China is Not the only One

China is Not the only One
View Gallery
36 Photos
China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

China is Not the only One

“Taiwan? Meteor Garden bukan? Salam ya buat F4!” begitu ujar karib saya dan mayoritas yang berkomentar tentang rencana kepergian saya ke Taiwan. Bagi beberapa kalangan, mungkin Taiwan merupakan Tiongkok tanpa The Great Wall, The Forbbiden City atau pasukan Terra Cotta. Memang benar, sebuah “negara” kepulauan berbentuk ubi yang luasnya lebih besar sedikit dari Jawa Barat ini memang belum memiliki ciri khas yang tenar di media dibandingkan Jepang maupun Korea. Namun sama seperti saya, mungkin Anda akan kaget dengan apa yang ditawarkan destinasi ini, karena sebenarnya Taiwan memiliki segalanya.

TAIPEIAmbisi yang Dibalut Kesederhanaan

Beruntung teman saya yang bernama Barbara tinggal di Taiwan dan menawarkan banyak cerita, serta opini tentang pulau yang dahulu dikenal dengan nama Formosa ini. Setiap sudut Taipei yang saya jelajahi dengan bangga memamerkan modernitas dan teknologi yang maju, namun juga masih setia akan kepercayaan, serta sejarah. Jejak modernisasi Taiwan jelas terlihat dari Taipei 101 yang sempat menjadi gedung pencakar langit tertinggi di dunia sebelum Burj Khalifa selesai dibangun di Dubai. Mungkin Taipei 101 bukan hanya sekadar gedung tinggi yang memamerkan kekayaan belaka, namun juga menjadi monumen semangat nasionalisme dan ambisi rakyat Taiwan untuk dapat diakui dunia.

Malam di akhir musim semi Taipei, suhu turun lima derajat menjadi 20 derajat, namun metropolis Taipei sepertinya tetap menjadi surga bagi para penderita insomnia. Menyambut dengan ramah pengunjung maupun warga untuk memoles sejarah, mengeksplorasi spiritualitas, dan yang terpenting, memenuhi cita rasa mereka. Apabila pasar malam adalah corak khas dari kebudayaan Taiwan, maka makanan adalah jantung dari pasar malam itu sendiri. Lupakan pasar malam Shihlin yang setiap malamnya dipenuhi oleh berpuluh-puluh bus berisi wisatawan, kali ini saya memercayakan Barbara untuk membawa saya ke pasar malam favorit masyarakat lokal Taipei, yaitu pasar malam Hua Xi.

Dekat dengan “Snake Alley”, pasar malam ini juga cukup absurd karena baru kali ini saya dapat menyaksikan restoran daging ular bersebelahan dengan butik baju terkenal yang juga ada di pusat perbelanjaan kelas atas di Jakarta. Pasar malam Hua Xi terletak dekat dengan Kuil Longshan, di distrik tertua di Taipei. Di Taiwan, makan merupakan salah satu pengalaman yang sakral. Menurut kepercayaan masyarakat lokal, ketika kita menyembah dewa di kuil, kita juga diharuskan menyembah tubuh kita sendiri, yang merupakan kuil pribadi tiap manusia. Karena itu banyak pasar malam di Taiwan yang tidak terlepas dari kuil-kuil Buddha. Ibadah seperti apalagi yang lebih mengenyangkan dari ini?

Ada ungkapan lokal yang berkata bahwa ketika ada kios makanan yang berbau asap tumisan daging, di situlah masyarakat Taiwan berkumpul melakukan selebrasi kalori bersama-sama. Beijing di daratan Tiongkok tentu terkenal dengan hidangan bebeknya, namun cobalah beragam alternatif kuliner Taiwan yang selama ini terkenal dengan berbagai kudapannya di pasar malam. Masyarakat lokal memakan banyak jenis makanan dalam porsi kecil, layaknya pesta lauk. Mulai dari ayam gorengnya yang terkenal, Stinky Tofu, Omelet Tiram, sampai Bubble Tea. Anehnya, di Taiwan saya jarang mendapati gerai bubble tea andalan yang ada di Jakarta. Menurut Barbara, mereka lebih menghargai gerai bubble tea yang menggunakan bahan-bahan yang orisinal, organik dan tanpa bahan pengawet, sehingga membuat saya cukup miris dengan tren kondisi yang ada di Jakarta sekarang ini.

Tebing Marmer yang Menjulang di TAROKO

Ni hao! Ni xiang qu tai lu ge?”, tanya supir taksi di stasiun Hualien yang menawarkan perjalanan ke Taroko Gorge dari Hualien. Memang dia benar kami akan melanjutkan perjalanan ke Taroko Gorge, namun saya hanya tersenyum malu, terbata-bata menjelaskan bahwa saya bukan orang lokal. Rasanya saya memang harus melanjutkan mempelajari bahasa Mandarin. Saya pun memberitahu keheranan saya kepada Barbara, bisa-bisanya paras saya yang Jawa totok ini masih dilempari bahasa Mandarin bertubi-tubi. Rupanya, supir taksi tersebut mengira saya adalah orang suku Truku, salah satu suku asli Taiwan. Dan memang banyak suku asli di Taiwan yang sangat mirip dengan suku-suku di Indonesia, terutama Dayak, karena memiliki garis keturunan yang sama dari rumpun Austronesia.

Perjalanan dari Hualien menuju Taroko kami tempuh melalui sepeda motor yang tentu saja dapat lebih melonggarkan ruang gerak untuk menjelajah tiap sudut daerah ini. Hualien merupakan kota di timur Taiwan yang bersahaja, apa adanya, namun memiliki keunikan alam yang mencengangkan. Kecanggihan teknologi tetap menjadi standar Taiwan, karena selama perjalanan menuju Taroko Gorge, kerap kali saya melihat pegunungan dan bukit dibobol untuk terowongan jalur transportasi darat. Taroko sendiri berasal dari bahasa Truku yang berarti menakjubkan dan indah, dan saya pribadi setuju dengan mereka. Pemandangan semakin impresif tatkala memasuki Taman Nasional Taroko. Beberapa kendaraan melaju di tebing dan jurang yang menganga lebar. Dinding-dinding yang menjulang tinggi tersebut merupakan dinding marmer dan banyak bersarang burung walet. Dari jauh terlihat Eternal Spring Shrine yang terletak secara unik di dekapan gunung dan dilewati oleh air terjun.

Saya berujar tempat ini ibarat kuil perguruan silat Boboho, namun ternyata kuil ini dibangun untuk menghormati para pekerja yang gugur tertimpa longsor saat membangun jalanan yang menembus pegunungan ini. Tak bisa dipungkiri saya memang terpengaruh oleh Janet Hsieh dalam acara Fun Taiwan, dan mungkin saja saya sempat mengenal beberapa budaya pop Taiwan pada satu dasawarsa lalu. Taiwan adalah Taiwan. Seperti saudara yang sangat mirip namun berbeda sifat dan perilaku, memang kurang pantas membandingkannya dengan daratan Tiongkok. Di sisi lain, di sela-sela sisinya yang familiar selama ini, Taiwan tidak pernah berhenti memberikan kejutan.

Taiwan series part 1: Teks & Foto: Jatidiri Ono

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON