Dionysus, The Greek God Now Comes To Life

Dionysus, sang dewa anggur dan dewa pesta yang berasal dari mitologi Yunani merupakan anak dari Semele dan Zeus.

Dionysus performed by SCOT (Foto: Dok. Suzuki Company of Toga)

Ia dikenal sebagai dewa anggur dikarenakan keahliannya menanam pohon anggur dan mengubah anggur tersebut menjadi wine (anggur merah). Barangkali karena keahliannya ini, ia disenangi, diikuti dan dipuja oleh wanita-wanita “liar” yang disebut Bacchae atau Bacchantes.

Suatu hari, Dionysus ingin megunjungi kota dimana ibunya dulu tinggal yang disebut Thebes, namun siapa sangka bahwa ia tidak diterima disana. Terlebih oleh sepupunya Pentheus, raja dari Thebes dan ibunya, Agave.

Pentheus memerintahkan untuk menahan Dionysus, namun anehnya penjara tempat Dionysus ditahan tak dapat dikunci dan seketika itu pula terjadi gempa dahsyat yang memporak porandakan istana dan penjara, dan Dionysus dapat keluar dari penjara tanpa luka sedikitpun.

Dionysus performed by SCOT (Foto: Dok. Suzuki Company of Toga)

Para wanita Thebes menjadi terpesona akan kekuatan Dionysus, dan memutuskan untuk menjadi pengikutnya. Siapa yang menyangka bahwa diantara wanita tersebut terdapat Agave. Dionysus pun mengajak para wanita tersebut ke gunung Cithaeron, dan mengadakan perjamuan pesta pora penuh kegilaan untuk memuja Dionysus.

Pentheus yang mengetahui hal ini pun murka dan saat itu pula, Dionysus menghampirinya dan menghipnotis Pentheus untuk ikut ke gunung Cithaeron. Para wanita, yang juga telah dihipnotis oleh Dionysus, melihat Pentheus sebagai sesosok singa buas dan menyerangnya dengan tangan kosong dan mencabik-cabiknya. Sekeras apapun Pentheus berteriak dan mengiba, bukanlah teriakan rajanya yang mereka dengar, namun hanya geraman singa buas belaka.

Sebagai simbol kemenangan, Agave beserta wanita lainnya yang masih terhipnotis membawa kepala Pentheus, dan mengaraknya kembali ke kota Thebes. Keesokan harinya, ketika pengaruh hipnotis telah hilang, mereka terbangun dan menyadari bahwa Agave telah memenggal kepala Pentheus, anaknya sendiri. Ia pun sadar bahwa ia telah dimanfaatkan dan segera menyadari kekuatan Dionysus, yang mana telah dihinakan oleh keluarganya.

Dionysus performed by SCOT (Foto: Dok. Suzuki Company of Toga)

Cerita inilah yang akan dibawakan dalam pementasan Dionysus yang diproduksi oleh SCOT (Suzuki Company Of Toga) dari Jepang dan Purnati dari Indonesia. Disutradarai oleh Tadashi Suzuki, sang maestro teater dari Jepang, produksi ini akan dipentaskan pertama kali pada musim panas tahun ini di Festival SCOT Summer Season 2018 pada 28 Agustus 2018 hingga 2 September 2018 yang berlokasi di Toga Art Park of Toyama Prefecture Jepang, serta Teater Terbuka Candi Prambanan pada 29-30 September 2018.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk terlebih dahulu menyaksikan pentas ini. Satu hal yang unik menurut saya ialah penggunaan bahasa daerah asli Nusantara. Bahasa daerah yang dipakai ialah Batak, Rejang, Madura, Manado, Sunda serta Jawa dengan tiga dialek –Jogjakarta, Surakarta dan Banyumas.

Meski baru dipentaskan bulan Agustus nanti, persiapan mulai dari audisi hingga pelafalan naskah sudah dilakukan sejak Juni 2016. Para pemeran pun mengikuti pelatihan yang matang, selain mengikuti program Suzuki Method Of Actor Training Program di Toga, Jepang, selama dua minggu, akhirnya kembali berlatih di Indonesia dalam kurun waktu yang cukup lama.

Music Recording with Japanese Composer Midori Takada. July 2017 (Foto: Dok. Bumi Purnati Indonesia)

Komposer Jepang, Midori Takada selaku penata musik menghadirkan gubahan baru dengan mengolah unsur musik tradisional dari berbagai daerah di nusantara, seperti Gendang Rapai Aceh, Gamelan Bali, Serunai Minang, Rebab Sunda dan Kenong Jawa. Sementara untuk kostum dipercayakan oleh Auguste Soesastro yang menggunakan kain khas Indonesia sebagai pelengkap kostum yang dirancang oleh Tadashi Suzuki.

Rehearsal DIONYSUS with Tadashi Suzuki in Prambanan. October 2017 (Foto: Dok. Bumi Purnati Indonesia)
No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON