Eksotisme Tanah Sumba

Eksotisme Tanah Sumba
View Gallery
17 Photos
Eksotisme Tanah Sumba

Eksotisme Tanah Sumba

Eksotisme Tanah Sumba

Eksotisme Tanah Sumba

Eksotisme Tanah Sumba

Eksotisme Tanah Sumba

Eksotisme Tanah Sumba

Eksotisme Tanah Sumba

Eksotisme Tanah Sumba

Eksotisme Tanah Sumba

Eksotisme Tanah Sumba

Eksotisme Tanah Sumba

Eksotisme Tanah Sumba

Eksotisme Tanah Sumba

Eksotisme Tanah Sumba

Eksotisme Tanah Sumba

Eksotisme Tanah Sumba

There is nothing quite like Sumba. Kalau diminta merangkum perjalanan di Pulau Sumba dalam satu kalimat, kalimat itulah yang terlintas. Dan kalau diminta mengungkapkan 1 kata untuk Sumba, yang akan keluar adalah kata “tenang”. Sumba was offering the peace that I’d never felt before in any other places. Mungkin itu yang menjadi salah satu alasan mengapa pulau ini menjadi lokasi untuk film Pendekar Tongkat Emas by Mirles.

Banyak yang belum tahu tentang keberadaan Pulau Sumba. Memang Pulau Sumba tidak setenar pulau-pulau tetangganya, seperti Pulau Komodo, maupun Pulau Lombok. Banyak yang mengira Sumba adalah pulau Sumbawa, NTB. Padahal Pulau Sumba terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan diapit oleh Pulau Bima dan Pulau Flores. Sebuah pulau tersendiri yang tidak memiliki akses darat untuk menuju ke pulau lain.

Pulau Sumba menawarkan sebuah ketenangan di dalam lanskap yang terbingkai oleh gundukan bukit-bukit hijau. Saya selalu memiliki keyakinan tersendiri atas alam Timur Indonesia, pasti mengagumkan dan pasti surprisingly more beautiful than expected. Sumba itu eksotis, dimulai dari cuacanya, liak-liuk jalannya, tekstur lahannya, hamparan luas padang savananya, biru langitnya, taburan bintangnya, kejernihan airnya, keramahan warga lokalnya, hingga halus pasir pantainya.

Eksotisme Sumba sudah terasa ketika menjejakkan kaki di Pulau Sumba untuk pertama kalinya. Ketibaan saya di Sumba langsung disambut oleh tarian elang khas Sumba yang ditarikan oleh para wanita Desa Ratenggaro, yakni sebuah desa yang masih dihuni oleh masyarkat asli. Desa Ratenggaro dijadikan kawasan wisata karena letaknya yang langsung berhadapan ke Samudra Hindia dan terdapatnya kuburan-kuburan tua khas Sumba, serta rumah adat yang masih asli dengan atap runcing dan dinding bambu. Rumah tradisional ini bertingkat tiga dengan fungsi berbeda di masing-masing lantai. Tingkat pertama dijadikan kandang, tingkat kedua dijadikan ruangan utama untuk beraktivitas, dan tingkat ketiga dijadikan tempat untuk menyimpan barang-barang leluhur, maupun bahan pangan.

Keeksotisan pun berlanjut saat saya tiba di Danau Weekuri dan disambut oleh air tenang yang sangat jernih bak sebuah cermin. Menikmati kejernihan air laut yang terperangkap di antara tebing-tebing pembatas di sore hari, jauh dari hiruk-pikuk kota, tidak ada sampah ataupun limbah. Benar-benar sejuk, asri, dan sunyi.

Pemandangan kuda atau kerbau di hamparan luas savanah adalah contoh lain pemandangan yang akan sering ditemui selama perjalanan dari Sumba Barat ke Sumba Timur. Di Sumba, kuda atau kerbau dijadikan mas kawin untuk yang ingin menikah, mungkin itu salah satu sebabnya populasi kuda tinggi di Sumba, mulai dari yang liar di jalan sampai yang diikat di halaman.

Dengan cuaca yang lebih bersahabat, Sumba Barat menawarkan tanah yang subur, dengan highlight warna hijau menyegarkan. Walaupun hanya berjarak lima jam dari Sumba Barat, Sumba Timur beriklim lebih kering, cenderung gersang, lebih banyak padang savanah dengan perpohonan tanpa daun berdiri. Meskipun warna perbukitan di Sumba Timur lebih kecokelatan, tetapi tetap tidak menurunkan kekaguman saya. Sumba Timur memiliki view perbukitan yang lebih indah.

Eksotisme Tanah Sumba tidak berakhir pada keindahan lanskapnya semata, tapi juga berlanjut pada kekayaan adat istiadatnya. Salah satu cara warga Sumba mempertahankan adat tradisionalnya adalah dengan memproduksi kain tenun yang diolah dan diproses dengan metode tradisional. Kain Tenun Sumba memiliki ciri khas pada motif yang mengadaptasi cerita legenda Pulau Sumba, sehingga lebih banyak motif dengan penampakan visual kuda atau manusia berbaju adat. Kemarin, selain sempat berkunjung ke tempat penjualan kain tenun Sumba, saya juga berkesempatan mengikuti step by step proses dari awal hingga menjadi kain.

Pewarnaan kainnya pun menggunakan bahan pewarna alami, seperti warna merah yang dihasilkan dari campuran akar mengkudu dan daun loba. Biasanya para penenun mengikat benang di musim penghujan dan proses pencelupan warna dilakukan pada musim kemarau. Pewarnaannya relatif rumit dan memerlukan kesabaran. Paling tidak diperlukan empat tahap untuk mendapat satu warna yang diinginkan, itu pun masih harus diolah lagi dan dijemur satu bulan untuk warna lain. Setelah pewarnaan selesai, ikatan dibuka, benang diuraikan, barulah kemudian ditenun. Dengan berbagai tahapan tersebut, pembuatannya bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan tahunan. Karena prosesnya yang rumit dan membutuhkan waktu yang lama, harga kain tenun Sumba dipatok cukup tinggi, yakni sekitar satu juta hingga dua juta rupiah per helainya. Cukup sepadan untuk suatu barang yang asli dan handmade.

Orang bilang, tempat yang semakin sulit diakses, semakin indah pemandangannya. Saya selalu berasumsi suatu tempat wisata akan berkurang tingkat keindahannya jika sudah dikunjungi oleh terlalu banyak orang. Terkadang saya berpikir, orang-orang tersebut hanya latah untuk pamer di sosial media tanpa bertanggung jawab lebih lanjut? Saya senang apabila untuk menikmati alam Sumba yang spesial dibutuhkan biaya yang besar, dengan begitu Sumba tidak mudah untuk disentuh dan akan tetap terjaga kecantikannya, hanya orang-orang yang mau keluar dana lebih saja yang benar-benar menghargai dan ingin menikmati Sumba.

Namun, di sisi lain, timbul pertanyaan, “Buat apa kita memiliki Tanah Air dengan alam yang indah kalau semua tidak bisa menikmatinya?” Saya selalu yakin di balik semua biaya tur yang dipajang, pasti selalu ada cara untuk menekan biaya trip, entah dari transportasi, akomodasi, ataupun makan. Namun, Sumba ini beda. Berwisata ke Pulau Sumba bisa dibilang mahal karena tidak ada transportasi lokal, kalaupun ada pasti tidak dapat mengakses semua tempat, karena lokasi tempat wisata yang harus masuk ke dalam. Celakanya, mau tidak mau menyewa mobil sudah menjadi pilihan satu-satunya transportasi di Sumba.

Saya pernah bertanya pada pemanduyang mengantar saya berkeliling, “Pak, wisatawan yang datang ke Sumba kebanyakan warga lokal atau bule?”  Kemudian Bang Dinus menjawab, “Warga lokal kebanyakan, yang pada dinas itu”. Bahkan, kebanyakan yang datang wisata ke Sumba tidak sepenuhnya berwisata, melainkan mengisi waktu luang dalam perjalanan dinas untuk berwisata.

Biasanya kita hanya mengandalkan petunjuk arah, tapi di Sumba, tidak ada petunjuk arah yang menunjuk ke tempat wisata. Karena menurut saya, semua yang dilewati selama perjalanan di Sumba adalah bagian dari objek wisata alami yang sangat indah. Jika ditanya, apakah Pulau Sumba se-worth it itu dengan pengeluaran biaya wisata yang mahal? Saya akan jawab dengan tegas: “IYA”.

Teks & Foto : Kadek Arini Stepitula Gayatri (@kadekarini)

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON