Bukittinggi, Pesonanya Tak Pernah Padam

Panorama alam yang indah, sejarah kota yang panjang hingga kulinernya yang tak terlupakan.

Belut-belut kering yang digoreng dengan cabai hijau ini terasa sangat gurih bahkan saking enaknya saya pun minta ditambahkan nasi.  Meski saya makan di restoran kecil di pinggiran Kota Bukittinggi, tapi kualitas rasa menunya tak kalah dengan restoran ternama di kota ini. Ternyata belut yang saya makan adalah belut sawah yang dikeringkan, ukurannya lebih kecil namun jauh lebih gurih dibandingkan dengan belut kering yang dibudidayakan.

Usai makan di restoran kecil yang menghadap lembah di kaki Gunung Singgalang ini saya pun meneruskan perjalanan ke wilayah kota. Tepat tengah hari saya pun berada di jantung kota Bukittinggi yakni kawasan Jam Gadang. Beruntung hari ini tampak cerah di mana matahari bersinar terik, berbeda dari beberapa hari lalu di mana Bukittinggi terus diguyur hujan. Akibat cerahnya cuaca Gunung Merapi dan Singgalang yang tinggi menjulang tampak jelas dari pandangan.

Pasar Atas memang berada di wilayah ketinggian. Di seputaran pasar inilah berada Jam Gadang, Istana Bung Hatta (Gedung Tri Arga), Kebun binatang Bukittinggi yang dibangun oleh pemerintahan Hindia Belanda ditahun 1900-an, Benteng Ford De Kock hingga Taman Panorama yang berada sekitar 1 kilometer yang terkenal untuk menikmati pemandangan yang indah dan mempesona Ngarai Sianok.

Ngarai Sianok atau lembah merupakan bentang lembah yang indah, hijau dan di bawahnya padi-padi tumbuh subur. Di dalam lembahnya juga mengalir sebuah anak sungai yang berliku-liku menyelusuri celah-celah tebing berwarna-warni dengan latar belakang Gunung Merapi dan Gunung Singgalang. Dan keindahan Ngarai Sianok banyak disaksikan wisatawan dari Taman Panorama yang sengaja dibuat khusus oleh Pemerintah Kota.

Secara umum, ketika Anda berada di Bukittinggi memang akan banyak menemui berbagai warisan dari dua masa penjajahan yakni Belanda dan Jepang. Belanda telah mendirikan benteng Fort De Kock di Bukittinggi tahun 1825 dan Jam Gadang di tahun 1926. Bukittinggi juga digunakan Belanda sebagai tempat peristirahatan opsir-opsir mereka untuk wilayah Sumatera. Dan pada masa pendudukan Jepang, Bukittinggi adalah pusat pengendalian militer Jepang untuk kawasan Sumatera dan Asia Tenggara.

Tembok Besar Koto Gadang

Sejak akhir Januari lalu masyarakat Bukittinggi dan sekitarnya memiliki wahana wisata baru yakni Great Wall of Koto Gadang atau Janjang Koto Gadang yang terbentang sepanjang 1, 5 kilometer. Meski tak sebesar dan sepanjang Tembok Besar Cina namun pemandangan dari janjang ini amatlah indah di mana dibangun melintasi Ngarai Sianok yang menghubungkan Kota Bukittinggi dan Nagari Koto Gadang, terkenal sebagai penghasil kerajinan perak yang ada di wilayah Kabupaten Agam.

Nagari Koto Gadang ini memang sudah sejak zaman penjajahan terkenal mengutamakan pentingnya pendidikan kepada anggota keluarganya. Kalau masyarakat daerah lain di Minangkabau merantau umumnya untuk berdagang, maka masyarakat Koto Gadang merantau untuk menuntut ilmu pengetahuan.

Janjang Koto Gadang pernah dibangun sebelumnya, namun pasca gempa tahun 2009 silam, bangunan tersebut ambruk dan tidak bisa dilalui lagi. Dan pada masa lalunya kedua wilayah hanya dihubungkan dengan jalan setapak dengan tangga biasa. Meski begitu dulunya jalur ini memiliki nilai sejarah karena pernah dilalui tokoh ternama asal Koto Gadang seperti Agus Salim, Rohana Kudus, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi ulama besar Indonesia yang pernah menjadi imam di Masjidil Haram, dan tokoh lainnya.

Great Wall of Koto Gadang ini dapat dinaiki dari pintu gerbang sebelum masuk Ngarai Sianok dengan melintasi jalur persawahan dan tebing-tebing yang mengelilinginya. Di atasnya juga terdapat jembatan gantung berkapasitas 10 orang. Jembatan ini berguna untuk meniti sungai yang terjal. Namun dibutuhkan tenaga yang prima untuk bisa melanjutkan perjalanan hingga ke seberang karena jumlah anak tangga yang ada di pinggir tebingnya mencapai seribu anak tangga dengan rute yang naik-turun.

MUST KNOW!

Get around
Pusat Kota Bukittinggi berada pada wilayah yang tak terlalu luas sehingga hanya dengan berjalan kaki, Anda bisa menuju berbagai lokasi wisata yang jaraknya berdekatan. Namun untuk lebih merasakan sensasi berkeliling kota, cobalah angkutan tradisional Bendi. Bendi masih dipertahankan oleh pemerintah Bukittinggi untuk mengantar wisatawan berkeliling kota dengan kisaran harga Rp.15.000. Pada masa kini Bukittinggi kerap dijadikan tujuan utama wisatawan yang datang ke Sumatera Barat. Letaknya yang stategis di tengah-tengah provinsi memudahkan wisatawan untuk bepergian ke wilayah lain seperti Payakumbuh, Maninjau, Singkarak, Pagaruyung, dan Padang Panjang.

Mencari Kuliner Asli
Bukittinggi adalah kota yang pas untuk menemui beragam Masakan khas Minangkabau, atau lebih dikenal Minang. Rata-rata menu yang bisa ditemui memiliki kualitas rasa yang lebih dari hidangan sejenis yang bisa ditemui di luar Sumatera Barat.

Memilah Cinderamata Beragam
Jika Anda ingin membeli perhiasan perak, kunjungilah Kota Gadang. Namun di gerai toko yang ada di kota Bukittinggi juga banyak tersedia hasil kerajinan ini seperti halnya sulaman khas Minangkabau yang indah yang kaya akan warna merah dan emas, serta kain songket Pandai Sikek. Namun pilihan wisatawan pada umumnya tak akan lupamembawa aneka kripik Sanjai, belut/dendeng kering, ikan bilih kering, kerajinan bordir terutama mukena, jilbab, baju kurung, baju koko, dan lainnya sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang.

Teks & Foto: Zulmahmudi

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON