A Carafe of Raf: An Ode to my Favorite Designer

A Carafe of Raf: An Ode to my Favorite Designer

Jika saya boleh memilih hanya satu dari sekian banyaknya desainer yang ada di dunia ini, satu desainer yang menjadi favorit saya sepanjang masa, dengan penuh kepastian saya akan menjatuhkan pilihan saya kepada desainer asal Belgia yang telah melegenda, Raf Simons. Tidak ada desainer lain yang lebih berpengaruh kedalam selera dan juga cara pandang saya terhadap dunia mode selain dia. Kerap kali di cap sebagai one of the greatest designer ever, Raf Simons adalah seorang visioner; the person who single-handedly helped the shaping of modern menswear. Tanpa influensinya, akan banyak unsur-unsur pakaian pria yang hilang dari tren abad 21.

Kecintaan Raf terhadap dunia mode pun terlahir ketika ia menjadi seorang intern di rumah mode Walter van Beirendonck selama beberapa tahun. Van Beirendonck, seorang desainer legendaris lainnya (yang juga menjadi bagian dari kolektif Antwerp Six) membawa Raf untuk menghadiri minggu mode di Paris. Pagelaran mode Martin Margiela menjadi show pertama yang disaksikannya. Show ketiga Margiela yang diadakan di sebuah taman bermain di daerah kumuh Paris lah yang merubah persepsinya terhadap fashion dan menginspirasikan ia untuk beralih menjadi seorang desainer mode. Di tahun 1995, ia pun menampilkan koleksi pertamanya yang berupa presentasi video.

Sebagai seorang industrial and product desainer, pendekatan seorang Raf Simons terhadap dunia mode pun tentu berbeda. Hal tersebut pun dapat dilihat dari nyaris seluruh koleksinya, yang memiliki aspek arsitektural, dengan garis-garis sharp berstruktur yang menjadi ciri khas nya. Rancangan-rancangan beliau dari rumah mode nya pun menjadi produk-produk incaran para pecinta mode dunia. Bukan hanya itu saja, sejumlah rancangannya dari koleksi musim semi dan panas tahun 2000 hingga musim gugur dan dingin tahun 2003 menjadi sebuah benda langka yang seringkali di jual hingga puluhan ribu dollar. It’s not about the price of it, it’s about finding the very rare pieces and owning a piece of Raf’s vision that makes it very hard to obtain.

Kedekatan Raf terhadap dunia seni pun juga menjadi faktor lainnya yang membuat saya jatuh cinta padanya. Seringkali ia berkolaborasi dengan para seniman ternama untuk menciptakan sebuah koleksi yang seolah mendobrak batasan antara seni dan mode. Hal tersebut pun dimulai ketika ia diberi akses penuh terhadap karya-karya Peter Saville, seorang desainer grafis legendaris yang menjadi pengaruh besar tumbuhnya band asal Inggris, Joy Division (yang kemudian dikenal dengan New Order) di tahun 80an. Ia pun mengambil sejumlah karya Saville yang paling terkenal dan menginkorporasikannya ke dalam beragam pakaian untuk koleksi musim gugur dan dingin 2003 yang diberi nama “Closer”.

Hal tersebut pun dapat ditemukan lagi di koleksi-koleksi selanjutnya, yang dengan sangat jelas dapat ditemukan inspirasi-inspirasi dari berbagai art movement, architecture style dan seniman. Seperti contohnya koleksi spring-summer 2008 yang mengambil unsur gaya arsitektur de Stijl dan juga karya seni Piet Mondrian. Koleksi tersebut pun juga dikuti dengan koleksi fall-winter 2008/2009 yang mengambil sejumlah karya Mark Rothko, yang kemudian digubah menjadi sejumlah mohair sweater. Belum lagi koleksi-koleksi rancangannya yang digubah berkolaborasi dengan seniman-seniman seperti Brian Calvin, Sterling Ruby dan Franky Claeys. Seluruh karya Raf Simons bukanlah hanya pakaian semata, namun sebuah karya seni rupa; a wearable art.

Hal tersebut hanyalah sejumlah contoh yang menjadikan beliau sebagai desainer favorit saya. Seringkali saya membayangkan dunia tanpa Raf Simons; tak akan ada garis desain pria yang sleek dan oversized, tak akan ada gaya berpakaian yang menggabungkan kebebasan 90s youth culture dan modern tailoring. Bukan hanya itu saja, tanpanya, tak akan ada rumah mode Jil Sander yang minimalis dan modern dan juga garis desain modern rumah mode Dior yang seolah menghidupkan kembali esensi new-look legendarisnya. The world will be a much bleaker, sadder place without Raf Simons; and I think that is a good enough reason for me to call him my favorite designer ever.

Teks: Perkasa Kusumah Putra / Foto: Dok. Spesial

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON