Bumi Baduy, Tenunan Alam dan Manusia

Bumi Baduy, Tenunan Alam dan Manusia
View Gallery
10 Photos
Bumi Baduy, Tenunan Alam dan Manusia

Bumi Baduy, Tenunan Alam dan Manusia

Bumi Baduy, Tenunan Alam dan Manusia

Bumi Baduy, Tenunan Alam dan Manusia

Bumi Baduy, Tenunan Alam dan Manusia

Bumi Baduy, Tenunan Alam dan Manusia

Bumi Baduy, Tenunan Alam dan Manusia

Bumi Baduy, Tenunan Alam dan Manusia

Bumi Baduy, Tenunan Alam dan Manusia

Bumi Baduy, Tenunan Alam dan Manusia

Kepasrahan hidup sebuah suku di tengah arus kekinian zaman.

Baduy Dalam dan Baduy Luar, mungkin adalah sebuah destinasi yang sering Anda dengar dari teman-teman Anda yang memiliki hobi traveling ke tempat-tempat yang masih jauh dari teknologi abad 21 demi mengenyangkan rasa ingin tahu mereka akan hal-hal baru. Mungkin para penikmat budaya dan manusia-manusia pemilik energi sosial yang tinggi pun tidak asing dengan daerah ini. Baduy adalah sebuah suku di salah satu perkampungan wilayah Banten.

Suku Baduy, atau sering disebut urang Kanekes, yang termasuk ke dalam etnis Sunda, merupakan salah satu suku yang masih menerapkan sistem isolasi dari dunia luar, khususnya penghuni Baduy Dalam. Di Baduy Dalam tidak dikenal budaya tulis-menulis, sehingga norma adat, agama, dan sosial yang mereka pegang teguh pun hanya diwariskan melalui lisan. Berhubung memotret adalah kegiatan yang tidak diperkenankan di daerah Baduy Dalam, selain itu yang diizinkan memasuki Baduy Dalam hanya mereka yang lolos seleksi penjaga pintu, maka lensa kamera saya hanya dapat menjadi mata Anda hingga daerah Baduy Luar, yang tetap merefleksikan kehidupan suku Baduy yang menyatu dengan alam.

Saya berangkat tengah malam dari Jakarta untuk mengejar sampai ke terminal Ciboleger, salah satu pintu masuk ke Baduy, pada waktu subuh. Perjalanan menggunakan bus dari Jakarta menempuh waktu sekitar 5 jam dengan mengambil rute ke arah Serang. Dalam perjalanan ini, saya pergi bersama grup rombongan, hal yang sebenarnya jarang saya lakukan. Saya tahu bahwa hal yang tidak bisa saya hindari untuk lakukan ketika sampai di tempat tujuan adalah berjalan kaki, belum ditambah  harus menyesuaikan tempo berjalan dengan anggota rombongan, maka dari itu saya berusaha menyempatkan diri untuk tidur men-charge energi. Kemungkinan gagal memejamkan mata segera saya rasakan ketika kondisi jalan yang naik turun dan jalan yang agak rusak mulai mengguncang badan bus. Saya pasrah dan tertawa miris.

Rombongan saya sampai di Terminal Ciboleger sekitar pukul 05.30 pagi, cahaya matahari mulai muncul bersama semburat sinarnya yang agak putih dari balik perbukitan yang mengelilingi daerah ini. Hawa masih sangat dingin dengan kabut masih menyelimuti sebagian pucuk perbukitan. Tak mau menambah berkurangnya energi karena gagal terlelap, saya mengisi perut dengan sarapan terlebih dahulu di warung terdekat. Asupan nasi goreng hangat menutrisi sel-sel tubuh saya yang tidak sabar untuk memulai perjalanan yang sebenarnya. Selagi kerongkongan saya masih dengan lambannya menelan suapan nasi, warga Baduy Luar sudah terlihat keluar satu persatu memulai aktivitas pagi harinya. Sekumpulan anak kecil yang siap berangkat pergi sekolah, pria-pria yang turun bukit membawa pikulan pisang, serta wanita tua dan muda yang menggendong keranjang dagangan, semua terbekukan dalam jepretan kamera saya.

Tepat pukul 6.45 perjalanan dengan berjalan kaki dimulai. Selain aspek jalan yang tidak memadai, perkampungan Baduy memang tidak memperbolehkan kendaraan bermotor untuk masuk ke dalam. Istilah “langkahkan kaki untuk melihat dunia” sangat berlaku secara literal disini, jika saya sudah kelelahan setelah berjalan 1 km, maka hanya 1 km itu yang bisa saya lihat dan nikmati. Sebelum pintu masuk perkampungan Baduy Luar, masih terdapat beberapa fasilitas umum modern yang telah disediakan pemerintah seperti sekolah dan pasar. Hal yang tidak  mungkin ada di daerah Baduy Dalam. Setelah berjalan beberapa meter, gerbang “Selamat Datang di Baduy” menyambut saya. Dibanding terharu karena akhirnya saya akan melihat perkampungan Baduy yang asli, saya lebih terharu karena ternyata perbatasan ini masih mengetahui teknik baca tulis. Mata saya mulai menelusuri arah jalan yang mengarah masuk lebih dalam dari gapura selamat datang itu, terlihat perkampungan Baduy Luar pertama yang tersusun rapi. Jalan bebatuan tersusun dengan sengaja sebagai jalan utama yang akan memandu kaki saya menuju arah yang benar. Sedikit demi sedikit saya mendaki tanjakan yang belum memiliki elevasi tinggi, sembari terus memotret. Dengan medan seperti itu, saya yakin sekali betapa sehatnya para warga suku Baduy yang setiap hari melewati rute ini seperti saya melewati jalanan komplek menggunakan motor automatic. Perbedaannya adalah, yang mana sangat signifikan, mereka tidak menggunakan alas kaki dan berjalan secara manual di atas bebatuan yang tidak rata. Refleksi kaki jelas bukan merupakan sebuah cobaan untuk suku dengan darah pekerja keras ini.

Di perkampungan Baduy, mayoritas para wanita mengisi hari mereka dengan aktivitas menenun.

Perjalanan menelusuri Baduy Luar dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 4-6 jam, sementara bila ingin menuju kampung terdalam di Baduy Dalam, Anda membutuhkan waktu lebih dari 10 jam. Setelah lebih dari 1 jam saya berjalan, saya mencapai perkampungan kedua Baduy Luar. Perkampungan ini sedikit lebih rapi dan bersih dibanding perkampungan yang terdapat di pintu masuk. Penduduk yang terlihat lalu-lalang disini pun jumlahnya lebih sedikit. Sebagian dari mereka yang berdiam duduk di pelataran panggung rumah adalah para wanita. Di perkampungan Baduy, mayoritas para wanita mengisi hari mereka dengan aktivitas menenun. Dengan alat tenun tradisional, mereka menghasilkan kain-kain dengan motif sederhana, namun mencolok dengan warna-warna terang seperti biru laut, merah jambu pekat, ataupun ungu tua. Hasil kain tenunan itu biasanya dijajakan kembali oleh para wanita penenun ini kepada para tamu yang masuk mengunjungi perkampungan mereka. Kain tersebut biasanya panjang dan tidak terlalu lebar, dapat digunakan sebagai bawahan kain untuk menutupi kaki, juga dapat diselempangkan menghiasi pundak Anda.  Kain tenun Baduy pun sudah cukup dikenal di kalangan macanegara, kekhasannya berhasil masuk ke pasar Eropa dan Timur Tengah. Ciri tenunannya yang terbuat dari benang kapas warna hitam atau bergaris putih, juga tekstur kainnya yang agak kasar, malah membuat peminat dari mancanegara merasa nyaman karena cocok dengan udara di negara mereka.

Setelah cukup melihat-lihat perkampungan kedua tersebut, saya kembali berjalan menelusuri bagian lebih dalam dari Baduy Luar. Semakin jauh melangkah, jalanan tidak lagi berupa undakan bebatuan, tetapi jalan tanah setapak. Tanjakan yang harus didaki pun semakin curam, sehingga kecepatan anggota rombongan pun agak melambat. Sebagai konsekuensi dari jalur yang semakin menanjak, tentunya posisi saya berpijak menjadi semakin tinggi, yang berarti hamparan perbukitan yang telah kami lewati terlihat semakin jelas. Dan itu luar biasa. Angin segar menerpa dahi saya yang mulai dibasahi tetes peluh, udara pagi yang masih sejuk memompa semangat saya untuk menapaki tanah yang lebih tinggi di hadapan. Berkali-kali saya menemui para pria dan wanita yang kurang lebih seumur dengan saya, datang dari arah berlawanan membawa buah-buahan.

Dilihat dari warna ikat kepalanya yang putih, dapat dipastikan mereka adalah warga Baduy Dalam yang sedang keluar desa untuk mencari bahan pangan. Cukup banyak jumlah orang yang turun bukit melewati rombongan kami, tetapi anehnya saya tidak melihat ada yang naik sepanjang perjalanan tadi. Ternyata menurut anggota yang berjalan di ekor rombongan, sedari tadi ada beberapa penduduk Baduy yang berjalan di belakang mereka. Barulah saya tahu bahwa tidak sesuai dengan adat istiadat Baduy untuk mendahului orang yang berjalan di depan mereka. Bila kami duduk sesaat karena kelelahan, maka mereka akan ikut duduk, bila kami melanjutkan perjalanan, baru mereka pun angkat berdiri. Suku Baduy percaya bahwa alur hidup ini ditentukan dan diselaraskan oleh alam, maka tidak perlu ada usaha berlebih untuk mengubah hal yang sudah semestinya terjadi. Jadi bisa dibilang kami yang berjalan kurang cepat dan kebetulan lebih dulu tiba di jalan yang selalu mereka lewati, adalah sebuah keadaan yang seharusnya dan telah digariskan bagi mereka untuk mengalah.

Dalam perjalanan menuju perkampungan berikutnya, di tengah-tengah hutan tropis yang basah, terdapat danau hijau yang cukup besar sehingga membuat bola mata saya melirik. Di atas permukaannya yang tenang, seorang bapak berdiri di atas rakit seadanya, menebarkan sebuah jala besar. Gerakan tangannya melemparkan jala menyerupai pedagang martabak telur yang sedang membanting adonannya. Setiap kali ia mengambil tolakan untuk menebar pukatnya, tercipta gelombang kecil akibat perubahan posisi rakit, sehingga tubuhnya berayun mengalir seperti menari. Pemandangan yang cukup menarik, karena saat itu ia satu-satunya orang yang berusaha menjala ikan di tengah danau besar itu, yang mana membuat pengunjung membentuk lintasan memutar dan mengeluarkan kamera mereka masing-masing.

Begitu tiba di perkampungan ketiga dan melihat aktivitas menenun yang sama dengan perkampungan sebelumnya, saya tidak menahan diri lagi untuk membeli satu buah kain tenun dan membawanya sebagai cinderamata.  Nenek berwajah ramah menyambut saya sembari duduk santai melantai di ambang pintu rumahnya. Dalam kegiatan jual beli tanpa tawar menawar ini, ia bercerita bahwa kain Baduy merupakan lambang cinta para wanita Baduy terhadap keluarganya. Fakta bahwa masyarakat Baduy memang hanya boleh mengenakan kain tenun yang dibuat sendiri oleh wanita Baduy, menjelaskan mengapa banyak wanita dan hanya wanita yang terlihat dengan aktivitas tenun-menenun ini.

Hari semakin siang, matahari semakin tinggi, kaki yang telah menempuh jalan menanjak selama kurang lebih 5 jam, mulai membawa hawa gerah ke sekujur tubuh saya. Sekitar pukul 12.00 akhirnya saya tiba di destinasi perkampungan yang terakhir. Perkampungan ini adalah perkampungan terdekat dengan Baduy Dalam dibandingkan perkampungan-perkampungan sebelumnya, yang mengapa lingkungannya semakin sepi dan tenang. Saya memerhatikan, karena semakin dekatnya ia dengan suku Baduy Dalam, banyak hal-hal atau kepercayaan yang masih lebih ditaati dibanding semua perkampungan yang telah saya singgahi. Suku Baduy terkenal sebagai suku yang patuh kepada adat istiadatnya, dikenal juga sebagai sebuah konsep pikukuh. Dari kata ‘kukuh’ yang menjadi kata dasarnya, mungkin Anda bisa menebak bahwa konsep ini adalah konsep “tanpa perubahan”.

Artinya para warga Baduy asli berusaha bertahan dari pengaruh perkembangan dunia luar, dan tetap menerima apa yang diberikan oleh alam. Contohnya seperti masalah susul-menyusul di jalan tadi. Di penghujung desa ini, saya melihat penerapan konsep itu dalam fondasi bangunan rumah. Jika tanahnya bergelombang, tanah tersebut tidak diratakan tetapi rumah itu yang dibiarkan berdiri mengikuti kontur tanah. Bambu atau kayu yang menjadi tiang penyangga rumah pun seringkali tidak sama panjang, atas alasan kepercayaan konsep pikukuh tersebut: “Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung.” Mendengarnya, saya takjub dan heran bagaimana masih ada sekelompok orang, bahkan sebuah suku, yang masih bisa hidup sepasrah itu dan se-antimainstream itu di zaman serba hipster ini.

Kedekatan mereka dengan alam didukung oleh suasana lingkungan yang masih asri, yang mana sesungguhnya pun merupakan hasil perjuangan mereka menolak semua intervensi yang datang dari luar. Nyiur kelapa melambai-lambai di ketinggian serta suara burung yang banyak terdengar bersiulan di udara seperti mengatakan, “Ini waktunya istirahat dan menikmati apa yang ada di sekitarmu sekarang.” Saya duduk di bebatuan yang ada di pinggir sungai berarus cukup deras. Warna air sungai itu masih jernih, hingga dasarnya mampu terlihat dari beningnya air. Sungai itu tampak dingin, dan saya kepanasan. Setelah berpikir sangat panjang selama 5 detik, saya dan teman saya melepas kaos atasan dan mengambil langkah besar menuju tengah sungai tersebut. Ekspresi wajah dan tubuh saya langsung menunjukkan rasa cerah dari kesegaran yang dengan cepat menghilangkan gerah. Sekarang saya memahami esensi super segar dari iklan sprite.

Saya melangkah hati-hati ke arah aliran sungai yang terpecah karena menghantam dua buah batu yang berdempetan. Saya meletakkan punggung di antara kedua batu tersebut, merentangkan tangan, meluruskan kaki, dan menikmati sensasi jaccuzi pada pundak dan punggung saya. Kenikmatan yang sampai membuat saya otomatis memejamkan mata di bawah birunya langit. Saya tidak tahu bagaimana cara menjelaskan perasaan tenang dan berterimakasih yang ada di dada saya, ternyata kebahagiaan itu dekat. Dikelilingi oleh melodi gemerisik hutan, saya duduk mengambang menikmati semua kemewahan yang dihadiahkan oleh alam.

Teks & Foto: Aditya Arnoldi

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON