5 Short Books To Read This Month!

Bibliophile: a lover of books especially of qualities or format.Merriam-Webster.com


Definisi dari Merriam-Webster di atas tampaknya sangat tepat untuk menggambarkan para bookworm yang hidupnya memang selalu dipenuhi dengan buku. Saya salah satunya. Kami tidak jauh dari adanya buku dalam genggaman. Jika ada banyak orang yang gemar menghabiskan uang untuk berkuliner ria atau untuk membeli fashion items terbaru, maka jujur, sebagian besar dari gaji yang kami terima justru habis untuk berbelanja buku.

Namun, tentu di tengah sibuknya pekerjaan, kini kita kerap sulit mendapatkan waktu luang untuk membaca buku. Kalaupun mau memaksakan diri, mungkin kita bahkan harus mengorbankan waktu tidur atau waktu lainnya untuk sekadar menjalankan hobby tersebut.

Tapi bagi Anda yang memang suka atau setidaknya ingin kembali menjawab gejolak keinginan membaca, berikut ini terdapat beberapa buku menarik dengan ksiah singkat yang tidak akan banyak memakan waktu. You can just read happily and be awed by them!

1. “How We Weep and Laugh at the Same Thing” oleh Michel de Montaigne

Buku dengan genre filosofis ini saya rekomendasikan sebagai bacaan singkat Anda. Meski pendek, kisahnya tetap bermakna. Karena menurut saya, seringkali di tengah kesibukan dan rutinitas kita sehari-hari, kita lupa untuk berhenti sejenak dan berpikir akan hal lain dalam hidup other than just our job, career, and money. Buku ini terdiri dari enak short essays mengenai kontradiksi filosofi, di mana kata-kata sungguhlah tidak ada artinya jika tidak ada aksi nyata dari manusia. Tenang saja, essay dalam buku ini tetap ringan dan mudah dimengerti.

 

2. “Only Dull People are Brilliant at Breakfast” oleh Oscar Wilde

Oscar Wilde merupakan seorang penulis yang lahir pada tahun 1854 dan wafat pada tahun 1900. Maski terkesan sangat ‘jadul’, believe me, it’s still really relevant to any situations in modern age! Beberapa kali saat membaca buku singkat ini yang berisi kutipan dari Oscar Wilde, saya terheran-heran. Topik yang diangkat mulai dari hidup, pernikahan, persahabatan, dan banyak topik lainnya  masih sangat relevan dengan kehidupan kita di era digital sekarang ini.

 

3. “My Life Had Stood A Loaded Gun” oleh Emily Dickinson

Bagi Anda yang sudah terbiasa membaca puisi atau gemar membaca, mungkin sudah tidak asing lagi dengan nama Emily Dickinson. Buku mini ini berisi beberapa puisi ikonik dari wanita kelahiran Massachusetts, Amerika Serikat,1830 tersebut. Selama hidupnya, Dickinson menciptakan sekitar 1.775 puisi, dan puisi-puisi terbaiknya dimuat dalam buku “My Life Had Stood A Loaded Gun” ini.

 

4. “On The Shortness of Life” oleh Seneca

Buku ini merupakan salah satu buku dengan tema Stoicism. Buku yang ditulis pada masa sebelum masehi ini, juga tetap relevan dan mungkin akan terus relevan untuk kehidupan digital mendatang. Saat ini mungkin di tengah kesibukan, kita merasa bahwa waktu yang kita miliki selalu kurang, namun buku ini menyadarkan kita untuk memprioritaskan hal penting dalam hidup, yaitu untuk menikmati kehidupan itu sendiri.

 

5. “The Grownup” oleh Gillian Flynn

Apakah Anda sudah menonton sebuah film fenomenal berjudul “Gone Girl”? Gillian Flynn merupakan penulis dari cerita film tersebut. Gillian Flynn selalu membuat saya terkagum dengan plot twist yang tidak pernah tertebak. The Grownups merupakan sebuah cerita singkat horror mengenai seorang perempuan yang meyakini bahwa ada sesuatu yang aneh dengan anaknya dan kemudian berkonsultasi kepada seorang cenayang. Di tengah kekhawatiran bahwa anaknya akan membunuhnya, ternyata apa yang terjadi berikutnya sungguh di luar dugaan. If you enjoy a little brain teaser combined with a little thriller to keep you awake in the week, then this book is for you!

Happy reading!

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON