Chuncheon Korea Selatan, Paras Rona Warna Kampung Halaman

Chuncheon Korea Selatan, Paras Rona Warna Kampung Halaman
View Gallery
9 Photos
Chuncheon Korea Selatan, Paras Rona Warna Kampung Halaman

Chuncheon Korea Selatan, Paras Rona Warna Kampung Halaman

Chuncheon Korea Selatan, Paras Rona Warna Kampung Halaman

Chuncheon Korea Selatan, Paras Rona Warna Kampung Halaman

Chuncheon Korea Selatan, Paras Rona Warna Kampung Halaman

Chuncheon Korea Selatan, Paras Rona Warna Kampung Halaman

Chuncheon Korea Selatan, Paras Rona Warna Kampung Halaman

Chuncheon Korea Selatan, Paras Rona Warna Kampung Halaman

Chuncheon Korea Selatan, Paras Rona Warna Kampung Halaman

Satu destinasi yang pasti kaki saya tapaki setiap kali mengunjungi Korea Selatan adalah kota Chuncheon. Memiliki orang tua yang terlahir dan besar di kota ini sebelum akhirnya pindah ke Indonesia, membuat saya sangat bersyukur. Ditemani dengan keindahan pemandangan alam sana yang didominasi rona warna merah, jingga, dan kuning, hati saya menjadi riang ketika dapat kembali mengunjungi kota di provinsi Gangwon ini pada musim gugur.

Kemana melangkah, mata Anda akan disegarkan dengan keindahan pemandangan gunung dan sungai yang mengalir dari Korea Utara. Segala sisi panoramanya selalu mengingatkan saya akan beragam kenangan pribadi ketika sempat menghabiskan waktu satu tahun di sini dulu. Meski dikenal banyak orang sebagai salah satu destinasi wisata utama dan lokasi suting film “Winter Sonata”, tentu saja kota ini masih jauh lebih sunyi dibandingkan Seoul, sehingga bagi Anda yang menginginkan liburan tenang dan tentram di Korea Selatan, Chuncheon adalah pilihan destinasi yang tepat. Ada beberapa lokasi ternama di sini.

Salah satunya adalah Soyang Dam, di sini terdapat sebuah museum air yang memungkinkan Anda untuk naik ke lantai paling atas untuk melihat pemandangan yang begitu indah, sehingga Anda dapat menikmati musim gugur khas Korea Selatan secara maksimal. Dari Soyang Dam inilah, kapal-kapal berlayar selama sepuluh hingga lima belas menit hingga akhirnya sampai di lokasi wisata lainnya bernama Cheongpyeongsa. Sepanjang perjalanan di atas Sungai Soyang, saya semakin mensyukuri keindahan alam yang diciptakan oleh Tuhan untuk Chuncheon. Sinar matahari yang terjatuh di atas air sungai terlihat seperti butiran mutiara yang berkilau.

Sedangkan udara sejuk musim gugur yang berembus membuat pepohonan di sekitar seakan menari berirama. Setelah turun di Pelabuhan Cheongpyeong, saya berjalan kaki sekitar lima belas hingga dua puluh menit hingga akhirnya sampai di Cheongpyeongsa Temple yang merupakan kuil ternama di  Korea Selatan. Meski demikian, pemandangan pepohonan yang tengah berganti warna dan disempurnakan dengan suara aliran air sungai dari atas gunung berhasil membuang jauh-jauh segala rasa lelah. Kuil bersejarah ini dibangun oleh seorang biksu bernama Seung Hyeon di atas Gunung Bongsan pada masa pemerintahan Raja Gwangjong dari Goryeo Dynasty di tahun 973. Sungguh sebuah lokasi yang cocok dikunjungi ketika berwisata bersama keluarga. Terdapat berbagai hal menarik di Cheongpyeongsa Temple, salah satunya adalah pagoda legendaris bernama Gongju Pagoda.

Alkisah, seorang laki-laki yang jatuh cinta pada seorang puteri kerajaan meninggal dunia. Ia kemudian terlahir kembali sebagai seekor ular, menempelkan diri pada sang puteri, dan tak mau lepas. Ular itu akhirnya pergi meninggalkannya setelah sang puteri berdoa di Cheongpyeongsa Temple. Atas rasa syukur, sang puteri membangun pagoda yang hingga sekarang masih dapat Anda temui di Cheongpyeongsa Temple.

Petualangan saya belum berakhir. Ketika matahari hendak terbenam, saya kemudian kembali menuju Chuncheon untuk menikmati sajian khas lokal bernama Dak Galbi.  Makanan ini menjadi terkenal di kota Chuncheon karena di sekitar tahun 1960, banyak penduduk Chuncheon yang memiliki usaha peternakan ayam. “Dak” berarti “ayam” dan “Galbi” berarti “iga”. Tapi tenang, bukan berarti Dak Galbi adalah iga ayam. Makanan ini merupakan daging ayam, kol, saus gochujang (sambal korea), tteok (rice cake), ubi, daun wijen, dan lainnya, yang dicampur menjadi satu di dalam sebuah panci besar.

Mencicipi sajian ini ketika berkunjung adalah sebuah kewajiban yang tak boleh dilewatkan! Jika belum puas, Anda bisa coba menikmati sajian layaknya para warga Korea Selatan asli dengan menambahkan nasi atau digoreng di atas panci yang sama. Dibutuhkan sekitar 10.000 won per orangnya untuk menikmati sajian ini.  Musim gugur adalah musim yang paling saya sukai dan memang musim yang paling tepat untuk berkunjung ke Korea Selatan menurut saya.

Selain pemandangan yang bertambah indah, Anda juga dapat melihat sebuah bunga yang hanya mekar pada musim gugur, yakni Cosmos sulphureus atau yang biasa dikenal dengan Bunga Kosmos Sulfur. Terdapat sebuah kebun luas berisi jutaan bunga kosmos yang tak jauh dari Stasiun Chuncheon. Bahkan karena sangat luas, saya rasa jika ada yang bersembunyi di tengahnya, tidak akan ada yang bisa ditemukan.

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul enam sore, sehingga matahari mulai bersiap untuk terbenam. Tuhan mengizinkan saya menikmati pemandangan sunset moment yang keindahannya membuat saya merasa sedang bermimpi. Seisi kebun luas Bunga Cosmos yang indah masih harus dipercantik dengan terpaan sinar jingga matahari. Apa yang saya saksikan di kehidupan nyata saat itu pastinya lebih indah daripada apa yang Anda bayangkan sekarang. Berkali-kali mengunjungi tempat-tempat tersebut, rasa bosan tak pernah sekalipun saya rasakan. Kali ini saya benar-benar menikmati musim gugur hingga batas maksimal. Chuncheon merupakan kota yang paling saya sukai, dan saya yakin Anda pun akan berkata sama setelah menikmati “kehangatan” musim gugur Chuncheon dan menyaksikan segala keindahan yang ditawarkan di sana.

Teks & Foto: Park Han Jeong

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON