Closer Paris

Closer Paris
View Gallery
12 Photos
Closer Paris

Closer Paris

Closer Paris

Closer Paris

Closer Paris

Closer Paris

Closer Paris

Closer Paris

Closer Paris

Closer Paris

Closer Paris

Closer Paris

Setiap kali menginjakkan kaki di tanah Merlion, pasti ada hal baru untuk dijelajahi. Singapura seakan tak berhenti mengedepankan berbagai scene menarik bagi para pengunjung. Kini, Singapura siap menamakan diri sebagai pusat seni Asia. Hal tersebut semakin ditandai dengan hadirnya galeri seni asal Paris, Pinacothèque de Paris di Singapura – yang sekaligus menjadi galeri Pinacothèque de Paris pertama di luar Eropa.

Pertanyaan yang langsung muncul di benak Anda saat ini sama dengan pertanyaan saya sebelum berkeliling di galeri tersebut: “Apa bedanya Pinacothèque de Paris dengan galeri-galeri seni Singapura lainnya?”. Mari kita bahas mulai dari lokasinya. Menggunakan gedung bersejarah Fort Canning Arts Centre (FCAC) yang diperbarui, Singapore Pinacothèque de Paris memang tidak terlalu dekat dengan pusat kota Singapura. Tetapi, kekentalan sejarah dan budaya pada gedung ini justru menyatu dengan suasana seni di dalamnya. Sang pendiri, Marc Restellini, mengunjungi FCAC enam tahun yang lalu. Kemudian, bersama dengan Suguna Madhavan (kini CEO Singapore Pinacothèque de Paris) memutuskan membuka galeri di sana.

Berbicara mengenai gedung, terdapat dua hal menarik, yaitu dua koridor balkon gedung yang dipercantik dengan karya seni bernama “Artist Walk”. Yang pertama adalah Graffiti Walk. Balkon dengan lantai mural karya enam seniman dari enam kontinen dunia, dengan tema “Harmony and Originality”. Sementara, yang kedua adalah “Garden Walk” karya seniman Prancis, Julie Navarro, yang mereplika sebuah taman imajiner di Spanyol dengan mozaic tiles yang terinspirasi dari Mashrabiya. Selain dua hal tersebut, terdapat pula The Art Academy dan ArtLounge yang diharapkan dapat menjadi social space baru bagi para pecinta seni di Singapura.

Mengingat merupakan “cabang” dari galeri di Paris, bukan tak mungkin karya-karya yang ditampilkan di Singapore Pinacothèque de Paris akan sama eksklusif seperti di pusatnya. Restellini menyatakan karya-karya yang ada di galeri ini menghubungkan modern art dan historical art. Menjadi salah satu yang pertama menjelajahi galeri ini pada Mei lalu, saya menemukan banyak hal menarik. Salah satunya, ketika bercengkrama, Restellini banyak bercerita mengenai kekagumannya terhadap peninggalan sejarah dan seni Indonesia. Menurutnya, karya-karya seni dunia, khususnya Afrika, berasal dari seni Indonesia. Hal tersebut menjawab keheranan saya ketika menemukan banyak sekali karya seni dan peninggalan sejarah langka Indonesia terpampang di galeri di Singapura tersebut, yang bertemakan “Heritage Gallery”. Kemana saja kita selama ini?

Teks: Andreas Winfrey / Foto: Dok. Pinacothèque de Paris & Andreas Winfrey

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON