Being Moyo

Being Moyo
View Gallery
5 Photos
Being Moyo
Pulau Moyo

Being Moyo
Pulau Moyo

Being Moyo
Pulau Moyo

Being Moyo
Pulau Moyo

Being Moyo
Pulau Moyo

Dari Pelabuhan Muara Kali di Sumbawa Besar, diperlukan waktu sekitar dua jam perjalanan menggunakan kapal nelayan untuk menuju Pulau Moyo. Beruntunglah saya dan tiga kawan sudah terlebih dahulu menghubungi Pak Solehudin, kepala desa di Pulau Moyo, sehingga kami mengetahui jadwal kapal yang hanya menyeberang satu kali dalam satu hari. Selama dua jam mengobrol dengan orang-orang yang ikut naik di atas kapal kecil beratap terpal biru ini, saya sadar bahwa kebanyakan dari mereka ternyata memang penduduk asli Pulau Moyo yang berangkat ke pusat kota setiap pagi untuk membeli kebutuhan memasak dan berternak. Hanya saya dan kawan-kawan yang merupakan turis di kapal itu, dan di Pulau Moyo yang segera kami tapaki.

Pelabuhan Labuan Aji adalah tanah yang saya injak pertama kali di Pulau Moyo. Kambing-kambing dan sapi-sapi mengembik dan melenguh menyambut kedatangan kami. Desa di tepian pantai ini cukup luas, tetapi sedikit penduduknya, sehingga tidak aneh melihat mereka semua saling kenal. Tatapan dan sapaan yang mereka lontarkan ketika melihat empat wajah baru di tanah air mereka cukup mengejutkan untuk saya. Rasa yang diberikan dari para penduduk bukan seperti tour guide yang menawarkan jasa, bukan preman berbaju sipil yang meminta uang retribusi, bukan pula orang desa yang menelanjangi penampilan orang kota boros harta dari kepala sampai kuku kaki, tapi teman yang menyambut teman lamanya sehabis pulang merantau.

Jika Anda punya bayangan naif deskripsi sebuah desa dari buku pelajaran bahasa Indonesia Sekolah Dasar, itulah desa di Pulau Moyo. Mereka hidup berdampingan, membagi-bagi rezeki dengan membagi lapangan pekerjaan tanpa berebut. Siapa yang membuka warung rokok, siapa yang sebaiknya mengelola ojek motor, siapa yang mendampingi tamu-tamu yang datang ke desa, siapa yang bekerja sebagai awak kapal, siapa yang boleh membuka pintu rumahnya untuk tempat menginap para turis, siapa yang dimufakati menjadi penasihat desa. Saat itu, saya sudah tahu ketika nanti tiba waktunya beranjak pulang dari tempat ini, there’s gotta be mixed feeling, a good one.

Lupakan dulu nanti, sekarang keinginan saya adalah berbahagia menjelajah pesona Moyo. First thing first, menyapa Pak Solehudin di rumahnya. Kami menaruh barang-barang di sana, sembari mendengarkan ia yang dengan bangga bercerita tempat-tempat indah di Pulau Moyo. Saya menjadi tambah bersemangat ketika nama-nama tempat itu sama dengan nama yang ada di itinerary saya. Terdengar suara klakson motor di luar rumah Pak Solehudin. Seorang laki-laki setengah baya, dua laki-laki muda, dan satu anak laki-laki yang akan mengantar kami menjelajah tiba. Bikini sudah ada di bawah tees putih, sunblock sudah dioleskan tebal-tebal, naik motor offroad, dan saya tidak bisa lebih siap lagi.

(to be continued)

 

Teks: Astri Primasari / Foto: Aditya Arnoldi

Find out where to go in Pulau Moyo inside our Volume XCV “The Universart Issue”!

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON