibutuhkan waktu penerbangan non-stop selama 14 jam dari Jakarta hingga sampai di Amsterdam. Tanpa transit, tentu Garuda Indonesia menawarkan sebuah pengalaman terbang yang lebih baik, lebih cepat, lebih efisien, dan lebih nyaman.

Yang membuat saya takjub justru fakta bahwa penerbangan pertama dengan armada Boeing 777-300ER berisi 314 seats tersebut langsung menjadi penerbangan full-flight. Banyak penumpang Belanda yang pulang ke kampung halaman, ataupun para pelajar, juga para eksekutif yang mengunjungi Amsterdam untuk urusan bisnis. Sehingga kebingungan saya mengenai tingkat demand penerbangan langsung Jakarta – Amsterdam dan sebaliknya kemudian terhapuskan. Dan tak heran mengapa Garuda Indonesia langsung menetapkan lima kali jadwal penerbangan dalam seminggu untuk rute tanpa transit ini.

Setiap langkah yang saya jajaki di Amsterdam sungguh mengingatkan saya pada Jakarta. Bukan hanya karena keduanya merupakan ibukota ataupun banyaknya orang-orang yang berbicara dalam bahasa Indonesia yang saya temui di mana-mana, tetapi juga adanya kemiripan dalam hal penampilan kota (hanya saja Amsterdam tentu jauh lebih bersih tanpa sampah di sepanjang jalan), juga beberapa kata dalam bahasa Belanda dan bahasa Indonesia yang terpampang pada rambu jalanan, dan masih banyak lagi. Banyak pula orang Indonesia atau keturunan Indonesia yang menjadi warga Amsterdam. Salah satunya tour guide kami yang ketika saya tanya alasan menjadi warga Belanda, dengan bercanda menjawab, “Dulu Bapak saya bilang, ‘Kita dulu lama dijajah Belanda, harta kita banyak di sana, jadi sekarang kamu ke sana saja.’”.

Amsterdam tidak menawarkan panorama alam berlebih yang mungkin dapat Anda temui di destinasi lainnya. Tapi tetap banyak hal menarik dari Amsterdam. Pertama adalah bagaimana ketika Anda mengunjungi pusat kota atau di sekitar area Dam Square, Anda akan merasa seperti baru saja melewati lubang dimensi waktu ke zaman kolonial karena gedung-gedung tua yang hingga sekarang masih berdiri kokoh dan justru dijadikan bangunan utama, ketimbang bangunan pencakar langit berkaca seperti di Jakarta. Pemerintah Amsterdam sangat melarang keras perubahanan situs bangunan tua, meski sudah menjadi milik pribadi. Semua harus dilaporkan dan izin terlebih dahulu kepada pemerintah. Dari sini kita tahu betapa pemerintah Belanda begitu peduli terhadap situs tua, ketimbang membiarkannya roboh dimakan zaman.

Tahukah Anda bahwa daratan Amsterdam lebih rendah daripada level laut? Sehingga sebenarnya daratan yang Anda injaki di Amsterdam merupakan buatan manusia dan secara teknikis terletak di atas lautan. Betapa hebatnya masyarakat Belanda sudah dapat membuat daratan di atas laut sejak dahulu kala. Hal lain yang menakjubkan dari Amsterdam adalah keriaan dan perayaan masyarakat yang seakan tak pernah ada hentinya. Ke mana pun Anda melangkahkan kaki, atmosfer yang meriah penuh dengan perayaan dan hingar bingar ceria selalu dapat ditemui. Sederetan café dan pub hampir selalu terisi penuh. Selain itu, bukan kendaraan bermotor yang memadati kota, tetapi sepeda. Konon, cara terbaik untuk menikmati setiap sudut kota Amsterdam adalah dengan menggunakan sepeda.
Satu hal yang tak boleh dilewatkan ketika berada di Amsterdam selain mengunjungi Square Dam dan Red Light District adalah canal-cruising untuk menyusuri kanal yang menghiasi hampir sepanjang kota Amsterdam. Kota ini memiliki kanal lebih banyak daripada Venesia. Dengan keindahannya yang tak kalah dengan Venesia, Amsterdam bahkan dijuluki ‘Venice of the North’. Bahkan Anda juga dapat menyewa satu cruise eksklusif untuk menikmati sajian makan malam berdua bersama pasangan seraya menyusuri kanal yang berhiaskan terpaan lampu benerang di atas pepohonan rimbun di sekelilingnya.

Belajar dari Belanda, khususnya Amsterdam, negara yang baik menurut saya tak hanya mampu membuat sebuah sistem tapi juga mampu memberikan keleluasaan, kebebasan, serta keyakinan bagi para masyarakatnya untuk bermimpi dan optimis dapat menjalani kehidupannya berdasarkan mimpi tersebut. Hal tersebut terpampang jelas di Amsterdam sebagai ibukota Belanda. Menyandingkan Amsterdam dengan Jakarta, meski keduanya sama-sama ibukota, mungkin hanya akan berujung pada kenyataan bahwa kita masih sangat jauh tertinggal. Tapi setidaknya Garuda Indonesia telah turut serta membantu mengeratkan hubungan antara kedua kota dan dua negara melalui sebuah rute penerbangan, dengan harapan juga dapat memberikan dampak baik bagi kedua negara.

Teks & Foto: Andreas Winfrey

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON