FEELS LIKE, BRAND NEW?

Sometimes people are beautiful. Not in looks. Not in what they say. Just in what they are. Markus Zusak

Terlepas dari titel Beauty Editor, saya tetaplah seorang perempuan yang ingin terlihat cantik dan segar setiap saat. Namun rasanya untuk mengeluarkan usaha lebih dari sekadar menggunakan kosmetik dan ritual perawatan kecantikan adalah hal yang sulit. Saya juga bukan termasuk yang mengelu-elukan inner beauty, sih. Karena di zaman sekarang apakah mungkin jika orang menilai dari kecantikan hatinya saja?

Dok. Spesial

Dengan kemudahan yang ditawarkan sosial media saat ini, saya bisa mengakses banyak laman para perempuan dengan kecantikan di atas rata-rata yang kerap membuat saya berpikir bagaimana cara untuk mendapatkan paras yang indah seperti mereka. Surgery or non-invasive procedure? Tapi sebelum saya melanjutkannya, sejenak, akan saya ajak Anda untuk menengok ke belakang saat awal mula orang mengenal prosedur operasi untuk memperindah penampilan, berdasarkan sebuah penelitian dari Alison Johnson.

Ia bercerita bahwa, setelah penduduk di era Mesir Kuno mulai melakukan eksperimen terhadap pembentukan hidung, beberapa abad sebelum tanggalan masehi diberlakukan pun praktek kecantikan tersebut semakin meraja lela. Hingga pada akhirnya di abad ke-15, mulai muncul sebuah penelitian akan isu tersebut. Memasuki era Perang Dunia II, sebenarnya prosedur tersebut lebih banyak digunakan untuk memperbaiki struktur wajah maupun tubuh para tentara perang yang rusak akibat perang. Namun di saat yang bersamaan pula, banyak bintang Hollywood yang kemudian menggunakannya untuk memperbaiki penampilan demi menunjang performa. Misalnya untuk melancipkan dagu atau mengencangkan kulit. Hal itu terus berkembang pesat hingga awal era milenium, di mana para spesialis mulai memperkenalkan silikon, sedot lemak, dan berbagai perawatan baru ke mata dunia.

Tentu di era modern ini banyak sekali fenomena baru bermunculan di dunia kecantikan, apalagi ditambah teknologi teranyar yang semakin tersebar di banyak klinik saat ini. Dengan begitu banyak konsumen di tiap klinik tersebut, maka seharusnya, getting nip and tuck or some injection to level up your appearance isn’t really a big deal, huh? Tapi siapa sangka hal tersebut masih tetap dianggap tabu oleh sebagian orang, termasuk saya salah satunya.

Saya dilahirkan dengan wajah yang bulat dan bentuk hidung yang bisa dibilang kurang mancung. Dari keduanya, yang sering kali terpikirkan dan menjadi concern saya adalah si bentuk hidung ini yang kerap menjadi bahan olokan orang lain. Meski tidak pesek, tapi hidung saya pun bukan tergolong yang mampu untuk menopang sebuah kaca mata. Ya, kaca mata yang saya gunakan seringkali meluncur bebas menuruni batang hidung setiap beberapa saat setelah kembali dibetulkan posisinya. Namun hal itu tidak membuat saya tergerak untuk melakukan injeksi filler atau do surgery just to fix it. But after all, am I conservative? Yes, I definitely am.

So what about people who get injection or any non-invasive procedure but refused to go under the knife? Bukankah hal tersebut sama saja? Karena kesemua prosedur tersebut akan mengubah dan merekonstruksi struktur wajah. Tapi itu ‘kan bagi saya, mungkin orang lain berpendapat lain. Karena seiring berjalannya waktu, banyak sekali orang yang mulai mengakui dirinya mendapatkan prosedur kecantikan seperti injeksi filler, botox atau thread lift. Jika Anda tengok ke sosial media, Anda bisa menemukan orang yang kerap mengunggah hasil dari prosedur kecantikan tersebut atau bahkan Anda bisa menemukan orang yang mengaktifkan mode live di sosial media, sehingga para pengikutnya bisa turut menyaksikan sedikit bagaimana proses pengerjaannya. Namun mengapa ketika dirinya di-judge oleh netizen kekinian yang kerap member respon negatif, harus merasa malu, marah atau menutupinya? Kenapa tidak terbuka saja? Toh, memang Anda melakukannya. Sigh…

Nah, satu hal yang bisa saya tambahkan untuk cerita di atas ialah, when you have decided to do it, then you should have prepared yourself to be the talk of the town. Mungkin selain konservatif, alasan saya tak ikut tren untuk merubah penampilan dengan prosedur non-invasif atau surgery karena saya terlalu takut untuk membayangkan prosesnya. Mungkin juga karena saya terlalu takut akan menjadi pecandu prosedur tersebut kelak. Oh, atau mungkin, ya, karena mental saya yang belum siap menjadi bahan omongan orang. Tahu sendiri ‘kan, bagaimana tanggapan orang-orang, khususnya di Indonesia, yang sampai saat ini masih saja gemar berjulid dalam segala hal, khususnya dalam hal ini, memperbaiki bentuk wajah dan tubuh. Tanya kenapa?

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON