Bias Cahaya Emas Dataran Kairo

Bias Cahaya Emas Dataran Kairo
View Gallery
11 Photos
Bias Cahaya Emas Dataran Kairo

Bias Cahaya Emas Dataran Kairo

Bias Cahaya Emas Dataran Kairo

Bias Cahaya Emas Dataran Kairo

Bias Cahaya Emas Dataran Kairo

Bias Cahaya Emas Dataran Kairo

Bias Cahaya Emas Dataran Kairo

Bias Cahaya Emas Dataran Kairo

Bias Cahaya Emas Dataran Kairo

Bias Cahaya Emas Dataran Kairo

Bias Cahaya Emas Dataran Kairo

Kairo merupakan kota yang sangat penting dalam segala jaring kesinambungan kehidupan negara Mesir, sebagaimana seorang ibu mengatur dan melindungi kesejahteraan anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya. Kota Kairo dikenal sebagai “The City of Thousand Minarets”. Minaret adalah kubah yang berbentuk seperti bawang bombay, yang nyaris selalu ada sebagai atap masjid. Sesungguhnya, bersebelahan dengan Kairo terdapat sebuah kota yang tidak kalah penting bernama Giza, kota yang menyimpan salah satu dari keajaiban dunia yaitu Piramid yang digardai oleh Sphynx. Namun kali ini, saya tidak akan membawa Anda ke sana, saya akan mengajak Anda untuk melihat keseharian penduduk Mesir lain, yang juga lahir dan dibesarkan oleh perairan Sungai Nil.

Saya dibangunkan di pagi hari oleh sinar matahari yang berwarna kuning keemasan temaram seperti kala terbenamnya, dengan warna oranye hangat yang memantul di permukaan Sungai Nil. Melalui bus umum yang saya naiki untuk berjalan-jalan menyusuri daerah pusat kota, saya segera menangkap keunikan dari Kairo. Kepadatan yang memenuhi jalan raya serta acaknya komposisi peletakan bangunan-bangunannya sungguh mencerminkan Jakarta.

Bahkan beberapa persimpangan jalan di Kairo langsung mengingatkan saya akan persimpangan jalan yang serupa ricuhnya Jakarta. Perbedaannya adalah saya menikmati apa yang saya lihat melalui kaca bus, yaitu visual arsitektur yang berjajar di kiri-kanan. Disini saya berada di atas aspal normal prasarana umum, tetapi apa yang berdiri di sisi jalan seolah merupakan sisa-sisa kerajaan di masa lampau. Terima kasih kepada laju kendaraan yang merayap, karena saya bisa berlama-lama menelanjangi setiap detail yang terpahat di dinding bangunan-bangunan tersebut. Ornamen-ornamen dan seamless pattern khas daerah Timur Tengah menjalar memenuhi arsitektur Islam yang seperti berasal dari abad pertengahan. Tua, detail, dan rumit.

Saya menepi di Grand Bazaar, pasar lokal terbesar di Kairo. Pasar ini terletak persis di sebelah Universitas Al-Azhar yang terkenal dengan banyaknya mahasiswa asal Indonesia. Di pasar yang tertata rapi ini, komoditas barang didominasi oleh aksesori, lampu, karpet berornamen dalam berbagai ukuran, perhiasan, serta segala perlengkapan berbahan baku kulit. Sewaktu kecil, saya sering membaca buku bergambar mengenai petualangan para pengembara Baghdad yang mencari oasis mereka. Dalam kebanyakan genre adventure seperti itu, sang protagonis dalam keadaan hampir matinya selalu secara dramatis menemukan sebuah kota kecil yang akhirnya menyelamatkannya.

Adegan masuk ke kota kecil ini selalu dimulai dengan setting kerumunan warga, sorban dan kerudung, kios-kios bertenda dengan benda-benda klasiknya, atau benteng perbatasan. Grand Bazaar persis seperti itu, namun dengan sedikit sentuhan kemodernan. Letaknya yang ada di relung-relung kota membuatnya disekat oleh dinding-dinding tinggi bata pasir, seperti jalan rahasia berisi para informan, pedagang gelap, dan pengembara tanpa identitas yang sedang memenuhi perbekalan sebelum keberangkatan mereka selanjutnya. Jika deskripsi ini terdengar berlebihan, mungkin lebih mudah jika Anda membayangkan Kota Tua Jakarta.

Eliminasi semua motor yang parkir dan lalu lalang, tambahan toko-toko cinderamata tradisional dan kafe-kafe tua dengan bangku kayu di sepanjang sisi gedung klasik Kota Tua, berbaris tanpa batas membentuk lorong untuk pejalan kaki. Kemewahan vintage.

Tempat ini adalah tempat dengan ratusan jenis barang yang tidak akan habis untuk dilihat, tempat dengan bau yang bercampur dari minyak-minyakan, biji rempah, hingga unta, juga merupakan tempat yang dipenuhi ingar-bingar tawar-menawar dari pembeli dan penjaja. Saya berbaur dalam chaos ini, membiarkan diri saya masuk dalam keributan tanpa perlawanan. Pelan-pelan saya menemukan kedinamisan yang teratur di ritme cepat tersebut, untungnya tanpa kehilangan dompet. Gemas melihat bentangan Sungai Nil kemanapun saya melangkah, akhirnya saya memutuskan menghabiskan satu hari untuk mengambil tur mengeksplor sungai Nil.

Walaupun sungai ini mengaliri tak kurang dari sembilan negara lain, namun karena unsur historisnya, sungai terpanjang kedua di dunia ini menjadi indentik dengan Mesir. Sejak 4000 tahun sebelum Masehi, para penduduk Mesir sudah bergantung pada irigasi yang berasal dari Sungai Nil. Banjir tahunan, yang membawa endapan lumpur sangat menyuburkan, adalah hal yang paling mereka tunggu-tunggu setiap tahunnya. Ketika di Jakarta, banjir adalah hal tidak menyenangkan yang pasti datang, di lain pihak penduduk Mesir Kuno justru berdoa kepada Hapi, Dewa Sungai Nil, agar banjir ini segera datang. Begitu besarnya hubungan antara keberlanjutan kehidupan Mesir dan Sungai Nil, penduduk Mesir Kuno menjadikan bulan mereka mulai bercocok tanam setelah banjir datang sebagai perayaan Tahun Baru. Penduduk Mesir menjadikan sungai tersebut sebagai lambang kehidupan dan kehidupan setelah mati.

Alasan mengapa kuil-kuil, lahan penguburan, dan bahkan Piramid ditempatkan di area sebelah barat Sungai Nil, adalah karena Timur merupakan arah terbitnya matahari yang menandakan kelahiran dan kehidupan, sementara Barat adalah letak matahari mengakhiri tugasnya yang menandakan kematian. Tanpa Sungai Nil, mustahil bagi Mesir untuk dapat mengembangkan pertanian dan peradabannya hingga seperti hari ini. Kini seiring bertambahnya populasi dan perubahan kondisi Mesir, Sungai Nil dikelola dalam Aswan High Dam. Selain berfungsi menampung air untuk irigasi dan PLTA, bendungan ini dimaksudkan untuk mengatur luapan banjir tahunan agar sesuai dengan kebutuhan. Kebijakan ini membuat Mesir dapat menghindari kerugian yang mungkin mereka alami jika luapan air terlalu besar, juga dapat menyimpan jumlah air yang berkelebihan ketika banjir tahunan datang untuk digunakan ketika musim kering.

Setelah kuliah yang panjang mengenai sejarah Sungai Nil, tur saya dilanjutkan dengan menaiki sebuah kapal besar yang interiornya telah dirombak habis menjadi restoran, di sini saya akan makan siang sambil menikmati kapal ini bergerak menyusuri aliran Sungai Nil. Ketika santapan saya telah sampai kepada Umali, makanan penutup khas mesir berupa puding roti yang juga berisi taburan kelapa bubuk, krim, pistachio, dan juga kismis akhirnya munculah atraksi yang telah saya nanti-nantikan: Belly Dance. Gerakan torso yang lincah, penentuan timing yang tepat untuk menebarkan pesona lewat senyum, lirikan, dan gestur, menandakan tingkat kemahiran dalam menguasai tarian khas Timur Tengah ini.

Suara gemerincing yang empuk dari untaian perhiasan di tubuh para wanita penari, juga lekuk tubuh mereka yang sedikit gemuk, ditambah kenikmatan aroma buah yang merambah memenuhi indra penciuman dari shisha yang saya hisap, membuat Belly Dance terasa seperti alunan yang relaxing and earthy.  Jika jumlah kelompok bepergian Anda tidak cukup banyak untuk meminta atraksi ini disuguhkan di hadapan meja Anda, beberapa kafe diantara yang berjajar di sepanjang Grand Bazaar juga menyuguhkan atraksi Belly Dance.

Keesokan harinya, saya mengunjungi Egyptian Museum atau juga disebut Museum of Cairo. Museum ini adalah rumah bagi lebih dari 120.000 koleksi antik dari peradaban Mesir Kuno. Sayangnya di dalam museum ini pengunjung tidak diperkenankan untuk memotret, padahal kemegahan eksteriornya yang seperti benteng pertahanan dikolaborasikan dengan Pentagon, juga kemewahan interiornya yang gemerlap dan ornamental, sangat cocok sebagai tempat untuk menyimpan seluruh benda historis sejak masa Raja Tutankhamun yang masih terwariskan hingga detik ini.

Koleksi yang ada di museum ini sangat membuat saya bingung karena ketidakmungkinannya, bagaimana mungkin ada ketelitian, kekuatan,  dan kesabaran selevel itu hingga membuat benda-benda seperti ini tercipta. Mulai dari perhiasan dengan detail ukuran mikro, kereta kuda besar yang dilapisi emas, hingga sebuah tekstil yang nampak ditenun dengan helai demi helai benang tipis, satu persatu dengan tangan, di zaman ketika teknik menjahit belum dikenal oleh negara ini. Bagian menarik lainnya dari museum ini adalah The Royal Mummy Room, ruangan yang menyimpan 11 mumi dari royal family ketika zaman Pharaoh.

Di hari berikutnya, saya akan mengunjungi beberapa Masjid bersejarah yang banyak tersebar di Kairo. Pertama, saya mengunjungi Masjid Ibn Tulun, salah satu masjid tertua di Kairo. Masjid ini terletak di atas perbukitan kecil bernama Gebel Yashkur, yang berarti “The Hill of Thanksgiving”. Banyak legenda lokal yang mengatakan bahwa sesungguhnya bahtera Nuh berhenti disana ketika bencana air bah usai, bukan di puncak Gunung Ararat. Masjid Ibn Tulun dikeliligi oleh tembok yang tinggi dan tebal, diantara bangunan utama dan tembok ini terdapat area halaman yang sangat luas dan pahatan kaligrafi yang terdapat di setiap sudut dinding.

Saya melanjutkan perjalanan menuju ke Masjid Muhammad Ali yang berada di dalam Benteng Saladin yang merupakan suatu kompleks bangunan yang dikelilingi tembok tinggi yang didalamnya terdapat masjid, museum serta istana yang didirikan oleh Sultan Saladin pada 1176 ketika terjadi Perang Salib untuk melindungi dari pasukan salib. Kompleks benteng ini juga terletak di sebuah bukit yang tinggi di bukit Mokattam yang terletak dekat dengan pusat kota Kairo.

Masjid Muhammad Ali itu sendiri merupakan bangunan dengan posisi tertinggi dibandingkan bangunan lain di kompleks ini. Tinggi dan lapang, menjadikan tempat ini sangat menenangkan untuk melihat ke arah pusat kota Kairo dari ketinggian. Sedangkan interior masjid ini sangat indah, dengan dekorasi pahatan kaligrafi di setiap sudut dinding dan atapnya, serta langit-langit ruangan dihiasi oleh ratusan lampu gantung yang terangkai dengan indah mengisi ketinggian ruangan. Saya menyempatkan diri untuk beribadah di sini dan merasakan kesyahduan suasana keseimbangan antara kemegahan duniawi dan kebesaran Ilahi.

Saya memperhatikan, meskipun secara umum terlihat modern, tetapi sebenernya mayoritas bangunan di kota Kairo adalah bangunan tua. Bahkan mobil-mobil yang beroperasi di sini adalah mobil-mobil tahun ‘60–’70an dalam keadaan yang juga sudah nyaris masuk tempat daur ulang. Namun vibrasi yang dipancarkan dari kota berumur veteran ini sangat selaras dengan warna yang membias dari hamparan perkotaan. Warna tanah dan pasir.

Bangunan-bangunan berbentuk kotak megah dengan minaret yang elegan nampak seperti menyeruak begitu saja dari tanah akibat selimut warna coklat senada yang melapisi keduanya; Warna langit sore yang kemerahan seperti batu bata; Sinar matahari nampak keemasan menyentuh garis horizon di tengah Sungai Nil; Debu gurun yang mengambang di udara membentuk tirai kuning transparan; Semuanya tampak gersang namun membangkitkan perasaan rindu. Beruntunglah tidak ada subway di Kairo, untuk apa saya melaju di lorong bawah tanah jika saya bisa melihat tanah yang tumbuh harmonis di bawah cakrawala berpadu dengan keemasan cahaya matahari.

Teks & Foto: Aditya Arnoldi

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON