Ephesus I Admire

Ephesus I Admire
View Gallery
18 Photos
Ephesus I Admire

Temple of Hadrian

Ephesus I Admire

Suasana jalan utama di Ephesus

Ephesus I Admire

Salah satu prasasti dengan tulisan romawi kuno

Ephesus I Admire

Salah satu pilar reruntuhan Ephesus

Ephesus I Admire

Reruntuhan Patung Penjaga Pagar Bangunan

Ephesus I Admire

Reruntuhan Basilica St John

Ephesus I Admire

Pilar-pilar bangunan masih berdiri tegak

Ephesus I Admire

Pemandangan Lembah Selcuk

Ephesus I Admire

Patung filsuf di jalan Ephesus

Ephesus I Admire

Patung di Celsus Library

Ephesus I Admire

Patung Bunda Perawan Maria

Ephesus I Admire

Info tentang Rumah Maria dalam bahasa Turki

Ephesus I Admire

House of The Virgin Mary

Ephesus I Admire

Flowers

Ephesus I Admire

Celsus Library

Ephesus I Admire

Alam sekitar Ephesus

Ephesus I Admire

Patung-patung di Ephesus

Ephesus I Admire

Grand Theater

Panas terik matahari yang menimbulkan rasa lengket di kulit menandakan telah datangnya bulan Juni. Musim panas, musimnya berlibur, dan tentu saja yang terkenal adalah The June Wedding. Berbicara soal musim panas,  membuat saya teringat kepergian saya ke salah satu kota Romawi kuno sekaligus salah satu kota Yunani di Asia kecil yang sangat ramai di masa lalu, Ephesus atau Efes dalam bahasa Turki. Kota perbukitan yang dahulu merupakan pusat perdagangan yang ramai ini terletak di negara Turki sekarang, dulu kota ini merupakan bagian dari negara Yunani, terpisah oleh laut berseberangan dengan Yunani yang sekarang dan Romania. Kini ia menjadi rumah bagi reruntuhan arkeologis yang bernilai historis, juga merupakan kota yang lekat dengan agama Kristiani karena Santo Yohanes dan Sang Perawan Maria pernah tinggal di kota ini sebagai rumah terakhir mereka.

Dengan kapal pesiar, saya mendarat di dermaga kota Kusadasi. Resor dan kehidupan metropolitan banyak tinggal di kota ini. Trotoar besar yang bersanding senada dengan pasir putih pantai mewarnai pesisir kota Kusadasi. Kusadasi merupakan kota pelabuhan yang menjadi gerbang masuk menuju Ephesus. Dari sini menuju Ephesus menggunakan bus menghabiskan waktu kurang lebih dua jam. Seisi kota Ephesus merupakan petakan-petakan reruntuhan, patung,  prasasti dan situs bersejarah.

Dibandingkan di negara Yunani sendiri, reruntuhan bangunan di Turki ini jauh lebih berbentuk dan lebih utuh, sehingga lebih tampak keajaibannya. Kontur perbukitan mengalasi kaki yang menapak, keadaan ini sangat cocok dengan tradisi bangsa Yunani dan Romawi yang selalu mendirikan bangunan-bangunan penting di dataran yang lebih tinggi dari pemukiman. Cokelat seperti gurun atau putih marmer adalah warna dari banyak situs reruntuhan, biru langit terik musim panas, pancang-pancang tinggi tegap mengarah ke langit dari jalanan berbatu, gambaran kemegahan kota kuno. Saya membayangkan seperti apa rupa kota yang menyimpan kekayaan Yunani dan Romawi ini ketika masa
kejayaannya. Letupan energi.

Menurut cerita setempat, Perawan Maria dibawa ke Ephesus oleh Santo Yohanes setelah Kristus diangkat ke surga. Saya melangkah menuju sebuah rumah kecil dari batu bata, rumah yang dipercaya sebagai tempat tinggal terakhir Perawan Maria, House of The Virgin. Bagian dalam rumah ini diterangi oleh banyak nyala lilin yang selalu dinyalakan setiap kali orang datang untuk berdoa, dinding yang melengkung membentuk setengkah lingkaran membatasi setiap ruangan yang ada. Di ujung ruangannya terdapat altar kecil yang dipenuhi bunga dalam pot, serta cerukan di dinding tempat patung Perawan Maria diletakkan.

Di luar keadaan apakah saya orang yang religius atau bukan, sangatlah menenangkan untuk duduk bersantai di pekarangan House of The Virgin. Jika tidak banyak suara ribut, sembari duduk di bawah pohon-pohon rindang berukuran sedang, saya dapat mendengar suara kicauan burung. Ada udara yang menenangkan dan aroma alam yang ramah di sekitar tempat ini. What a lovely setting. Tempat hebat selanjutnya harus dicapai dengan cukup usaha, turun dari bukit tempat House of The Virgin berdiri, dan Anda akan menemukan kompleks reruntuhan bangunan romawi yang saling berdekatan. Di antara banyak bukti peradaban di masa lampau ini, favorit saya adalah Grand Theatre, Celsus Library, dan Basilica of St. John.

Grand Theatre berbentuk setengah lingkaran, dengan tempat duduk penonton berundak mengikuti punggung bukit, mengelilingi panggung pementasan di tengahnya. Jika dilihat secara vertikal dari langit, mungkin bentuknya seperti mentari yang muncul separuh beserta tirai sinarnya ketika terbit di lautan. Tidak ada teknologi mikrofone di masa lalu, namun kehebatan ilmu pengetahuan menyumbangkan teknologi akustik sempurna dalam arsitektur Grand Theatre. Jika seseorang bernyanyi di atas panggung tengah, maka ombak suaranya akan memantul sempurna menuju telinga para penikmat nyanyiannya. Dahulu, Grand Theatre dipergunakan sebagai balai pertemuan, pertunjukan drama, juga gladiator antara prajurit dan binatang. Arsitektur yang sangat mencengangkan dengan maintenance yang tinggi ini masih digunakan dalam konser-konser modern beberapa penyanyi terkenal, seperti Elton John, Sting, dan Diana Ross.

Tidak jauh dari Grand Theatre, datanglah ke Celsus Library, perpustakaan yang dahulu menyimpan lebih dari 12.000 skrip. Celsus Library dibangun oleh Julius Aquila sebagai memorial untuk almarhum ayahnya, Celsus Polemaeanus. Jenazah dari sang ayah dimakamkan di bawah lantai dasar dan dijaga oleh patung Dewi Athena. Dulu, obor-obor masih terpasang di dinding untuk menerangi semua lorong besar dan lemari buku, sekarang bahkan tidak ada lagi atap, jadi bagusnya saya tidak lagi memerlukan obor. Saya sarankan untuk datang ke tempat ini sedari pagi tepat setelah dibuka untuk umum, yaitu pukul 8 pagi. Ketika belum ada ratusan orang lain, matahari masih bersinar hangat dan sehat, masuklah melalui salah satu dari tiga gerbang yang tersedia dan berkelanalah dalam imajinasi, seperti ketika bangunan yang ada di dalamnya masih berfungsi untuk hal yang sama.

Masih di dalam kompleks reruntuhan Ephesus, terdapat Basilica of St. John. Dibanding reruntuhan, tempat ini terlihat seperti kastil yang belum selesai dibangun. Tidak aneh jika dulu tempat ini dipergunakan sebagai gereja, dari rancangan bangunannya saja dapat dilihat bahwa basilika ini berbentuk salib, dengan enam kubah membarikade eksteriornya. Di bagian dalamnya terdapat sebuah open hall yang menyimpan pusara Santo Yohanes. Tembok dan lantai dari Basilica of St. John berbahan baku batu putih dan batu bata, sementara tiang-tiangnya terbuat dari marmer.

Nampaknya tempat ini dianggap sebagai salah satu tempat suci penting oleh penganut Kristiani di Turki, karena bahan bangunannya termasuk mewah juga adanya kepercayaan bahwa debu yang berasal dari pusara Santo Yohanes dapat menyembuhkan penyakit. Menurut saya, bagian yang paling indah adalah pemandangan ke arah atas dan ke arah bawah dari basilika. Ke arah bawah, terdapat pemandangan lembah yang menakjubkan, pemandangan yang memaksa saya membayangkan kekuatan Ephesus di masa pendudukan Yunani dan Romawi.

Dari sisa-sisa penggalian arkeologis di kiri-kanan jalanan utama Ephesus, saya melihat adegan rakyat menyambut ksatria yang masuk ke kota melalui gerbang Ephesus dan berjalan di atas lantai batu putih. Temple of Artemis yang kini hanya tersisa satu pilar sebesar mercusuar, dulu pernah berdiri megah seperti Gedung Putih dengan pilar-pilar kokoh, dan semua rakyat datang ke sana untuk memuja Dewi Artemis. Gambaran ini saya saksikan dari Basilica of St. John di atas bukit. Jikalau saya adalah seorang raja, dan di bawah sana seluruh rakyat mengepalkan tangannya ke udara menyerukan nama saya, maka pemahaman baru akan nilai satu orang manusia akan hadir di diri saya.

Teks & Foto: Aditya Arnoldi (www.adityaarnoldi.com)

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON