A Long Way Home

A Long Way Home
View Gallery
4 Photos
A Long Way Home
Funeral Parlor © Muñoz Miranda Arquitectos

A Long Way Home
Funeral Parlor © Muñoz Miranda Arquitectos

A Long Way Home
Funeral Parlor © Muñoz Miranda Arquitectos

A Long Way Home
Funeral Parlor © Muñoz Miranda Arquitectos

Kepulangan jiwa kepada Sang Pencipta terkawal suasana sunyi dan sederhana. Sesunyi perjalanan menuju kembali pada-Nya. Sesederhana waktu yang pernah dimiliki di dunia.

Tiap manusia melalui fase yang sama dalam kehidupan. Bumi hanya menjadi tempat persinggahan sementara dan pada akhirnya Tuhan adalah tempat kembali yang sempurna. Tak seorang manusia pun yang luput dari maut. Semua sama, hidup kemudian wafat.

Hanya saja, yang kerap membedakan ialah proses dan tempat perpisahan antara yang meninggalkan dan yang ditinggalkan. Semisal nun jauh di wilayah Murtas, Spanyol, masyarakatnya mengandalkan rumah duka Funeral Parlor sebagai tempat perpisahan.

Satu rumah duka yang bermukim di wilayah perbukitan tersebut merupakan hasil kerja tim yang dipimpin arsitek kelahiran negara setempat, bernama Alejandro Muñoz Miranda. Tahu bahwa perpisahan merupakan sesuatu yang sakral, mereka menggarapnya dengan serius demi memberi kesan dan pelajaran berarti bagi orang-orang yang ditinggalkan.

 

Bumi dan Langit

Bangunan yang rampung dikerjakan tahun lalu ini tampak jauh dari kesan modern nan futuristik. Pun tak tampak serupa dengan bangunan di sekitarnya. Tetapi, sosoknya cukup mewakili identitas Murtas yang dikenal gemar berkelut pada beberapa goa populer. Terlebih dengan penggunaan batu kasar sebagai material pembungkus bangunan.

Tanpa ingin terlihat dominan, ukuran dan tinggi konstruksi dibuat sewajarnya. Tidak besar dan tidak tinggi menjulang karena yang terpenting bukanlah bentuknya, tapi manfaat yang diberikan untuk masyarakat setempat.

Dengan adanya rumah duka ini, mereka yang ditinggalkan dan sedang berduka bisa mendapatkan suasana tenang di tengah berbagai rasa yang hadir dalam fase tersulit dalam hidup mereka.

Lebih dari itu, rancangan bangunan menggambarkan perjalanan panjang menuju surga menjadi lebih penting dibanding momen perpisahan itu sendiri. Bahkan, proses perjalanan itulah yang menjadi ide utama dari rancangan arsitektur karya tim Muñoz Miranda Arquitectos ini.

Hanya butuh satu elemen bagi mereka untuk menampilkan pesan yang ingin disampaikan. Melalui rancangan langit-langit bangunan, mereka memahat bentuk lingkaran yang terbagi dalam ukuran besar dan kecil. Ketika terpapar sinar matahari, kedua lingkaran tersebut akan membentuk sebuah gerhana cincin.

Penampakan itu hanya bisa disaksikan dari dalam bangunan yang terbagi menjadi satu ruang utama dan satu ruang tertutup. Sesuai namanya, ruang tertutup dibuat untuk menampung segala hal yang bersifat privat, seperti tempat untuk meletakkan peti dan sebagai lokasi bilik toilet.

Kontras dengan ruang tertutup, publik dapat lebih leluasa mengakses ruang utama. Ruang yang menjadi komponen esensial dari bangunan ini memperlihatkan kesan lapang dan bersih berkat pulasan warna putih di sekeliling dindingnya. Pengaplikasian kaca di sebagian sisi atapnya juga menambah kelapangan ruangan karena rongga masuknya cahaya yang lebih besar dibanding ruang tertutup.

Selain menampilan efek yang dramatis, rancangan “gerhana cincin” memberikan makna khusus yang menjadi nyawa dari bangunan seluas 82 meter persegi ini. Keberadaannya diandaikan sebagai penyatuan bumi dan langit yang tampak berjarak, walau sesungguhnya saling berpautan.

Bumi menjadi tempat lahir, hidup, dan tiadanya seorang manusia. Hingga masanya usai, manusia akan kembali kepada Sang Pencipta menuju surga yang sering ditafsirkan berada di langit. Lorong raksasa ini diibaratkan sebagai jalur pendakian manusia menuju keabadian surga.

Bagi saya, lorong itu juga menjadi jalur istimewa untuk jalannya doa-doa yang dipanjatkan bagi keselamatan orang yang kita sayangi, tapi Tuhan tentu akan lebih menyayangi.

Teks: Erin Widyo Putri / Foto: Dok. Muñoz Miranda Arquitectos

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON