3142 Mdpl

3142 Mdpl
View Gallery
9 Photos
3142 Mdpl

3142 Mdpl

3142 Mdpl

3142 Mdpl

3142 Mdpl

3142 Mdpl

3142 Mdpl

3142 Mdpl

3142 Mdpl

Suburnya Sabana Gunung Merbabu dan Petualangan Menginjak Kenteng Songo.

Diantara puluhan gunung yang ada di Indonesia, Gunung Merbabu termasuk salah satu gunung yang memiliki pemandangan indah. Gunung yang terkenal dengan keasrian sabananya ini memang tidak pernah kekurangan pesona. Katanya jika ke Gunung Merbabu, maka 80% akan terkena badai. Medannya tidak terlalu berat, namun potensi bahaya yang harus diperhatikan pendaki cukup tinggi, mulai dari udara dingin, kabut tebal, hutan yang lebat tapi homogen (hutan tumbuhan runjung yang tidak cukup mendukung sarana bertahan hidup atau survival), bahkan hingga ketiadaan sumber air.

Pendakian diawali dari Desa Selo, Boyolali, Jawa Tengah, yakni desa kecil yang terletak di lereng gunung Merbabu. Udara sejuk dan pemandangan kokohnya raut gunung merapi menyambut kami pagi itu. Terdapat beberapa basecamp untuk disinggahi sembari menyiapkan peralatan dan logistik lainnya. Sebelum memulai pendakian, semua pendaki wajib melaporkan data dirinya di posko, serta membayar uang pemeliharan Taman Nasional Gunung Merbabu sebesar Rp10.000/orang.

Setelah berjalan 100 meter diatas aspal, kami disambut dengan sebuah Gapura bertuliskan, “Selamat Datang di Jalur Pendakian Selo” yang menandakan inilah starting point untuk menginjak sang puncak. Aspal yang berubah menjadi tanah dengan vegetasi hutan tertutup menemani perjalanan kami. Mengatur ritme antara langkah kaki dan tarikan napas adalah kunci utama dari sebuah pendakian. Semua akan terasa lebih lelah ketika di awal, ibarat badan kita seperti sebuah motor yang baru di starter dan butuh pemanasan untuk kemudian akan beradaptasi dengan sendirinya.

Dibutuhkan waktu satu jam untuk tiba di Pos I, berjalan satu jam, istirahat lima menit, sepertinya memang tubuh ini tidak boleh terlalu banyak dimanja, karena jika terlalu banyak istirahat, sistem tubuh kita akan mengulang semuanya, sehingga yang tadinya sudah mulai beradaptasi, akan diminta untuk kembali memulai semua dari awal. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Pos II yang terselesaikan dalam waktu yang lebih singkat. Empat puluh lima menit yang tak terasa lelah seperti sebelumnya berkat canda tawa, serta saling sapa dengan para pendaki lain ketika berpapasan.

Hari pun semakin sore dan kabut mulai turun dari singgasananya di atas awan. Suara gemuruh petir mulai terdengar ditemani rintik gerimis yang kami tidak sadari semakin lebat jatuh diatas kepala. Trek tanah yang tadinya bersahabat kini berubah menjadi licin, canda tawa berubah menjadi uluran tangan dan teriakan rasa lega atas keberhasilan melalui sebuah tanjakan terjal yang harus dilalui dengan bantuan tangan merayap pada dahan atau ranting pohon.

Perjalanan Pos II ke Pos III kami lalui di dalam perlindungan sebuah mantel hujan. Diantara tiga pos sebelumnya, perjalanan dari Pos II ke Pos III adalah yang paling berat dan panjang dengan waktu tempuh normal kurang lebih 1 jam 50 menit. Sudut kemiringan 30 derajat celcius tentunya bukan hal yang mudah untuk dilalui, ditambah pula dengan rintik gerimis yang semakin deras. Dalam perjalanan ini, akan ditemukan sebuah persimpangan dimana saat itu kami salah memilih jalan. Kami tiba begitu cepat dari akurasi waktu normal. Hanya dalam waktu tempuh 1 jam 20 menit kami sudah tiba di Pos III (Watu Tulis). Tertawa bangga atas pencapaian berjalan cepat, grup pendaki lain menyusul di belakang tetapi muncul dari jalan berbeda dengan kami. Langsung saja kami bertanya, “Mas, kok munculnya lewat situ?”

“Lho kan ini memang jalan normalnya, kalau yang lewat sana (menunjuk ke trek yang kami lewati) lebih pendek tapi jalurnya lebih terjal,” jawabnya.

Akhirnya semua teka-teki kenapa kita harus bersusah payah berjalan ala spiderman merayap sana sini dan bertumpu pada dahan pohon terjawab sudah. “Kita lewat jalan shortcut !”

Jalur pendakian dari Pos III menuju Pos Sabana I sudah mulai terbuka, sudah tidak ada lagi pohon menjulang tinggi. Daratan berubah menjadi padang sabana luas dengan rerumputan hijau yang subur. Pada perjalanan pendakian Gunung Merbabu, apabila sudah menginjak padang sabana, maka perjalanan sudah hampir sampai ke pos terakhir untuk menuju puncak. Tiga puluh menit dilalui hingga sampai pos sabana I, angin semakin kencang berhembus dikarenakan keberadaan kita di padang rumput lepas. Salah satu hal yang harus diperhatikan ketika mendaki Gunung Merbabuadalah bentuk lahannya yang botak karena vegetasi, sehingga gemuruh angin akan sangat terasa begitu kencang. Hal ini sangat berpengaruh ketika kita memilih lahan untuk mendirikan tenda, pilihlah yang tidak berhadapan langsung dengan arah embusan angin.

Setelah selesai mendirikan tenda di Pos Sabana II, kami pun lekas mengeluarkan bekal logistik untuk dimasak. Semakin malam hujan turun semakin lebat, segelas teh manis hangat hanyalah satu-satunya yang bisa menghangatkan sidik jari kami. Walau badan sangat lelah, namun hujan begitu deras seperti tidak mengizinkan kami untuk terlelap begitu dalam, hingga kami harus bangun sebelum matahari tebit untuk menyaksikan sunrise di puncak tertinggi Gunung Merbabu.

Ternyata, perjalanan dari pos camping terakhir menuju sang puncak tidak berjalan mulus. Waktu tempuh yang seharusnya bisa dilalui hanya dalam 1 jam 30 menit berubah menjadi 2 jam 30 menit. Badai di pagi hari yang menghentikan langkah kami di tengah perjalanan. Belum pernah saya merasakan hembusan angin yang sangat kencang dan melemahkan kuda-kuda saya. Akhirnya kami memutuskan untuk bersembunyi di cekungan jalan yang cukup dalam (terlihat seperti selokan) untuk menghindar dari angin.

Semua tertutup kabut dengan jarak pandang hanya delapan meter, pendaki yang menuju puncak pun hanya terlihat beberapa. Kami berhenti selama 30 menit menunggu badai berlalu untuk melanjutkan perjalanan. Sayangnya satu dari kami tidak kuat dengan hawa dingin yang menusuk, sehingga memutuskan untuk turun ditemani salah satu dari kami lainnya. Tiga dari lima akhirnya berhasil mencapai puncak tertinggi Gunung Merbabu, Kenteng Songo 3142 mdpl.

Rasa bangga yang amat sangat ketika berhasil menginjak puncak tertinggi sebuah gunung, khayalan atas sebuah negeri khayangan di atas awan sudah terngiang di pikiran. Namun ternyata, sebuah negeri nan indah tersebut tidak nampak, pekat terselimuti kabut. Kami menunggu hingga dua jam di puncak berharap akan terbukanya sang kabut, namun sepertinya, ini pertanda bahwa kami harus kembali ke sini lagi di lain waktu untuk melihat singgasana Sang Kenteng Songo.

Keindahan pemandangan yang ditawarkan dari pendakian sebuah gunung pasti sudah banyak diketahui banyak orang. Tapi tetap, gunung bukanlah sebuah tempat yang bisa dipandang sebelah mata. Bukanlah sebuah tempat untuk mewadahi keriangan sementara tanpa pertanggung jawaban. Bawa turun kembali sampah kalian ya!

Teks & Foto: Kadek Arini

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Basically, there’s always time to stop and stare at the precious one.

FOLLOW US ON