Beauty of the Intangible

Beauty of the Intangible
View Gallery
4 Photos
Beauty of the Intangible
Kinez Riza in Givenchy

Photographer: Narya Abhimata

Stylist: Perkasa Kusumah Putra

Ast. Stylist: Gauzan Bustami

Make-up Artis & Hairstylist: Ifan Rivaldi

Beauty of the Intangible
Kinez Riza in Ellery with Givenchy fur

Photographer: Narya Abhimata

Stylist: Perkasa Kusumah Putra

Ast. Stylist: Gauzan Bustami

Make-up Artis & Hairstylist: Ifan Rivaldi

Beauty of the Intangible
Kinez Riza in Ellery

Photographer: Narya Abhimata

Stylist: Perkasa Kusumah Putra

Ast. Stylist: Gauzan Bustami

Make-up Artis & Hairstylist: Ifan Rivaldi

Beauty of the Intangible
Kinez Riza in Ellery

Photographer: Narya Abhimata

Stylist: Perkasa Kusumah Putra

Ast. Stylist: Gauzan Bustami

Make-up Artis & Hairstylist: Ifan Rivaldi

Seni merupakan hal yang subjektif. Seni merupakan hal yang dekat dengan persepsi tiap individu. Tak ada definisi secara kongkrit atas arti seni.

Kinez Riza merupakan seorang seniman yang menampilkan fragmen dirinya lewat fotografi. Dia tak hanya membuat saya sempat kebingungan dengan pertanyaan yang ingin saya lontarkan, tapi juga membuat saya tak henti terkagum dengan cara pandang dan pengetahuannya mengenai seni. Mungkin itulah keindahan pribadi yang memahami hal yang tidak memiliki tolak ukur. Semakin Anda berusaha mendalami, semakin pula Anda mendapati beragam emosi; kebingungan, rasa ingin tahu, dan banyak apresiasi terhadap keindahan yang belum terungkap. Kinez Riza will let you unfold the beauty of her world and educate you to learn our world from a different kind of view.

 

Bagaimana hingga awalnya tertarik dengan dunia seni?

Sebenarnya aku sudah tertarik dengan seni rupa dari kecil. Mendapat panggilan seniman baru tahun 2012 dan memulai karier dari tahun 2007. 

Dulu saat kuliah mengambil fokus seni apa?

Dulu kuliah ambil visual komunikasi tapi hasilnya selalu fotografi. 

Bisa sampai akhirnya memilih profesi di bagian seni itu bagaimana prosesnya?

Aku sudah membangun suatu badan karya selama lima tahun, baru aku datangi galeri di Barito. Setelah itu, aku tanya ini (badan karya Kinez –Red.) bisa dimasukkin ke dalam lingkungan seni rupa kontemporer, enggak? Kata mereka bisa, bisa banget, dan mulai diakui secara profesional.

Apa fokus estetika Kinez dalam menciptakan karya fotografinya?

Yang penting, kan, kontes, ya. Konteks aku itu alam, waktu, dan sublim. Dari situ, baru kita bisa menghidangkan dari segi estetika.

Sekarang orang bilang semua hal dapat dinyatakan sebagai art. Semua bisa pakai embel-embel art, seperti contohnya the art of dating….

Enggak juga. Art itu, kan, suatu metode representasi. Berarti, the art of dating suatu metode representasi dalam dating. Jadi, ada seninya dalam approaching sesuatu.

Kalau menurut Kinez, art itu apa?

Representasi, visual representasi.

Kalau melakukan foto, objek apa yang biasanya ditangkap oleh Kinez?

Konteks aku, ,kan alam, waktu, dan sublim. Alhasil, practice aku, tuh, jadinya aku suka pergi ke antah berantah karena itu alam kemudian aku bekerja sama dengan tim-tim arkeologi Indonesia. Itu ada konteksnya dengan waktu dan sublim. Itu representasinya dari waktu dan alam.

Pernah tidak menyimpang dari konteks sublim?

Ujung-ujungnya, walaupun aku ada konteks dan tema, itu, kan, garis besar. Di bawahnya banyak subkonteks. Jadi, misalnya seorang seniman bisa menyebutnya fotografer, tapi hasil karyanya bukan fotografi. Garis besar itu tidak menjadi patokan yang literal. 

Bisa tidak dibedakan Kinez sebagai fotografer dan Kinez sebagai seniman?

Fotografi ada aliran seni rupanya juga. Jadi, bukan berarti aku fotografer karena aku pakai kamera. Hasil dari yang aku buat memiliki konteks-konteks tertentu. Seperti misalnya fotografer fashion. Alirannya fashion, kan?

Merasa kesal dengan orang-orang yang menyebut dirinya fotografer hanya karena memiliki kamera bagus?

Enggak juga, ya. Kan, tiap orang punya kesempatan untuk mendirikan pendirian masing-masing. Mau dia mengeksplorasi identitasnya dengan menyebut dirinya fotografer dengan memiliki tool fotografi, ya, enggak apa-apa. Tapi, kalau untuk aku pribadi, ya, fotografi itu aku ambil dengan serius.

Berarti tergantung dari persepsinya?

Ya, dan kita, kan, harus konsolodasi our own practice. The more we consolidate our own practice, terlihat dari karyanya sendiri. Misalnya aku ikut pameran residensi, sering diskusi dengan kurator dan seniman-seniman lainnya. Dari situ, ada suatu badan, kan, perkembangan. Makanya, disebut fotografer kontemporer, tuh, dari situ.

Dulu mendapatkan title sebagai seniman, sebutan dari Kinez sendiri atau didapat dari orang-orang lain?

Kita, kan, hidup di dunia literal, yaitu terpaku dalam kata-kata. Ya, dalam masa kini, tuh, kita menyebutnya seniman.

Tapi Kinez sendiri menyebut diri kamu sebagai?

Ya, itu adalah ekstensi daripada diri aku sendiri. Kalau dalam seni rupa, kan, alhasil namanya seniman. Tapi, kalau aku, bisa tidak terlalu literal, sih, ekstensi dari diri aku sendiri. 

Aku sebenarnya penasaran bagaimana caranya memberikan harga pada seni, karena, kan, tiap karya selalu memiliki harga yang menjulang….

Pertama, kan, ada production value yang jelas-jelas menyangkut banyak equipment, biaya untuk pergi ke mana. Kemudian, ada printing. Ini bukan kertas biasa. Bukan kayak photo paper biasa. Ini foto arsip dengan tinta arsip. Jadi, karya-karya ini bisa awet sampai 250 tahun kalau dirawat dengan baik. Di luar itu, kita harus membangun nilai budaya sendiri. Misalnya kalau aku sudah berpartisipasi dalam pameran, berarti aku punya nilai budaya karena aku punya dampak, impact. Baru habis itu dinilai. 

Sebenarnya enak tidak, sih, menjadi seorang seniman, karyanya dapat dihargai setinggi mungkin?

Enggak juga. Membuat karya mahal itu sama sekali enggak gampang. Dan, seni itu tidak dipatokan dengan harga. Harga itu, kan, bagian komersil, dan komersil itu menyangkut dengan galeri, art market, dan kalau senimannya sendiri itu memikirkannya 50:50-lah. Enggak full. Enggak gampang jadi seniman.

(to be continued)

 

Teks: Syazka Narindra / Foto: Narya Abhimata

 

Read the full interview in our Volume XCV “The Universart Issue”!

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON