Christian Bale Is a Good Actor, and I’m Such a Bad Fan

Christian Bale Is a Good Actor, and I’m Such a Bad Fan

Selain putus cinta, hal lain yang membuat saya sulit move on adalah kualitas akting para aktor-aktris hebat. Salah satunya, Christian Bale.

BAFTA, Golden Globes, dan terakhir Academy Awards, belum lagi penghargaan-penghargaan dari berbagai institusi lainnya yang diberikan kepada Leonardo Dicaprio. Semuanya dengan tema besar yang sama: Aktor Terbaik. Tahun 2015 bisa dibilang sebagai tahunnya aktor ini – juga mungkin tahun puncak karier selama 25 tahun dia berkiprah di dunia perfilman. Dan dengan begitu banyak penghargaan yang diterima, tentunya 2015, khususnya The Revenant, menjadi sangat spesial bagi DiCaprio. Itu mungkin bagi dia, tapi tidak bagi saya.

Tanpa bermaksud merendahkan atau memandang sebelah mata atas prestasi yang ditorehkan, keberhasilan DiCaprio di 2015 bukanlah sesuatu yang spesial bagi saya. Di dunia balap, raihan DiCaprio seperti yang dilakukan Alain Prost pada 1993. Apa istimewanya menjadi yang terbaik setelah bergabung dengan tim terbaik, menggunakan mobil terbaik, didukung teknisi terbaik? Ketika semua hal yang terbaik bersatu, tentulah hasilnya menjadi yang terbaik – dan tidak ada yang istimewa dari hal tersebut. Di musim sebelumnya, ketika masih bergabung Ferrari, Frost tidak berdaya menghadapi Nigel Mansell (mantan rekan satu timnya) yang bergabung dengan Tim Williams-Renault. Jadi, ketika Sang Profesor memutuskan bergabung ke Tim Williams-Renault dan menjadi juara dunia, apa istimewanya?

Bukan berarti juga Alejandro González Iñárritu dan The Revenant serta tim pendukungnya merupakan “dewa” bagi DiCaprio – walaupun mungkin bisa disebut “layaknya dewa” jika melihat daftar penghargaan yang diterima oleh sutradara dan film tersebut. Walau dengan dukungan tim paling hebat, cerita paling menarik, serta sutradara paling apik sekalipun, kerja keras dari sang aktor tentu diperlukan untuk mendapatkan hasil maksimal. Dan tentunya, layaknya Prost, tidak ada yang meragukan kemampuan DiCaprio dalam berakting. Bahkan, seorang teman pernah bilang bahwa dia termasuk aktor yang “suka-melakukan-lebih-dari-yang-diminta-sutradara”. Dan dengan tegas, saya berkata saya adalah salah satu pengagumnya. Hanya saja, momen istimewa, bagi saya, dari aktor ini terjadi hampir sekitar dua dekade yang lalu.

Bersama Kate Winslet, di bawah arahan James Cameron, DiCaprio menjadi idola hampir seluruh umat manusia di muka bumi ini. Bagi saya, penampilan DiCaprio dalam film ini seperti aksi Ayrton Senna di musim perdananya tahun 1984 – utamanya Grand Prix Monaco. Dan selama bertahun-tahun setelahnya, sepertinya sampai Blood Diamond, saya begitu sulit melupakan sosok Jack Dawson dari DiCaprio. Pemuda tampan berjiwa bebas, menikmati hidup dengan perjalanan, menemukan cinta, dan, meski kehilangan nyawa karenanya, dia bahagia. Dalam film apapun, saya melihatnya sebagai sosok yang seperti itu. Satu penyebabnya: dia menyuguhkan kemampuan akting yang spesial. Dan di akhir pekan yang lalu, setelah akhirnya terbebas dari “sulit move-on DiCaprio”, saya kembali terserang virus tersebut. Kali ini, versi aktor Wales.

Jika DiCaprio baru berhasil meraih Oscar di tahun ini, Christian Bale sudah lebih dulu menyabetnya di tahun 2010. Dan tentunya, soal kemampuan berakting, serta totalitasnya dalam menjalankan profesi sebagai aktor, tidak lagi perlu dipertanyakan. Tapi, beda dengan DiCaprio, bukan penampilan di awal-awal karierlah yang membuat saya sulit move-on dari Bale.

Mengisi waktu luang akhir pekan yang lalu, karena juga tidak bisa keluar rumah akibat penyakit lambung yang kembali berulah, saya menonton beberapa film, salah satunya The Big Short. Mengenai cerita dalam film ini, tentu tak perlu saya ulang lagi. Anda tentu sudah menontonnya di layar lebar, di ruang gelap, dengan kualitas suara yang memukau, dan dalam balutan pendingin ruang. Lagipula, bukan tentang cerita film ini yang menjadi pokok bahasan saya, melainkan penampilan Bale.

Di film ini, Bale berlaku sebagai Michael Burry. Seorang pengusaha eksentrik yang brilian. Pekerja keras yang bisa berhari-hari tinggal di kantor dan senang mengenakan kaos, celana pendek, serta tanpa alas kaki selama bekerja di kantor. Tapi entah kenapa, di kelapa saya, yang muncul adalah sosok Bruce Wayne dalam trilogi The Dark Knight. Meski dengan rambut yang acak-acakan, pakaian sangat santai cenderung awut-awutan, dan tubuh yang agak mengembang, setiap kali tokoh Michael Burry muncul, yang ada di kepala saya adalah sosok pengusaha sukses yang selalu berpenampilan rapi, termasuk mengenakan sepatu yang mengkilap.

Trilogi The Dark Knight memang sangat melekat di kepala saya. Seorang teman pernah bilang bahwa baginya Michael Keaton merupakan sosok Batman yang paling ideal – karena lekukan hidung-mulut-dagu aktor ini terlihat sangat pas dengan kostum Batman. Tapi, di luar siapa aktor yang paling pas memerankan tokoh Batman, penampilan Christian Bale di Trilogi The Dark Knight bagi saya sangat spesial. Walau terkesan agak berlebihan, tapi aksen serak-serak berlumpur ketika berkostum Batman terasa sangat khas, dan itu yang membuat penampilannya terasa spesial – mungkin unik lebih tepatnya – dan selalu terngiang di dalam kepala saya. Belum lagi mengenai kehidupan ganda yang semakin membuat saya begitu tertarik dengan penampilan aktor Wales ini di tiga film tersebut.

Hampir lima tahun telah berlalu sejak The Dark Knight Rises diluncurkan. Waktu yang cukup untuk melupakan aksen serak-serak berlumpur dari dalam kepala saya. Pun, dalam kurun waktu tersebut, Bale terlibat dalam lima produksi film: Out of Furnace, American Hustle, Exodus: Gods and Kings, Knight of Cups, dan The Big Short tentunya. Tokoh yang diperankan pun beragam – dan yang paling saya sukai adalah sebagai Irving Rosefeld. Tapi sialnya, justru ada dua film yang membuat saya terus teringat pada suara serak-serak berlumpur tersebut.

Pada 2010, Steve Coogan dan Rob Brydon melakukan perjalanan menyusuri restoran-restoran terbaik di pedesaan Inggris. Sambil menikmati makanan-makanan lezat, serta pemandangan memukau, dua orang sahabat ini memiliki kegemaran menirukan suara tokoh-tokoh dalam film – dan Bruce Wayne versi Bale menjadi salah satu yang paling sering ditirukan. Tidak berhenti di situ, empat tahun kemudian, dua sahabat ini kembali melakukan perjalanan dan tetap dengan kegemaran yang sama – dan lagi-lagi mengulang aksen Bruce Wayne versi Bale. Maka, jadilah, Bruce Wayne pun terpatri mantap di dalam pikiran saya – meski sempat tergusur oleh Irving Rosefeld.

Jujur saja, seperti halnya baru saja putus dari pacar, terngiang-ngiang tokoh di film terdahulu ketika menonton film baru bukanlah merupakan hal yang menyenangkan – kecuali jika Anda termasuk tipe orang yang menyukai pasangan dengan tipe yang identik. Saya ingin menikmati film yang baru dengan perasaan bebas, dengan perasaan baru, tanpa ada bayang-bayang masa lalu.

Saya ingin melihat Michael Burry sosok yang semestinya. Orang jenius yang gila kerja, berpenampilan santai (atau cenderung tak peduli pada penampilan), kerja dengan caranya, hidup di dunianya, bersenang-senang dengan hobinya memukul drum, dan sebagainya. Saya hanya tak ingin melihat, walau itu sedikit apapun, kemunculan Bruce Wayne. Sebagai Batman dan Bruce Wayne, Bale memang menjalani dua kehidupan yang berbeda. Kehidupan yang saling bertentangan antara satu dengan lainnya. Tapi, itu dalam satu film. Sementara, ini, dalam kasus ini, tidak mungkin dia “menghidupkan” dua tokoh dalam satu film. Atau, karena kemampuan aktingnya sudah begitu matang sehingga dia dapat melakukannya. Entahlah.

Sean Penn, dengan cara yang sangat gamblang, pernah menyajikan situasi yang hampir mirip. Tokoh Sam Dawson (I Am Sam) yang diperankan tahun 2001 seperti bangkit lagi dalam sosok Cheyenne (This Must Be The Place) sepuluh tahun kemudian. Tapi masalahnya, Penn membuat batas yang jelas. Perbedaan yang tegas antara pria berketerbelakangan mental dengan mantan rocker yang di masa mudanya begitu rajin mengkonsumsi alkohol dan berbagai jenis narkotika.

Dan jika satu film DiCaprio membuat saya kesulitan keluar dari bayang-bayang selama sekitar satu dekade, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk keluar dari bayang-bayang sebuah trilogi? Atau mungkin, sebaiknya untuk sementara waktu (dan entah sampai kapan) saya menghindari film(-film) yang dibintangi Christian Bale? Tapi, kan, saya penggemarnya. Lalu, harus bagaimana?

Salah satu petuah standar yang biasa diberikan kepada orang yang baru saja putus cinta agar dapat segera move on adalah dengan mencari pasangan yang baru. Bagi sebagian orang, petuah itu menjadi hal yang bijak. Tapi bagi saya, setidaknya, bukan cara yang baik. Mencari pasangan baru sebelum menyelesaikan perasaan pada hal yang lalu menjadi semacam “pelarian”. Dan jika itu terjadi pada Anda, apakah mau menjadi objek “pelarian”? Saya, sih, tidak mau, dan karenanya tidak berniat pula melakukan itu pada orang lain.

Ketika bayang-bayang sosok Jack Dawson begitu nyata di dalam pikiran saya, dan selalu muncul ketika melihat film apapun yang dibintangi DiCaprio, saya tidak malah menghentikan kegiatan menonton atau setidaknya menolak untuk menonton film-film yang dibintangi aktor tersebut. Meski kemudian yang saya temui adalah tokoh seperti Richard, yang, menurut saya, sangat lekat dengan semangat pemuda mencari kebebasan layaknya Jack Dawson, saya pun tetap menonton. Begitu juga dengan film-film selanjutnya, sampai kemudian, pada akhirnya, akal pikiran saya mampu memisahkan sosok DiCaprio dari Jack Dawson.

Itu pula yang akan saya lakukan untuk memisahkan Bale dari Bruce Wayne. Dan lagipula, berbeda dengan kasus DiCaprio-Jack Dawson, melihat deretan film yang dibintangi Bale, sepertinya usaha saya kali ini akan lebih mudah. Bagi saya, Bale termasuk aktor yang menyukai “tantangan”. Lihat saja lima film terakhir yang dibintangi aktor ini. Dalam kelima film tersebut, Bale menjadi tokoh yang “tidak sama”. Yang menampilkan semangat berbeda. Dan sambil melakukan itu, mungkin sebagai selingan saya akan mulai memperhatikan Bale yang lain, dan menjadi penonton Los Blancos.

 

Teks: Agung Suharjanto

Foto: Dok. Jaap Buitendijk – © 2015 Paramount Pictures

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON