Breezing Alaska

Breezing Alaska
View Gallery
20 Photos
Breezing Alaska

View from the Ship - Hubbard Glacier

Breezing Alaska

View of the Sea

Breezing Alaska

Hubbard Glacier

Breezing Alaska

Totem

Breezing Alaska

Suku Tlingit

Breezing Alaska

Suasana Hutan di Alaska

Breezing Alaska

Red Dog Saloon

Breezing Alaska

Pistol Wyatt Earp di Red Dog Saloon

Breezing Alaska

Pemusik di Red Dog Saloon

Breezing Alaska

Mural di kota Juneau

Breezing Alaska

Miniatur Kapal Pencari Ikan di Museum Icy Strait Point

Breezing Alaska

Mendenhall Glacier

Breezing Alaska

Kota Juneau

Breezing Alaska

Koleksi desain kaleng Salmon di Museum Icy Strait Point

Breezing Alaska

Kayaking

Breezing Alaska

Icy Strait Point Dock

Breezing Alaska

Hutan di Mendenhall Glacier

Breezing Alaska

Icy Strait Point

Breezing Alaska

Fresh King Crab

Breezing Alaska

Bloody Mary & Gin

Dari berbagai negara yang pernah saya datangi, Alaska merupakan tempat yang memiliki keistimewaan tersendiri, subjektif tentunya. Ia terletak jauh di utara Planet Bumi ini, itulah mengapa orang menyebutnya sebagai The Last Frontier.

Alaska resmi menjadi negara bagian ke-49 milik Amerika Serikat setelah Rusia menjualnya. Sebagai imbas dari cuacanya yang ekstrem, Alaska berpopulasi penduduk rendah. Saya beranggapan hanya orang-orang kuat dan berani yang bisa terus tinggal di Alaska, lihat saja bahkan Hulk dan Sub-Zero tidak pernah bertamu kemari. Ternyata semua pola pikir saya tersebut salah, yang mana menyebabkan interpretasi yang miring pula. Nyatanya Alaska dihuni oleh mereka yang tenang dan sentosa, tempat ini ekstrim tetapi menenangkan pada saat yang bersamaan. Upside down cause and effect, eh?

Berpergian ke perbatasan terakhir dari peradaban membawa saya semakin mendekati kealamian Bumi, tidak ada gedung pencakar langit melainkan pedesaan kecil yang bersemangat. Nenek tua yang duduk di kursi kayu pada teras rumahnya; lelaki berjenggot putih yang mengenakan topi rajut dan kaus kaki bergaris sembari merokok pipa; anjing berbulu lebat yang memandangi hamparan putih di sekeliling sementara asap putih terus keluar dari sela mulutnya yang terbuka; begitulah gambaran yang paling serupa tentang bagaimana Alaska di mata saya.

Kota-kota di Alaska relatif memberikan vibrasi ramah yang klasik, contohnya Juneau, Ketchikan, Anchorage, Sewards, dan Hoonah, di sini nelayan dan penambang beraktivitas berdampingan. Terdengar sangat pelosok tetapi saya memperoleh banyak jenis rekreasi melalui sebuah penawaran yang berbeda seperti hiking, kayaking, menaiki Zip Line, dan yang terbaik: makan.

Pertama saya menyusuri jalanan kota Juneau, ibukota dari Alaska. Walau sebagai ibukota ia tidak bisa dibandingkan dengan ibukota negara-negara bagian lain di pusat Amerika Serikat, Juneau merupakan kota dengan penduduk terbanyak kedua di Alaska juga wilayah terbesar kedua di Amerika Serikat. Tampaknya kata ‘kedua’ sudah diucapkan dua kali sejauh ini, well it’s Alaska, you give peace sign with both hands.

Di kota ini saya melewati sebuah Saloon sebutan untuk bar tradisional bernama Red Dog Saloon. Di masa lalu, semua penambang emas berkumpul dan bersuka ria disini untuk mendapatkan Bloody Mary, koktail yang merupakan campuran dari vodka, jus tomat, dan tabasco, yang kini telah menjadi minuman khas Alaska. Red Dog Saloon merupakan salah satu bar tertua di Juneau yang masih kental sentuhan orisinilnya walaupun beberapa dekade telah lewat sejak pertama kali dibangun.

Hal tersebut bisa dilihat dari seragam para pelayan yang masih bernuansa koboi, piano yang dialunkan riang ketika mereka menyapa para pelanggan, dinding yang didekorasi oleh binatang yang diawetkan, lantai yang dipenuhi tumpukan serbuk gergaji, wow Gold Rush era! Saya hanya butuh sepasang pistol yang disangkutkan pada ikat pinggang kulit maka segera saya akan merasa seperti koboi zaman dulu.

Bicara soal koboi, di bar ini terdapat pistol memorabilia dari Wyatt Earp, Sherif legenda berkumis tebal yang sering kali dihidupkan kembali lewat seni peran oleh bintang-bintang Hollywood. Tak sengaja tertinggal di Red Dog Saloon ketika ia sedang dalam perjalanan panjang, kini signage “Checked but never claimed” terpampang bangga di dalam Saloon. Saya tidak menyangka akan mengalami menjadi koboi Alaska alih-alih Sid dari Ice Age.

Setelah meneguk minuman lezat yang menghangatkan, saya melanjutkan jalan-jalan siang di sekitar Juneau dengan me-ngunjungi Alaska State Museum. Bangunan ini mengarsipkan segala informasi dari A-Z mengenai evolusi sejarah kebudayaan Alaska. Saya belajar bahwa penduduk asli Alaska masih satu garis darah dengan Paleo-Indian,
relasi ini bisa dilihat melalui peninggalalan kerajinan tangan dan beberapa bangunannya. Bangsa Tlingit, Inupiat, dan Yupik saat membayangkan wajah mereka selalu ada iglo dalam satu frame yang sama adalah orang-orang suku Eskimo yang awalnya merupakan pemahat dan penjahit jenius.

Hasil dari kejeniusan tersebut dipamerkan di banyak bagian museum. Semakin banyak saya belajar tentang sejarah Alaska, semakin saya dapat merasa terhubung dengan apa yang ada di pikiran dan imajinasi mereka selama membuat artefak-artefak ini. Semua peninggalan sejarah kebudayaan Alaska, mulai dari tekstil, karya seni, hingga pahatan, didominasi oleh pola dan motif binatang seperti burung hantu dan ikan salmon. Sebuah warisan yang sangat jujur tentang bagaimana mereka hidup berdampingan dengan unsur alam dan makhluk hidup lain. Still stimulates me until today.

Karakter utama dari Alaska yang sangat ingin saya lihat pastilah batuan esnya yang masif mempesona. Mendenhall Glacier yang terletak di luar pusat kota Juneau tujuannya, spesifiknya di dalam area Tongass National Park. Saya berinisiatif untuk hiking santai di dalam area tersebut sekadar menikmati udara sepoi menggigit sekaligus hijaunya hutan konservasi tersebut. Semakin mendekat ke arah objek utama, saya tertegun menyaksikan megah dan mencoloknya glasier yang terbentuk secara natural dari aliran sungai itu.

Keindahannya gagal saya telaah. Saya hanya bisa menarik napas dingin di hadapan gugusan es biru paling cantik. Sempatkan waktu untuk terus naik ke atas permukaan glasier, karena pemandangan dari atasnya tidak akan membuat siapapun menyesal, hanya mungkin butuh oksigen lebih banyak saking indah mencekatnya. Hike, bike, or ride helicopter to the Glacier, it worths every penny! Seakan tidak puas untuk melihat kemegahan batuan es, saya juga langsung mengambil tur untuk melihat Hubbard Glacier yang jauh lebih masif, terbentuk selama 400 tahun dan hanya bisa dilihat melalui kapal laut karena terletak di Gulf of Alaska.

Melanjutkan perjalanan saya dengan kapal laut dari pelabuhan Juneau, saya mengunjungi Icy Strait Point. Kota nelayan kecil ini merupakan pulau perkampungan nelayan yang terkenal dengan adanya pabrik pengolahan ikan salmon yang sekarang sudah dijadikan museum. Selain itu, ada yang wajib harus saya coba di sini yang memacu adrenalin di alam bebas Alaska. Selagi adrenalin masih terus mengalir karena detak jantung yang hebat, maka sekarang adalah saat yang paling tepat untuk mencoba Zip Rider.

Saya tidak mungkin melewatkan Zip Line  dengan trek terpanjang di dunia! Saya digantung 1 km tingginya dari atas daratan, lebih tinggi dari pepohonan cemara dan pinus, sebelum kemudian diluncurkan melalui kabel sepanjang kurang lebih 2 km. Kecepatan benda yang sekarang membuat saya berteriak liar ini adalah sekitar 100 km/jam! Saya berselancar di udara mulai dari atas bukit, lurus bebas hingga ke daratan pinggir danau dalam 1,5 menit saja. Insanity!

Lelah dengan aktivitas seharian penuh, saya yakin saya berhak akan makanan dan minuman enak. Saya memasuki sebuah restoran yang terkenal akan kepiting segarnya. Giant king crab, I’m coming! Suara derak patahan cangkang kepiting dilanjutkan keluarnya cairan segar yang tercampur dengan mentega leleh ikut membuat mulut saya berair. Begitu daging lembutnya menyentuh lidah, gosh my taste is In heaven! Tidak lupa pula saya memesan makanan sampingan yang terbuat dari salmon, pastinya karena ikan tersebut sarat dengan sejarah Alaska. Everything I just ate is full of unbeaten flavor of freshness. Puas memanjakan perut, apalagi yang saya butuhkan untuk menutup semuanya kalau bukan satu botol bir sejati. Toast to the breezing land! Or should I say, BEER-zing? 

Teks & Foto: Aditya Arnoldi

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON